oleh

Door to Door Mendata Anak Penderita Stunting

MAJENE–Anak berbadan pendek dibanding seusianya atau biasa disebut penderita stunting di wilayah Puskemas Banggae 1, Kabupaten Majene, kembali di data. Pendataan ulang dengan cara door to door (dari pintu ke pintu) ini, untuk memastikan jumlah penderita stunting di Banggae 1.

Tim stunting internal Puskemas Banggae 1, dibentuk dua tim. Satu tim dipimpin Kepala Puskemas Banggae 1, dr Yupie Handayani. Tim kedua, dikoordinir dr Hutri Yunus, medis Puskemas Banggae 1. Selanjutnya, mereka bergerak lewat layanan home care dari rumah ke rumah.

Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) pada Februari 2019, lalu, sebanyak 215 penderita stunting. Setelah dilakukan pendataan ulang jumlahnya hanya 106 anak yang ditemukan menderita stunting. ”Hasil pendataan kami dari rumah ke rumah ternyata lebih rendah dari data PSG, Februari, lalu,” ungkp dr Yupie, Senin 24 Juni.

Menurut Yupie, ada dua langkah yang dilakukan dalam rangka mengatasi dan mencegah terjadi penderita stunting. Pertama, lewat layanan home care yaitu pemberian layanan kesehatan secara berkesenambungan dan komprehensif.

”Petugas memberikan pelayanan individu maupun keluarga. Upaya ini akan memperjelas status anak stunting. Sehingga kedepan penderita bisa di buatkan pendampingan, sesuai hasil analisis masalah yang dialami sang anak,” terang Yupie.

Yang kedua, untuk mencegah stunting. Dimana jajaran Puskesmas Banggae 1, menggelar penyuluhan di Taman Kota (Tako) Majene. Program ini diberi nama, ‘Bongi Na Mappaseha’ Pa’banua’. Kegiatan perdananya dilaksanakan Sabtu 22 Juni, malam.

“Seluruh staf kita turunkan sebab selain penyuluhan, ada juga pemutaran film. Tanya jawab dan membagian leaflet dan bagi-bagi doorprize,” kata dokter yang pernah bertugas di Puskesmas Sendana II.

Semoga kegiatan yang kami lakukan ini, harapYupie, Puskemas Banggae 1, dapat memberikan kontribusi dalam mengatasi masalah stunting yang melanda Majene. (kdr)

Komentar

News Feed