oleh

Gebrakan Sang Bupati

-Kolom-2.332 views

GENAP tiga minggu setelah dilantik sebagai Pejabat Bupati Majene, Muh. Natsir mengeluarkan Surat Edaran yang nenurut saya sangat istimewa.

Sebab surat edaran tertanggal 6 November 2020 tersebut berisikan himbauan Salat Dzuhur dan Asar tepat waktu bagi pegawai Pemda Majene. Sehingga semua pegawai muslim diminta menghentikan atau menunda aktivitasnya pada saat adzan untuk segera melaksanakan salat.

Saat membaca surat edaran tersebut melalui WAG staf UT Majene, saya langsung menyampaikan ke staf untuk mematuhinya. Tanpa terkecuali. Termasuk saya. Jika saya lalai, mohon diingatkan. Sebab saya sadar sebagai atasan mereka, saya belum sanggup melaksanakan amar maruf sebagaimana yang dilakukan oleh sang bupati. Untuk itu kita wajib bersyukur beliau menjadi Pejabat Bupati yang membuka kesadaran spiritual kita.

Tahun 2011 lalu saya juga pernah membaca, tentang kebijakan Bupati Rokan Hulu yang menginstruksikan pegawai pemda untuk sholat berjamaah. Kebijakan tersebut kemudian menarik minat Yuni Rafta dkk untuk melakukan penelitian di tahun 2013.

Mencoba mencari pengaruh kebijakan sholat berjamaah tersebut terhadap etos kerja pegawai di Rokan Hulu. Hasil penelitiannnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif kebijakan wajib salat berjamaah terhadap etos kerja Pegawai Daerah Kabupaten Rokan Hulu.

Teringat pidato Anies Baswedan yang dikirim oleh salah seorang teman di WAG, berkaitan dengan proyeksi pendidikan abad 21. Menurut Anies ada 3 komponen dasar yang harus dibangun, yaitu Karakter, Kompetensi dan Literasi.
Komponen Karakter terdiri dari Moral (Baca Ahlak: Iman, Takwa, Jujur, Rendah Hati, dan lainnya) dan Kinerja (Kerja Keras, Ulet, Tangguh, Tak Mudah Menyerah, Tuntas, dan lainnya). Keduanya harus seiring, yakni saleh juga disiplin, jujur juga rajin. Kita tak ingin jujur tapi malas, rajin ibadah tapi malas berkerja.

Dengan demikian, maka salat bukan hanya berhubungan dengan spiritual seseorang, namun juga sangat positif terhadap kinerja. Bahkan detiknews (7/6/2016) pernah mengisahkan seorang pengusaha konstruksi, Budi Harta Winata yang mewajibkan karyawannya sholat tepat waktu berjamaah. Di pabrik konstruksi baja dipampang di berbagai sudut “Utamakan salat dan keselamatan kerja” sebagai moto perusahaan. Ia menyadari dampaknya sangat besar terhadap kedisplinan. Dan itu terbukti, perusahaannya maju pesat karena kedisiplinan karyawannya.

Untuk itu dengan mengindahkan himbauan Bupati Majene di atas, saya berharap kinerja kami di UT Majene akan semakin meningkat. Sebab dengan berupaya menerapkan salat tepat waktu berjamaah akan melatih kami untuk disiplin. Melalui alat akan melatih ketaatan kami.

Mengutip ceramah Ustad Abdul Somad “Jika kepada Tuhan sang pencipta saja kita tak taat, bagaimana kita akan taat kepada atasan kita yang hanya manusia biasa?”.

“Jika kepada Tuhan saja kita ingkar, maka bagaimana menjalankan amanah yang hanya diberikan manusia?”.

Sehingga saya sangat mengapresiasi upaya Pejabat Bupati Majene dalam mendorong pegawai untuk salat berjamaah. Semoga surat edaran ini dapat menjadi peraturan daerah di kemudian hari, sehingga tidak hanya berlaku saat Muh. Natsir menjabat Bupati. Namun dapat mejadi tradisi birokrasi untuk selamanya.

Mengutip tulisan Sri Wahyuni Tamrin, Ketua Kohati HMI Cabang Ternate, bahwa seorang pemimpin itu adalah ketika ia menulis ia menginspirasi, ketika ia berbicara ia memotivasi dan ketika ia marah ia menasehati.

Boleh jadi kebaikan yang disampaikan oleh para ilmuan, dampaknya hanyalah sebatas pengetahuan. Namun kebaikan yang diistruksikan seorang pemimpin, dampaknya akan lebih dahsyat, karena mempunyai power untuk mengawal dalam implementasinya. Semoga. (***)

Komentar

News Feed