oleh

Efek Samping Bisa Beragam, Screening Sebelum Vaksinasi

POLEWALI — Vaksinasi korona sisa menunggu hasil pemeriksaan mutu dan keamanan dari pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jika dinilai layak, segera direalisasikan. Penyuntikan menyasar individu yang sehat.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Majene dr Rahmat Malik, vaksinasi ini sama dengan imunisasi pada umumnya. Bakal ada efek samping. Bisa berupa demam ringan, kemerahan di lokasi penyuntikan atau kelelahan.

“Olehnya itu kita bentuk tim untuk memantau kondisi tenaga kesehatan dan masyarakat yang sudah divaksin nanti. Jadi, tidak perlu khawatir, apalagi takut,” jelasnya, Kamis 7 Januari 2021.

Efek samping yang bisa saja ditimbulkan kata dia, berbeda-beda. Tergantung kondisi individu yang disuntik. dr Rahmat sendiri mengaku sudah sangat siap jadi orang pertama yang divaksin. Jadwalnya, pertengahan bulan ini. “Jadi saya yang pertama di tenaga kesehatan (Nakes) yang akan divaksin,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, bupati Majene juga telah siap divaksin. “Vaksin ini sama ji dengan vaksin lainnya,” imbuh Rahmat, menekankan. “Mudah-mudah virus korona ini bisa segera hilang di Majene dan Indonesia agar kehidupan bisa kembali normal,” tambah dia.

Pemerintah pusat telah menentukan kelompok prioritas sebagai golongan penerima vaksin. Karenanya, sebelum vaksinasi, dilakukan screening atau pemeriksaan untuk memastikan kondisi calon penerima vaksin.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Polewali Mandar (Polman) Andi Suaib Nawawi mengatakan tidak semua orang bisa diberikan vaksin covid-19. “Untuk vaksinasi tidak semua orang bisa dilakukan, ada ketentuannya. Seperti yang bisa divaksin memiliki persyaratan yaitu orang dewasa yang sehat usia 18-59 tahun,” ujarnya.

Selain itu sebelum divaksin akan dilakukan screening terlebih dahulu untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan jangan sampai terdapat penyakit pengorbit.

Andi Suaib Nawawi menambahkan, kalagan yang tidak bisa diberikan vaksin Sinovac yaitu orang yang pernah terkonfirmasi atau menderita Covid-19. Kemudian ibu hamil dan menyusui, menjalani terapi jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah, dan penderita penyakit jantung.

Selain itu kata dia, penderita penyakit autoimun (lupus, sjogren, vasculitis). Penderita ginjal, reumatik autoimun, penyakit pencernaan kronis, penyakit hipertiroid, kanker, kelainan darah, defisiensi imun, penerima transfusi.

Selanjutnya penderita gejala ISPA (batuk, pilek, sesak nafas) dalam tujuh hari terakhir sebelum vaksinasi. Kemudian, diabetes meletus, penderita HIV, dan penderita penyakit paru.

Saat vaksinasi nanti, pihaknya juga menyiapkan tim yang akan menangani jika ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Tim ini akan menangani gejala pasca divaksin.

Sementara pelayanan vaksinasi akan dilaksanakan di setiap desa. Posko yang sudah ditunjuk seperti Poskesdes dan Pustu desa setempat dan juga melakukan sosialisasi. Pemberian vaksin ini sama dengan model pemberian imunasasi rutin yang dilakukan.

“Dalam satu rumah tangga juga tidak semuanya langsung divaksin tapi dibagi dua atau tiga tahap untuk satu keluarga. Mengantisipasi satu keluarga tersebut tidak bersamaan demam,” jelasnya.

Bagi warga yang telah disuntik, akan dirapid anti bodi untuk memastikan vaksin ini bekerja dengan optimal. Seperti diketahui, vaksinasi perdana akan menyasar tenaga kesehatan. Tercatat 3.008 Nakes di Polman menjadi prioritas tahap pertama.

Tahap selanjutnya, menyasar petugas pelayanan publik, TNI-Polri, Satpol, Dinas Perhubungan, PLN, PDAM dan petugas yang terjun langsung memberikan pelayanan. (mab/mkb-rul)

Komentar

News Feed