oleh

Di Mateng, Pencabulan Terhadap Anak Terjadi Lagi

TOPOYO — Air susu dibalas dengan air tuba. Begitulah kira-kira menggambarkan perbuatan IM, seorang laki-laki yang bekerja sebagai tukang urut di mamuju Tengah (Mateng) itu.

Betapa tidak. Kebaikan yang diberikan kedua orang tua NM, seorang bocah berusia sekira tujuh tahun, dibalas dengan perbuatan pelecehan seksual terhadap NM.

Keterangan Kasat Reskrim Polres Mateng, Ipda Argo Pongki Atmojo, peristiwa pelecehan terjadi pada Rabu 23 Desember. Berawal ketika korban, NM, disuruh ibunya mengantarkan makanan ke tetangganya yang tidak lain ialah IM tersebut.
Saat diantarkan makanan, IM melancarkan aksi bejatnya melakukan pencabulan terhadap NM.

Setelah kejadian itu, korban kembali ke rumahnya dalam keadaan pucat dan ketakutan. Sehingga ibunya menanyakan kenapa lama kembali dan dalam keadaan pucat.

“Setelah dipaksa untuk cerita, si korban akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya,” ungkap Argo, saat temui di Polres Mateng, Senin 28 Desember.

Mengetahui peristiwa tersebut, orang tua korban langsung melapor ke Polres Mateng. Tak menunggu lama, aparat kepolisian pun menjemput pelaku dan melakukan pemeriksaan.

Dari pemeriksaan itu, diperkirakan tidak ada unsur perencanaan dalam peristiwa pencabulan. Melainkan unsur spontanitas dengan bujuk rayu kepada korban. Dengan ini, dikenakan Pasal 82 Undang-undang Nomor 76 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman kurang lebih 15 tahun penjara.

“Pelaku sudah ditahan di Polres Mateng, SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan,red) segera ditindaklanjuti ke kejaksaan,” jelas Argo.

Terkait barang bukti, masih dalam proses pengumpulan seperti baju dan aksesoris yang digunakan saat kejadian.

Argo mengaku, tingkat pencabulan anak di Mateng terbilang tinggi. Pada tahun 2020, sebanyak sembilan kasus pencabulan anak ditanganinya. Ini pun menjadi sorotan publik, bahkan peran dinas terkait dipertanyakan.

Ia berharap, langkah selanjutnya untuk mengurangi tingkat pencabulan anak di bawah usia, bekerjasama Babinkambtibmas untuk melakukan sosialisasi pendidikan terkait hukum bagi pelanggar dan kesadaran dalam menjaga keamanan lingkungan.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak Mateng, Zainal Abidin, mengatakan saat ini pihaknya sudah berkoorsinasi dengan Polres Mateng untuk penanganan kasus serta melakukan pendampingan pada korban.

Abidin menilai, terjadinya pencabulan itu karena kurang pendampingan orang tua terhadap anak, dan tak adanya penyuluhan untuk masyarakat mengenai hukum dan dampak jika hal itu terjadi.

“Selanjutnya, kami akan lakukan pendampingan keluarga dan penyuluhan kepada masyarakat, agar meminimalisir terjadinya pencabulan anak di bawah usia,” tutur Abidin. (m6/dir)

Komentar

News Feed