oleh

Disdagperkop UKM Sulbar Jadikan Marasa Branding Produk

MAMUJU–Dinas Perdagangan, Perindustrian Koperasi dan UKM (Disdagperkop-UKM) Sulbar menggelar forum koordinasi dan sinkronisasi peran daerah di bidang perdagangan luar negeri di Mamuju, Rabu 25 September 2019.
Kegiatan ini untuk menambah informasi mengenai potensi ekspor, baik secara regional maupun nasional. Tujuannya untuk memberikan gambaran tentang potensi komoditi unggulan di Sulbar yang dapat membantu para pelaku usaha mendapatkan informasi sebagai bahan pengambilan keputusan terkait pengembangan potensi produksi dan investasi dimasa mendatang.
Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar mengatakan, untuk meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan pendapatan asli daerah (PAD) di wilayah Sulbar, Ia mengajak kepala daerah dan pelaku usaha bersama-sama meningkatkan produk-produk ekspor daerah. Dengan mengarahkan kepada para pelaku ekspor di wilayah masing-masing agar melakukan pengurusan dokumen ekspor atau Surat Keterangan Asal (SKA) di Disdagperkop UKM Sulbar dengan branding Marasa di setiap produk yang di hasilkan.
Marasa adalah ungkapan leluhur orang Mandar yang menguntungkan semua orang. Marasa juga suatu ungkapan perasaan kepuasan dan sebuah penyemangat didalam melakukan sesuatu “Ini kita lakukan agar produk yang kita hasilkan di sulbar bisa lebih dikenal di dunia, khususnya negara tujuan ekspor. Selain itu, jika kita memiliki branding sendiri, itu akan membuat daerah kita lebih membanggakan,” ujarnya.
Sulbar, lanjut Ali Baal memiliki potensi SDA yang melimpah. Seperti, berbagai bahan tambang, hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil hutan, perikanan serta hasil kerajinan industri kreatif. Sudah banyak produk sulbar yang menembus pasar ekspor. Seperti kakao, kopi, cengkeh, kelapa sawit, rotan, berbagai jenis kayu, ikan tuna, teripang, udang dan rumput laut.
Namun disayangkan, produk tersebut tidak menggunakan branding daerah sulbar. Melainkan, branding daerah tetangga sehingga membuat daerah mereka lebih terkenal.  “Dengan di tunjuknya Disdagperkop UKM Sulbar sebagai instansi penerbit SKA, saya berharap semua pengusaha dari sulbar wajib menggunakan branding Marasa di produk yang kalian ekspor keluar daerah maupun ke luar negeri,” ujarnya.
Kepala Disdagperkop UKM Sulbar Amir Maricar mengatakan, mengapa Disdagperkop UKM Sulbar gencar mengurus supaya instansi penerbit SKA dari sulbar? karena selama ini, begitu banyak komoditi yang ada di Sulbar setelah dikirim ke luar negeri, nama Sulbar sebagai asal produk tidak di gunakan. Jadi, produk yang di hasilkan sulbar tidak mencantumkan nama sulbar dan tidak menggunakan branding sulbar sehingga sulbar tidak muncul di negara tujuan ekspor.
“Ini yang mendasari sehingga kita bekerja keras untuk mengurus ijin agar menjadi instansi penerbit SKA. Dan alhamdulillah, surat ijin sudah kita kantongi. Ini juga salah satu upaya kita agar nama sulbar bisa terkenal sampai ke luar negeri yang menjadi negara tujuan ekspor,” ujarnya.
Berkat kerja keras, lanjut Amir, Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 896 Tahun 2019 tentang instansi penerbit Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) menunjuk Disdagperkop UKM Sulbar sebagai instansi penerbit SKA. Dengan adanya keputusan ini, para pelaku eksportir yang ada di Sulbar tidak usah lagi mengurus dokumen ekspor atau menerbitkan SKA ke provinsi lain.
“Para pelaku usaha wajib mengurus dokumen yang dibutuhkan di Sulbar. Jangan lagi ada yang mengurus di daerah tetangga dengan alasan jaraknya lebih dekat. Kami yang akan mendatangi kalian. Saat ini, jarak bukan lagi jadi kendala. Yang penting ada jaringan internet, data-data para pelaku usaha bisa diinput melalui online. Ini semata-mata kita lakukan agar daerah kita bisa memiliki branding sendiri dan bisa terkenal di kanca nasional maupun internasional,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, Disdagperkop UKM Sulbar juga melakukan ekspor biji kakao sebanyak tiga ton ke Negara Jepang. (ian)

Komentar

News Feed