oleh

Gempa 1967, Pukkali Balanipa Bertahan “Maqappu Banua”

-Stories-5.867 views

“Saya di Makassar waktu 1967, terasa sampai di Makassar. Tidak langsung tahu kalau di Mandar, nanti dengar berita dari radio baru kita tahu. Saya langsung ke tempat mobil yang biasa ke Mandar. Sore tiba, sampai di Kappung Jawa saja. Sebab kakekmu dan saudara-saudara sudah mengungsi ke situ,” cerita paman saya, Suradi Yasil (lahir 1945) tentang gempa bumi di Mandar pada 11 April 1967.

Gempa 1967, Pukkali Balanipa Bertahan “Maqappu Banua”Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Gempa 1967, Pukkali Balanipa Bertahan “Maqappu Banua”

Menurut database gempa yang ada di NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) , gempa 54 tahun lalu berpusat di Teluk Mandar. Kejadiannya pukul 13.15 wita. Kekuatannya 5,5 Magnitudo (sumber lain 6,7 Magnitudo). Titik episentrum ada di laut, pada kedalaman 20 km, berjarak 36 km ke arah tenggara dari muara Sungai Mandar di Tinambung. Warga yang meninggal 58 orang dan 100 luka-luka di pesisir Teluk Mandar. Tsunami muncul dan menyebabkan kerugian material yang besar di pemukiman pesisir. Di Tinambung, menurut laporan, air tiba-tiba surut, lalu naik dua kali lipat tinggi pasang banjir biasa. Tiga belas nelayan tenggelam dalam perahu yang sedang berlabuh di dekat muara Sungai Tinambung.

Usai gempa, mayoritas warga Tinambung mengungsi ke Wonolumyo (Kappung Jawa) dan Polewali. Mereka berjalan kaki, ada naik bendi dan mobil. Salah satu saksi hidup adalah H. Jali Haseng, pensiunan guru, lahir 1937. “Waktu itu saya sedang baring di rumah. Ngantuk sebab semalam kita urus dokumen guru-guru agama. Isteri saya hamil 3 bulan. Saat gempa, goyangnya horizontal lalu vertikal. Kita tidak bisa berdiri. Banyak rumah batu hancur, kecuali rumah batu H. Sattari buatan Belanda. Mesjid dan pasar juga roboh. Di pasar banyak orang meninggal, termasuk ibunya pak Kamaruddin dan adiknya. Saya sempat ketemu pak Kamaruddin yang menggendong mayat adiknya,” cerita Jali Haseng. Yang dimaksud Kamaruddin adalah bapak Arif Kamaruddin, mantan pemain bola legendaris Mandar.

“Untung kejadiannya 1 Muharram, hari libur. Jadi tidak ada yang pergi sekolah. Kalau hari sekolah, mungkin banyak yang meninggal, khususnya di gedung SMP Tinambung. Dindingnya pada jatuh ke arah masuk ruangan,” tambahnya.

Menurut Jali Haseng, awalnya orang tidak tahu akan mengungsi ke mana. Mereka menghindar saja dari goyangan gempa, menuju kantor camat di Kandemeng. Di sana sudah ada banyak pengungsi, termasuk isteri Puang Limboro (ibu mantan wakil bupati Polman, Najamuddin Ibrahim) yang kakinya terluka dijatuhi bangunan kantor camat Tinambung yang roboh. Kemudian menuju Layonga yang relatif aman dan tidak banyak bangunan rumah.

Ada yang berencana ke Karama untuk cari perahu supaya bisa segera pergi, nyatanya di sana dihantam gelombang besar. Kata Jali Haseng, “Dulu itu belum ada istilah tsunami. Belakangan diberi nama lembong tallu. Ombak besar, ikan sampai terdampar di daratan. Karena di Karama juga parah, ada yang mau ke perbukitan di Pallis, tapi di sana juga longsor. Ada kabar Labuang juga kena hantaman ombak, jadi kita bingung mau ke mana. Jadi sesaat kita berdiam di Tammangalle. Nanti ada mobil datang, membawa kabar bahwa Labuang baik-baik saja. Jadi kami lanjut mengungsi. Di hari pertama sampai Tomadio Campalagian saja. Di sana numpang di rumah kerabat.”

Peristiwa gempa diberitakan secara singkat oleh koran HET VRIJE VOLK edisi Selasa 18 April 1967 halaman 15 (dari 24). Berikut terjemahannya, “Gempa Menewaskan 37 Orang di Sulawesi Selatan. JAKARTA (AP) Gempa bumi dahsyat di Sulawesi Selatan menewaskan 37 orang dan melukai 51 orang pekan lalu, lapor kantor berita Antara. Daerah yang terkena bencana, Polmas dan Majene di Sulawesi Selatan, telah dievakuasi oleh 75.000 orang.”

“Yang tinggal di kampung tidak seberapa, lebih sembilan puluh persen yang mengungsi. Yang tinggal antara lain keluarga pak Kamaruddin dan saudaranya, Djawahir. Kan ibu dan adiknya tewas, jadi mereka urus pemakamannya. K. H. Djalaluddin, Pukkali Balanipa juga tinggal. Beliau tetap bertahan dan melakukan ritual “maqappu banua”, keliling kampung berdoa supaya Tinambung dihindarkan dari bencana lebih besar. Beliau pernah lolos juga di peristiwa pembantaian di Galung Lombok oleh pasukan Westerling,” tutur Jali Haseng.

Tentang Pukkali Balanipa juga dinformasikan oleh Suradi Yasil dan tokoh masyarakat Tinambung, Nurdin Hamma (lahir 1935). “Waktu gempa, saya sedang berada di kampung Sosso. Bukit bergoyang dan longsor. Orang pikir ada gunung meletus. Kami cari aman di pinggir sungai untuk kemudian ke Mombi. Di sana banyak orang Tangang Baru dan Tandassura mengungsi. Sebab di kampung mereka tanah merekah dan banyak naik air. Kemudian saya rumah saya di Kandemeng, Tinambung. Esok subuh baru mengungsi ke Mapilli. Hanya Pukkali yang tinggal di Tinambung,” kenang Nurdin Hamma.

“Saat saya berada di Mandar, saya masih merasakan gempa-gempa susulan. Masih besar. Itu saya lihat pohon kelapa terayun-ayun, daunnya hampir sampai permukaan tanah. Kita tidak bisa berdiri pas gempa terjadi. Semua orang takut. Hanya Pukkali Balanipa K. H. Djalaluddin yang jago, beliau tetap tinggal di Tinambung,” kata Suradi Yasil yang masih mahasiswa saat gempa besar menghantam kampung halamannya.

Bersambung

Komentar

News Feed