oleh

Febrianto Wijaya, Dari Lapangan Hijau Hingga ke Parlemen

TERINSPIRASI dari pemain bintang Argentina pada Piala Dunia 1998 Gabriel Batistuta dan Herman alias Tie’ yang tak lain adalah pamannya, mantan pemain sepak takraw nasional yang melambungkan nama Indonesia diberbagai event internasional, Febrianto Wijaya mulai main bola dengan teman kecilnya di Talinting, Kasiwa, Mamuju.

Catatan: Yudi Sudirman (Pemerhati/Pengamat Sepakbola)

Febrianto Wijaya, Dari Lapangan Hijau Hingga ke Parlemen

Talinting adalah lapangan timbul tenggelam, karena hanya ada pada saat air surut dan ketika arus pasang datang, maka yang tampak hanyalah genangan air.

Meski jadwal main bolanya menyesuaikan air yang pasang surut tapi tak sedikitpun menyurutkan semangat total footballnya bersama teman seusianya kala itu.

Kekompakan di Talinting berlanjut dengan mendirikan klub junior di kawasan pasar sentral Mamuju, yang merupakan tempat tinggalnya, dengan nama Mangga Menteng lalu berganti PS. Elang Hijau dan PS. Armada, hingga sempat magang di Persemaju Mamuju.

MFS 2000 dan Awal Karirnya di Makassar

Melihat potensi dan bakat yang dimiliki Febrianto Wijaya, orangtuanya menyarankan agar melanjutkan pendidikan SMP-nya di Makassar, setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD Negeri 1 Mamuju.

“Saya mau lanjut ke Makassar dengan syarat, saya harus masuk di SSB ternama,” kenang Febrianto, tentang permintaannya ke orangtuanya.

Maka masuklah dia di di Makassar Football School (MFS) 2000 pada tahun 2002, satu angkatan dengan Yus Arfandy Djafar dan Rachmat Latief.

Disini bakat Febrianto semakin berkembang. Pada usia 13 tahun, dia sudah lolos pada seleksi terbuka PSM U-15. Dan semakin menonjol pada umur 14 tahun dengan menjadi top skorer Liga Bogasari.

Tahun 2006 atau saat berusia-16 tahun, terpilih mengisi skuad Makassar Utama, setahun kemudian pindah ke Persib Bandung U-17 dan juara disana.
Di tahun ini pula, lolos seleksi dan terpilih masuk timnas Indonesia U-17.

Setelah itu, menjalani training camp di Klub VfB Stuttgart Jerman tahun 2007. Pulang dari negeri kelahiran Franz Beckenbauer, Febrianto Wijaya mendapat panggilan untuk memperkuat Tim Pra Pon Sulsel.

Di waktu yang sama dia juga lolos dalam seleksi PSM Makassar, karena regulasi untuk ikut di PON tidak memperbolehkan pemain profesional, maka diputuskan untuk tidak ikut ambil bagian di Tim PON Sulsel dan lebih memilih bergabung dengan skuad Ayam Jantan dari Timur yang memang sudah lama diimpikannya.

Merumput Bersama Empat Klub Profesional dan Timnas U-19

Bergabung PSM Makassar menambah deretan warga keturunan yang sejak dulu kerap mengisi skuad Pasukan Ramang.

Menurut Erwin Wijaya, eks pemain PSM Makassar era 80-90an yang sempat penulis wawancara dalam catatan “Sejarah di Tasinara” pada pertengahan 2020, bahwa pada jaman Perserikatan PSM Makassar hanya dihuni oleh suku Makassar, Bugis, Mandar, Toraja, Ambon dan etnis Tionghoa.

Sejumlah nama warga keturunan yang menonjol dan menorehkan prestasi di PSM Makassar dari generasi yang berbeda seperti Harry Tjong, Frans Jo, Piet Tio, Keng Wie, dan terakhir yang yang berhasil membawa PSM Juara Perserikatan tahun 1992 Yosef Wijaya dan Erwin Wijaya.

Di usia 18 tahun, merupakan awal Febrianto Wijaya merasakan atmosfir sepakbola Nasional bersama PSM Makassar.

“Saya merupakan pemain muda, bermain dengan senior Irsyad Aras yang kala itu sudah berlabel pemain bintang,” tutur Pria kelahiran 20 Februari 1989 ini.

