oleh

Ekonomi Bantaeng Tumbuh Dua Digit Dalam Kurung Satu Tahun

MAKASSAR–Badan Pusat Statistik (BPS) melansir pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan menyentuh angka 10,75 persen dan angka ini meningkat menjadi dua digit dalam kurun waktu satu tahun.

”Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa untuk Bantaeng. Hal ini akan menjadi dasar pemerintah untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang pro terhadap kepentingan rakyat,” kata Bupati Bantaeng,Ilham Azikin, Jumat 13 Maret, di Bantaeng.

Dia mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi yang menyentuh angka 10,75 persen ini sudah melampaui target RPJMD Kabupaten Bantaeng yang menargetkan laju pertumbuhan berada di kisaran 8,8 hingga 9 persen.

Indikator lainnya adalah PDRB (produk domestik regional bruto) Bantaeng meningkat dari Rp7,7 triliun menjadi Rp8,7 triliun. Selain itu, PDRB Perkapita Bantaeng juga mengalami peningkatan dari RP41,64 juta perkapita menjadi Rp46,80 juta perkapita.

”Indikator-indikator ini menunjukkan jika pemerintah telah berhasil mendorong peningkatan ekonomi masyarakat Bantaeng. Tentu ini adalah bagian dari keberlanjutan pemerintahan,” jelasnya.

Berdasarkan data BPS, laju pertumbuhan ekonomi Bantaeng pada 2017 mencapai 7,32 persen. Angka ini bertambah menjadi 8,07 persen pada 2018. Sedangkan pada 2019 melonjak tajam menjadi 10,75 persen.

Posisi ini membuat Bantaeng menjadi daerah urutan pertama di Sulsel terkait tingkat laju pertumbuhan ekonomi. Secara nasional, Bantaeng berada di urutan keempat. Bantaeng disejajarkan dengan Morowali, Kulon Progo dan Halmahera Selatan.

Kepala BPS Bantaeng, Ir Arifin mengemukakan prestasi ini dinilai cukup luar biasa. Secara umum kondisi laju pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah mengalami penurunan sementara Kabupaten Bantaeng mengalami laju ekonomi yang cukup pesat.

Arifin mengatakan beberapa sektor yang menjadi penyebab pertumbuhan ekonomi sejumlah daerah menurun yakni pada sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan yang terpuruk sepanjang 2019 karena musim kemarau berkepanjangan.

”Secara umum, sektor-sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi andalan semua daerah mulai terpuruk karena musim kemarau panjang. Tetapi, Bantaeng tetap kokoh dan bertahan melalui masa itu,” ujarnya.

Hanya saja kata Arifin, sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan di Bantaeng tidak terpengaruh dengan kondisi kekeringan. Sektor-sektor ini tetap kokoh meski kondisi cuaca yang tidak stabil di sejumlah daerah. ”Ini juga ditopang dengan kebijakan pemerintah yang tetap menjaga kestabilan sektor-sektor ini,” jelas dia.

Kata Arifin, ini yang pertama kalinya terjadi di Bantaeng. Menurut dia, sektor yang memperkuat Bantaeng salah satunya pada sektor pengolahan.

Sepanjang 2019, PT Huady memproduksi 43 ribu ton nikel. Jumlah ini ternyata mendorong peningkatan perputaran ekonomi yang ada di Bantaeng.

Tidak hanya itu, peningkatan produksi ini juga menopang peningkatan penggunaan listrik di Bantaeng. Konsumsi listrik yang meningkat dengan ditopang suplai listrik yang baik juga ikut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

”Poin yang ketiga adalah penerimaan pegawai yang dilakukan pada 2018 dan 2019. Di situ ada belanja barang dan pegawai yang menjadi support peningkatan laju pertumbuhan ekonomi,” ujar dia. (ant)

Komentar

News Feed