oleh

Ekspor Surplus Tak menjamin Ekonomi Mulus

-Opini-1.192 views

PANDEMI Covid-19 belum berakhir. Sejak Maret 2020, Covid-19 melanda Indonesia yang berdampak pada perubahan kebijakan ekonomi, sosial, dan pemerintah.

Oleh: Muhammad Mitsaq Zamir
- Statistisi Pertama BPS Mamasa

Tidak hanya Indonesia, negara-negara di dunia juga harus dipaksa mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Serangan utamanya pada kesehatan, sehingga membuat pemerintah terus menggaungkan sektor kesehatan dan menjaga seluruh protokol kesehatan untuk menunjukkan kepedulian pemerintah melindungi rakyatnya dari serangan Covid-19.

Pemerintah tidak hanya menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama. Tetapi, juga berupaya menyelamatkan perekonomian. Dengan harapan dapat mendorong perekonomian agar perekonomian masyarakat tidak terlalu terpengaruh oleh serangan Covid-19.

Pada awal tahun 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis beberapa catatan penting tentang pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran. Tercatat pertumbuhan ekonomi selama tahun 2020 mengalami kontraksi atau minus sebesar 2,07%, menjadikannya catatan terburuk sejak krisis ekonomi 1998.

Penurunan hanya terjadi di bidang ekonomi, bukan pengangguran dan kemiskinan. Keduanya justru meningkat. Hal ini tak sesuai harapan semua pihak yang ingin mengurangi pengangguran dan kemiskinan serta meningkatkan perekonomian.

Tingkat pengangguran pada tahun 2020 lebih tinggi 1,84 dibandingkan tahun 2019, yang mencapai 7,07%.

Pemerintah juga berupaya menekan angka kemiskinan dengan memberikan berbagai program stimulus bantuan kepada masyarakat melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Namun, laju kemiskinan lebih besar dari upaya pemerintah. Pada tahun 2020, jumlah penduduk miskin yang tercatat oleh BPS sekitar 27,55 juta jiwa atau setara dengan 10,19% penduduk Indonesia.

Komentar

News Feed