oleh

Gempa 1969 Menewaskan Ratusan Orang dan Pukkali Malunda “Menghalau” Tsunami

-Stories-4.259 views

GEMPABUMI paling merusak dan memakan banyak korban jiwa adalah gempa yang terjadi pada 23 Februari 1969. Episentrumnya di daerah Tubo, Majene. Korban paling banyak, menurut pemberitaan koran, adanya di Pelattoang hingga Somba. Tapi yang diingat hingga menjadi sebuah legenda sampai sekarang adalah kisah tentang kadhi “pukkali” Malunda menghalau “lembong tallu” (tsunami).

Gempa 1969 Menewaskan Ratusan Orang dan Pukkali Malunda “Menghalau” TsunamiOleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Gempa 1969 Menewaskan Ratusan Orang dan Pukkali Malunda “Menghalau” Tsunami

Pada November 2013, saya melakukan riset dalam rangka penulisan biografi singkat Pukkali Malunda, Muhammad Husain. Mewawancarai anak Pukkali Malunda, Hj. Sy. Adawiah dan Hj. Sy. Bintang serta bibinya atau sepupu dua kali Pukkali Malunda, yakni Hj. Marawwah.
Sama seperti yang dilakukan Pukkali Balanipa K. H. Djalaluddin Gani yang memilih tetap di Tinambung meski sebagian besar masyarakat Tinambung mengungsi, Pukkali Malunda dan sebagian keluarganya tetap bertahan. Sebagian keluarganya dan sebagian besar warga Malunda mengungsi ke perbukitan.

Salah satu alasan utama tetap bertahan adalah pada hari terjadinya gempa salah satu anak Pukkali Malunda, dalam hal ini Sy. Adawiah (informan) sedang di-canring (upacara ketika keluarga calon suami membawa bahan makanan ke rumah calon isteri) dan juga persiapan menyambut hari raya Idul Adha. Karena masih ada warga dan keluarganya berada beberapa meter saja dari garis pantai, dengan niat melindungi Malunda dan masyarakatnya, Pukkali Malunda bergegas masuk mengambil wudhu untuk kemudian berjalan ke arah pantai.

Di badannya menempel baju dan sarung, di atas kepalanya songkok hitam yang dililit handuk (sarung dan handuk masih disimpan oleh salah satu anaknya). Tiba di pantai, Pukkali Malunda membaca doa untuk kemudian mengibaskan handuknya ketika gelombang tsunami akan menghantam Malunda. Berkat restu Allah SWT, “lembong tallu” tersebut terbelah, ada yang mengarah ke tempat lain. Apakah karena upaya itu sehingga minim korban di Malunda dan besar di tempat lain? Wallahualam.

Berdasar arsip NOAA, gempa bumi berkekuatan 6,1 Magnitudo berlokasi di darat, sekitar 8 km dari jembatan Tubo Majene ke arah timur. Gempa bumi menghasilkan tsunami dan gelombang pasang yang menghantam desa-desa pesisir di utara Majene. Tingginya 4 m di Pelattoang dan 1,5 m di Parassangan dan Palipi (Kecamatan Sendana). Sebagian besar terdapat bangunan kayu di desa-desa ini: rumah-rumah di sepanjang teluk tersapu oleh gelombang tsunami. Perkebunan pisang di kawasan pantai rusak. Bongkahan besar tanah batu-batu dari masa Neogen dan batu kapur berjatuhan di jalan di antara Desa Somba dan Parassangan. Terumbu karang pinggir yang hancur muncul ke atas permukaan dan ada yang sampai ke darat. Menurut keterangan saksi mata, terdengar suara gemuruh dari tepi pantai.

Media cetak di Belanda yang pertama kali memuat adalah TUBANTIA, edisi Rabu 26 Februari 1969 halaman 14 (dari 24). Informasinya sangat singkat di rubrik “Kort en Klein”, mirip Kilasan Kawat Dunia di harian Kompas. Terjemahan beritanya, “sedikitnya 20 orang tewas di gempa bumi Sulawesi pada hari Minggu. Kemarin, tim penyelamat di kota Majene menemukan 20 mayat di bawah rumah yang rusak. Dikhawatirkan lebih banyak korban di bawah reruntuhan.”

