oleh

Doa Untuk Sulbar

-Kolom-1.952 views

DOA UNTUK SULBAR (Pray for Sulbar) mungkin ini kata paling tepat buat masyarakat Sulbar saat ini.

Doa ini terutama kepada korban yang terdampak langsung oleh bencana gempa Mamuju-Majene. Gempa yang terjadi dengan status sebagai bencana nasional ini cukup menimbulkan dampak kerusakan hingga korban jiwa. Informasi terakhir mencatat sedikitnya 46 orang meninggal.

Gempa di Sulbar berdasarkan catatan BMKG terdapat tiga kali gempa selama rentang waktu 10 jam setelah terjadi gempa pembuka (gempa berkekuatan lebih). Yakni hari Kamis 14/1/21 Pukul 14.35,49 terjadi gempa pertama dengan kekuatan 5,9 berpusat sekitar 4 km arah barat laut dari Kota Majene.

Selang satu jam kemudian Kamis pukul 16.35.14 terjadi gempa kedua dengan kekuatan 3,5 dengan kekuatan lebih kecil dari gempa sebelumnya.

Sekitar sembilan jam setelah gempa kedua terjadi gempa ketiga 15/1/21 Jumat dinihari pukul 02.28.17. Dalam cacatan yang sama terjadi gempa susulan namun dengan magnitude sedikit lemah.

Untuk gempa yang ketiga inilah yang memporak-porandakan kota Mamuju sebagai gempa terbesar dari ketiga gempa termasuk gempa susulan dengan magnitude lemah.

Gempa di Sulbar seperti yang terjadi pekan lalu bukanlah gempa pertama di Sulbar. Arsip BMKG mencatat pernah terjadi gempa dengan kekuatan 6,3 yang dikenal dengan gempa Tinambung kejadian 11/4/1967. Gempa saat itu menimbulkan bencana tsunami menyebabkan 13 orang meninggal.

Juga terjadi gempa pada 23/2/1969 dengan kekuatan 6,9 dan menyebabkan jumlah meninggal 64 orang. Begitu juga  gempa Mamuju terjadi 8/1/1984 dengan kekuatan 6,7 magnitude. Saat itu tidak terdapat korban jiwa tetapi banyak sekali terjadi kerusakan rumah.

Sulawesi  Barat dengan analisa BMKG mengenai bencana gempa daerah ini dianggap memiliki potensi gempa. Itu karena wilayahnya dikitari beberapa sesar aktif yaitu sesar Makassar, Walanae, Lawanopo, Poso dan Palu Koro.

Selain kawasan ini berada dalam istilah cincin api sebagaimana dikenal dengan patahan panjang selat Makassar (Teluk Mandar). Maka sebagai cincing api  serta dikitari sesar aktif, bencana gempa termasuk tsunami tetap potensi terjadi.

Daerah dengan potensi bencana (gempa atau tsunami) daerah ini tentu tidak akan luput dari kesiagaan bencana. Kondisi alam seperti ini membuat strategi kebencaan dapat dirancang dengan baik.

Sebagai bentuk kesiagaan maka terdapat banyak hal diperlukan termasuk peta evakuasi, pengorganisasian masyarakat sebagai edukasi hingga infrastruktur kebencanaan (peralatan).

Selain peta evakuasi, informasi dan edukasi hingga infrastruktur kebencanaan maka peningkatan pengetahuan dan penyadaran masyarakat mengenai mitigasi bencana menjadi sangat penting nantinya.

Pemahaman mengenai manajemen bencana secara sederhana -untuk tidak mengatakan berarti mempersiapkan bencana- akan sangat membantu dalam melakukan tindakan mandiri (tindakan pertama) saat bencana datang.

Itu karena bencana yang ada selalu mengubah semua kondisi tentu semakin sulit berharap datangnya bantuan dari luar dengan cepat. Karena itu kebutuhan pengetahuan kebencanaan guna melakukan tindakan pertama memang diperlukan.

Doa untuk Sulbar oleh bencana gempa saat ini dimana tidak sama sekali terduga kejadiannya tetapi kita tahu sewaktu-waktu bisa datang dan berulang, bukan saatnya melakukan spekulasi tentang sebab musababnya. Apalagi diikuti protes oleh siapapun yang mungkin dianggap lambat mengambil langkah tanggap darurat.

Demikian karena yang diperlukan apalagi dengan bencana gempa sebesar ini adalah solidaritas, kerja sama serta doa. (***)

Komentar

News Feed