oleh

Erosi Ancam Permukiman Warga

PASANGKAYU – Derasnya arus Sungai Lariang, menelan ratusan hektar kebun kelapa sawit. Bukan itu saja. Bahkan pemukiman juga ikut terancam.

Saat ini, arus Sungai Lariang mulai mengarah ke permukiman warga Desa Kulu Kecamatan Lariang, dengan mengikis sedikit demi sedikit hamparan tanah yang ditumbuhi kelapa sawit.

Erosi Ancam Permukiman Warga

Pemantauan Radar Sulbar bersama Pemerintah Desa Kulu dan Pemerintah Kecamatan Lariang, arus Sungai Lariang telah membuat muara Sungai Benu, makin menganga. Padahal dulu hanya beberapa meter saja. Selain itu, jalan tani juga terputus serta jembatan swadaya masyarakat telah amblas.

Sungai Benu memiliki hulu di Sungai Barubu. Sementara jarak muara Sungai Benu ke Sungai Barubu, tidak lagi sampai 100 meter. Sementara Sungai Barubu ini mengalir dan bermuara di Desa Kulu.

Staf Camat Lariang, Ishak mengatakan, ia bersama Pemerintah Desa Kulu meninjau lahan kebun masyarakat yang telah menjadi sungai karena dihantam erosi Sungai Lariang. Ini adalah wilayah Kecamatan Bulu Taba. Tapi yang terkena imbas erosi adalah wilayah dan masyarakat Kecamatan Lariang, sehingga mereka bergerak.

“Peninjauan ini kami lakukan, karena Pemerintah Kecamatan Lariang, menjadikan pengusulan skala prioritas ke balai sungai pembuatan tanggul tebing di Sungai Lariang. Sebab, sifatnya sudah sangat mendesak. Lahan kebun kelapa sawit warga sudah banyak yang hilang dihantam erosi,” terangnya, Kamis 4 Maret.

Kata Ishak, apabila tidak cepat ditangani, dikhawatirkan Sungai Lariang pindah jalur ke Sungai Barubu. Apabila ini terjadi, permukiman warga di Desa Kulu terancam hilang. Begitu pun dengan kebun masyarakat pada jalur yang dilalui.

Setelah mereka melihat dan melakukan pengukuran, sekira tiga kilometer tebing Sungai Lariang butuh segera ditanggul. Yakni dua kilometer di atas muara Sungai Benu dan satu kilometer di bawah muara Sungai Benu.

“Hasil pengukuran dan dokumentasi yang kami ambil, akan diberikan ke balai sungai di Palu, nanti mereka yang membicarakannya dengan Kementerian PUPR di Jakarta. Mudah-mudahan tahun 2022 mendatang, pengusulan kami itu sudah terealisasi,” harapnya.

Sementara, Sekretaris Desa (Sekdes) Kulu, Asdar, menerangkan untuk mengantisipasi Sungai Lariang pindah jalur dan melewati Sungai Barubu karena jaraknya sudah sangat dekat, ada jalur hijau di seberang Muara Sungai Benu, bisa dikeruk untuk mengalihkan arus.

“Kenapa kami usulkan jalur hijau jadi pilihan alternatif untuk mencegah ancaman bencana yang lebih besar? Sebab, tanah tumbuh tersebut adalah bekas sungai dan belum ada yang punya atau masih milik negara. Selain itu, tak ada alternatif lain untuk mencegah erosi sungai sambil menunggu bantuan dari balai,” jelas Asdar. (asp/dir)

Komentar

News Feed