Satu setengah musim merumput di PSM Makassar, lalu dipinjamkan ke Persipura Jayapura, setelah menyelesaikan setengah musim bersama Tim besutan Raja Isa, dia kembali ke PSM Makassar.

Di tahun ini juga Febrianto Wijaya kembali tercatat sebagai pemain Timnas Indonesia U-19, bersama dengan beberapa rekannya di Timnas U-17 sebelumnya seperti; Andritany Ardhiyasa, Kurnia Meiga, Egi Melgiansyah, Rahmat Latief dan Syamsir Alam.

Musim berikutnya dia mendapat pinangan dari Persiram “Dewa Laut” Raja Ampat, bahkan sudah sampai pada tahap negosiasi. Namun diwaktu bersamaan tawaran datang dari Medan Chiefs yang bermain pada kompetisi Indonesian Premier League ( IPL), setelah melalui pertimbangan yang matang Febrianto lebih memilih teken kontrak dengan Medan Chiefs.

Semusim bersama Medan Chiefs akhirnya berlabuh di rakit “Laskar Joko Tingkir” Persela Lamongan.
hingga akhirnya menyatakan pensiun dini sebagai pesepakbola diusia emas 24 tahun.

Berjuang di Parlemen

Pada tahun 2011-2012, konflik dan kisruh di tubuh PSSI yang mengakibatkan dualisme kompetisi, yaitu Indonesia Super league (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL). Kondisi ini membuat sepakbola Indonesia mengalami gonjang-ganjing.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan hingga Febrianto Wijaya memutuskan untuk gantung sepatu.

“Sebenarnya setelah selesai kontrak di Persela Lamongan, saya dipanggil kembali untuk bergabung di PSM Makassar. Tapi karena kompetisi juga tidak jelas, maka saya memutuskan untuk pulang kampung ke Mamuju, bekerja hingga jadi caleg pada Pemilu 2014,” terang suami dari Felani ini.

Menurutnya, hidup adalah pilihan, meninggalkan sejenak sepakbola untuk maju di legislatif dengan tekad kalau diberikan kepercayaan menjadi anggota DPRD, akan membuat sepakbola di pelosok kampung jauh lebih bergairah melalui proses pembinaan.

Dan itu sudah dibuktikan melalui pembinaan di SSB Mitra Manakarra bersama dengan beberapa teman pelatih lainnya seperti Irfan Rahman, Erik, Muhammad Jufri dll.

Bersama SSB Mitra Manakarra, dia telah melahirkan beberapa pemain yang memperkuat Timnas Indonesia dari berbagai tingkatan umur. Diantaranya, Maldini Palli (U-19), Ryan Riding (U-16), Fakih (U-16) Rezky Pandi (U-19) dan Fadel Muhammad (Pelajar U-15).

Kemudian dia juga mengurus Klub OTP 37 Mamuju, yang berjuang di kompetisi di Liga 3 Indonesia.
Dan pencapaian yang luar biasa tatkala mendapat kepercayaan dari manajemen PSM Makassar dengan membawa Akademi PSM berhombase di Stadion Manakarra Mamuju.

Selain serius membina SSB Mitra Manakarra, OTP 37 dan Akademi PSM Makassar, dia juga tercatat sebagai pengurus BLiSPI (Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia) Sulbar, lembaga yang yang fokus untuk pembinaan sepakbola usia dini, yang kebetulan penulis juga terlibat dalam kepengurusan ini.

“Sepakbola itu bukan cuma pemain, menjadi pengurus, manajer, pembina, dan pelatih, adalah bagian dari sepakbola. Makanya saya tidak pernah berhenti, mulai saat aktif di lapangan hijau hingga sekarang duduk di parlemen,” imbuh Anggota DPRD Kabupaten Mamuju, dua periode ini.

“Kepada generasi yang ingin berkarir di sepakbola, setiap upaya itu ada buahnya, baik kegagalan ataupun keberhasilan. Ketika kita gagal harus bangkit dan kalau berhasil jangan segan untuk membantu orang lain, terutama yang mengalami kesulitan agar bisa juga bangkit dan berhasil seperti kita,” pungkasnya. (*)

Komentar

News Feed