oleh

Fenomena Buaya, Akal, dan Keyakinan

Oleh: Ismail Islam (Alumnus Fakultas Psikologi UNM)

BEBERAPA waktu belakangan, warga Sulawesi Barat (Sulbar), khususnya yang berdomisili di pesisir pantai Majene digegerkan dengan kehadiran sosok buaya.

Asal-usul buaya masih menjadi perbincangan yang berbeda-beda. Ada yang memperkirakan berasal dari sungai Mandar yang muaranya berada di Tinambung kabupaten Polewali Mandar. Namun ada pula yang menduga berasal dari Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar.

Masuknya buaya ke lokasi yang dekat dengan pemukiman penduduk, memberi isyarat bahwa sedang ada masalah dengan habitat aligator ini. Kehadiran buaya selain berbahaya, juga mendapat respon menarik dari warga. Hal demikian menarik ditelaah, sebab cerita-cerita yang hadir dikaitkan dengan keyakinan tertentu.

Sepanjang yang didengar oleh penulis, sudah dua keluarga mengaku bahwa buaya tersebut merupakan anaknya. Bahkan dikatakan kembaran anaknya yang ingin bertemu dengan keluarga.

Akhirnya kejadian menarik pun terjadi di sekitar pantai Palipi, Kecamatan Sendana. Seorang ibu bersama anaknya nekat mendekati buaya karena yakin buaya itu merupakan anaknya. Hampir saja ibu bersama anak itu menjadi santapan buaya, jika tak segera mengurungkan niatnya masuk ke dalam air.

Ada pula cerita yang beredar, bahwa kehadiran binatang yang biasanya hidup di air tawar namun masuk ke air laut yang asin ini, merupakan pertanda bahwa akan hadirnya bencana. Mungkin saja masih ada lagi cerita yang berkembang pada masyarakat dan dihubungkan dengan hal lain. Ada pun fakta kebenarannya jelas perlu dipertanyakan.

Manusia dan hewan merupakan dua makhluk berbeda, baik secara fisik atau perbedaan lain. Tetapi juga memiliki kesamaan, seperti memerlukan makanan, tempat tinggal, naluri untuk melestarikan keturunan, dan kesamaan lainnya. Namun secara mendasar perbedaan manusia dan hewan terletak pada akal.

Manusia punya akal, sementara hewan tidak punya meskipun memiliki otak. Sebab otak bukan satu-satunya pertanda adanya akal. Mengapa? Karena jika demikian, maka makhluk yang paling cerdas dalam bepikir tentu adalah gajah. Sebab ukuran otaknya jauh lebih besar dari otak manusia.

Lalu mengapa ada hewan tertentu yang dapat melakukan aktivitas seperti berbicara? Itu terjadi karena adanya kebiasaan yang diulang-ulangi pada latihan. Menyebabkan hewan terkondisikan dengan sesuatu yang sudah biasa baginya.

Otak bukan pertanda satu-satunya bagi keberadaan akal, lalu selain itu apa saja. Maka tentu harus kembali pada syarat agar terjadinya proses berpikir yang merupakan akal itu sendiri. Ada pun akal (proses berpikir) itu adalah pemindahan fakta melalui alat indera ke otak, lalu informasi terdahulu (berkaitan dengan fakta) digunakan untuk menilai, memberi nama, memahami, menghukumi, menafsirkan, atau menginterpretasi suatu fakta (Purwoko, 2012: Psikologi Islami teori dan penelitian).

Berdasarkan pengertian tersebut, maka terdapat beberapa syarat agar terjadi proses berpikir yang merupakan akal. Pertama, harus ada fakta atau objek yang akan dipikirkan. Kedua, harus ada otak yang sehat. Ketiga, harus ada alat indera. Dan keempat, disertai dengan informasi awal yang berkaitan dengan objek.

Penting untuk mengetahui akal atau proses berpikir. Sebab fenomena seperti kehadiran buaya di tengah pemukiman warga dapat dikaitkan dengan syarat agar berpikir itu terjadi dengan sempurna.

Setelah mengetahui apa akal atau berpikir itu, maka selanjutnya tinggal mengaitkan dengan fenomena tersebut, sehingga dapat dinilai secara objektif.

Pertama, buaya menjadi objeknya secara langsung. Kedua, tinggal melakukan pengamatan pada buaya itu sendiri. Ketiga, pengamat harus memiliki otakn yang sehat. Dan keempat, harus ada informasi yang mendalam tentang buaya.

Tentang kelahiran manusia yang kembar dengan buaya, juga dapat ditelaah dengan empat komponen berpikir tersebut. Pertama, objeknya manusia dan buaya. Kedua, pengamat harus memiliki alat indera. Ketiga, pengamat harus memiliki otak yang sehat. Terakhir, pengamat harus memiliki informasi valid (benar) tentang seluk-beluk manusia dan buaya, secara biologis dan lainnya. Dengan begitu akan dapat ditemukan kebenaran tentang kelahiran anak yang kembar dengan buaya.

Fenomena seperti ini tetap harus direspon dengan tetap mengedepankan akal sehat. Jika dikaitkan dengan suatu keyakinan, maka keyakinan itu harus ditelaah kebenarannya melalui komponen proses berpikir (akal). Agar kemerdekaan berpikir itu tetap terjaga. Tidak dikungkung oleh batasan ikut-ikutan yang dapat membuat akal manusia menjadi tumpul.

Pada suatu keyakinan semisal agama Islam, tentu dapat diyakini secara pasti bahwa makhluk hidup seperti buaya merupakan ciptaan Allah SWT. Ciptaan-Nya pasti memiliki fungsi, meskipun bagi manusia sebagian merasa ada yang dirugikan.

Tetapi bagi umat Islam, hewan seperti buaya harus diyakini bahwa itu ciptaan Allah yang telah diberikan potensi masing-masing dalam kehidupan. Maka memperlakukannya harus sesuai dengan ajaran Islam pula. (***)

Komentar

News Feed