oleh

Diferensiasi

SELAMA setahun di Majene, saya suka sekali gunting rambut di salah satu barbershop di pusat Kota Majene. Namanya Barber Boy.

Segmen pasarnya hanya untuk pangkas rabut pria. Tukang pangkas rambutnya masih muda-muda. Ruangan pangkas rambutnya juga luas. Ada musiknya sehingga kita sangat terhibur saat sedang antre menunggu giliran.

Diferensiasi

Di sebelahnya ada juga usaha barbershop yang melayani gunting rambut pria maupun wanita, tetapi pengunjungnya sepi. Bahkan beberapa minggu lalu barbershop tersebut sudah tutup, akibat kalah bersaing dengan Barber Boy. Kini tempat usahanya diambil alih pemilik Barber Boy.

Minggu lalu, saat saya cukur rambut di sana, saya liat ruangannya menjadi lebih luas. Sebelumnya hanya ada empat kursi pamangkasan rambutnya, kini sudah enam kursi. Tiap kursi sudah berdiri enam orang tukang gunting yang ramah siap melayani, sehingga pelanggannya tak perlu berlama-lama lagi antri menunggu giliran diguting.

Menjadi pertanyaan adalah mengapa para konsumen lebih memilih gunting rambut di Barber Boy, dibandingkan barbershop di sebelahnya?
Jawabannya simpel, yakni karena strategi diferensiasi yang diterapkan oleh pemilik Barber Boy.

Hermawan Kartajaya mengemukakan bahwa diferensiasi adalah semua upaya yang dilakukan perusahaan untuk menciptakan perbedaan diantara pesaing dengan tujuan memberikan nilai yang terbaik untuk konsumen. Maka itu, Barber Boy menyiapkan tukang cukur yang banyak agar kami tak perlu berlama antre, sementara barbershop di sebelahnya hanya ada satu orang tukang cukurnya.

Ruangan Barber Boy sangat luas, selain pangkas rambut juga ada jasa cuci rambutnya. Sedangkan barbershop di sebelah, ruangannya cukup sempit, kurang nyaman saat antri.

Pelanggan Barber Boy disuguhkan musik, sehingga jika kebetulan saat datang, kita masih harus antri karena membludaknya pelanggan, kita tetap tidak “bete”. Ada hiburan yang membuat kita tak terasa berlama-lama antre.

Menciptakan produk atau jasa unik dan menarik, tentunya perlu inovasi. Produk tidak hanya dibuat sekedarnya. Demikian pula pelayanannya, harus ada kesan tersendiri bagi pelanggan.

Menurut Hermawan Kertajaya, ada enam step atau langkah untuk membangun diferensiasi produk atau jasa, yaitu :

Pertama, melakukan Segmentasi, Targeting dan Positioning (STP). Sebagaimana dalam bisnis Barber Boy di atas, segmennya jelas, yakni hanya untuk pria. Target pasar yang dipilih yakni anak-anak maupun pria dewasa. Dengan melakukan segmenting dan targeting tersebut para konsumen pun dengan mudah melakukan posisioning terhadap Barber Boy. “Jika ingin gunting rambut pria ke Barber Boy saja”.

Kedua, menganalisa sumber-sumber diferensiasi. Pada bisnis Barber Boy di atas, sumber daya yang ditonjolkan adalah para pemangkas rambutnya yang masih muda-muda dan terampil memangkas rambut dengan berbagai mode. Selain itu, tempatnya strategis, mudah dijangkau dan nyaman.

Ketiga, menguji diferensiasi apakah sustainable atau tidak. Bagi saya, dengan berulang-ulangnya saya dan anak-anak memangkas rambut di Barber Boy, menunjukkan bahwa diferensiasi yang dilakukan Barber Boy sudah sustainable. Itu bukan saya saja merasakan. Beberapa teman di UT Majene pun rupaya telah menjadi langganan tetap di Barber Boy.

Keempat, mengkomunikasikan diferensiasi. Untuk langkah ini, sepertinya belum dilakukan Barber Boy. Sebab selama ini kami belum pernah ditanyakan apakah puas atau tidak terhadap layanan mereka. Namun yang pasti bagi saya, sangat suka untuk memangkas rambut di sana.

Kelima, yakni harus fokus. Tentunya ini sudah nyata dilakukan oleh Barber Boy, karena mereka hanya melayani pelanggan pria.

Langkah keenam, adalah konsistensi. Hal ini mudah diucapkan, tetapi sulit dipertahankan. Namun dengan berkembangnya usaha Barber Boy di atas, sudah menunjukkan bahwa pemiliknya sangat konsisten dalam bisnis layanan pangas rambut. (***)

Komentar

News Feed