Versi lebih panjang dimuat koran DE VOLKSKRANT edisi Jumat 28 Februari 1969 halaman 9 (dari 22). Judul artikelnya, Sedikitnya 64 Orang Tewas dalam Gempa Bumi Sulawesi. Adapun saduran beritanya adalah, “JAKARTA, 28 Feb. (Reuter) – Gempa di pantai barat Sulawesi telah menewaskan sedikitnya 64 orang. Tim penyelamat sibuk melacak korban tewas di reruntuhan ibu kota wilayah Majene. Di kawasan yang sama, lebih dari 200 orang tewas dalam bencana serupa Agustus lalu. Dikhawatirkan gempa yang dimulai pada hari Minggu akan merenggut lebih banyak nyawa manusia. Gempa bumi, yang merupakan gempa terparah yang pernah melanda pulau itu sepanjang ingatan, terutama dirasakan di titik menonjol pulau itu di pantai barat dekat Teluk Mandar. Desa Pelattoang dan Somba sebagian besar hancur. Lebih dari seratus orang terluka di Pelattoang. Menurut radio Makassar, kota ini juga pernah dilanda gempa bumi. Gubernur Sulawesi Selatan, Achmad Lamo, menyatakan kawasan di sekitar Majene sebagai kawasan bencana.”

Dalam artikel di atas tertulis, “Di kawasan yang sama, lebih dari 200 orang tewas dalam bencana serupa Agustus lalu,” kemungkinan besar yang dimaksud adalah gempa pada 14 Agustus 1968, di lepas pantai barat laut Pulau Sulawesi, sekitar 150 km dari kota Tolitoli ke arah barat daya atau 370 km ke arah utara dari episentrum gempa 23 Februari 1969 di Tubo Majene. Gempa menyebabkan tsunami yang menurut Dinas Hidrografi Indonesia, gelombangnya setinggi 9-10 m tiba di pantai di wilayah Donggala yang menjangkau 500 m ke arah pedalaman. Bencana itu menyebabkan 160 orang tewas, 40 orang hilang dan 58 luka-luka; 800 rumah di pesisir hancur dan banyak perkebunan kelapa terendam banjir.

Media cetak yang sama, DE VOLKSKRANT, kembali memberitakan gempa Majene di edisi Senin 10 Maret 1969 berjudul “Gempa Membunuh 600 Orang” . Kali ini di halaman 1. “JAKARTA, 10 Maret (Reuter dan AP) – Gubernur Sulawesi Selatan menyebut sedikitnya 600 orang hilang pascagempa yang melanda pulau itu dua pekan lalu. Mereka diyakini terseret ke laut oleh gelombang pasang setinggi empat meter yang melanda daerah pesisir. Sekira 60.000 orang kehilangan tempat tinggal dalam bencana tersebut dan harus dievakuasi dari daerah yang terkena bencana. Di ibu kota kabupaten Majene – dengan populasi sekitar 20.000 orang – sebagian besar rumah hancur. Yang terparah adalah Pelattoang, yang terletak seratus kilometer dari Madjene.”

Sebelum edisi 10 Maret DE VOLKSKRANT, pada 3 Maret 1969, koran FRIESE KOIRIE di halaman 13 (dari 14) menulis artikel singkat berjudul Gempa Menewaskan 60 Orang di Sulawesi. “JAKARTA (ANP) – 300 rumah roboh saat gempa Minggu di Majene, Sulawesi, enam puluh mayat ditemukan. Kementerian Sosial di Jakarta mengumumkan hal ini pada hari Sabtu. Gempa menyebabkan longsor. Di sepanjang pantai Majene, rumah-rumah nelayan hancur akibat gelombang pasang yang menyusul gempa.”

Media NEDERLANDS DAGBLAD edisi 11 Maret 1969 hal 2 (dari 4) menurunkan artikel “Gelombang Pasang Merenggut Banyak Korban Jiwa di Sulawesi: JAKARTA – Di daerah Pelattoang di selatan Sulawesi, 600 orang telah tenggelam oleh gelombang pasang setinggi empat meter, kantor berita Antara melaporkan. Para penyintas mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Gelombang pasang tersebut disebabkan oleh gempa bumi. Kementerian Sosial juga melaporkan bahwa di kota Majene di Sulawesi, 64 orang tewas dan 97 luka-luka akibat gempa. Kerusakan material signifikan. Gubernur Sulawesi Selatan mengatakan bahwa 60.000 orang kehilangan tempat tinggal dan telah dievakuasi dari daerah bencana. Di Majene, dengan populasi sekitar 20.000 jiwa, sebagian besar rumah telah hancur. Tempat yang terkena dampak terparah, adalah Paletoang, yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Madjene.”

Catatan untuk dua artikel (FRIESA KOIRIE dan NEDERLANDS DAGBLAD) di atas, tertulis jarak antara Majene dengan Pelattoang 100 km, adapun jarak sebenarnya hanya 50-an km.

Bersambung

Komentar

News Feed