oleh

Demokrasi Inklusif

-Kolom-1.375 views

SALAH satu musuh demokrasi adalah bila hanya terjadi konsentrasi kekuatan pada satu tempat dan kecenderungan-kecenderungan lainnya yang kemudian menciptakan kekuatan dominan.

Olehnyanya, sebaik-baiknya pertumbuhan demokrasi adalah bila tercipta pemencaran pengaruh sebagaimana terjadinya kekuatan-kekuatan yang terbagi (sharing power).

Mempergunakan batasan ini, dengan melihat kondisi sosial politik di Sulbar, maka tidak sulit mengamati apakah terjadi dominasi. Pertanyaan ini menarik setelah memperhatikan bahwa selalu terjadi ruang terisi oleh adanya kelompok dominan dimana saja. Termasuk di Sulbar sekalipun.

Untuk konteks Sulbar, beberapa akademisi mengangkat tema ini sebagai suatu kasus. Tesisnya mengenai kelompok-kelompok dominan dimaksud dan secara gamblang disebutkan bahwa kelompok inilah yang telah membentuk semacam lingkaran pengaruh (circle of power). Untuk selanjutnya, berperan dalam kekuasaan formal seperti dalam organisasi pemerintahan maupun non pemerintahan (informal).

Tidak terlepas dengan itu, oleh institusi politik dan dukungan institusi sosial yang dimiliki, kelompok ini berhasil memiliki kekuatan formal hingga berakhir membentuk privatisasi (personalisasi politik) yang popularitasnya nyaris melampaui kelembagaan politik.

Dalam tesis akademisi lokal, inilah yang dimaksud bahwa politik lokal di Sulbar telah melahirkan kelompok dominan di bawah kekuasaan lokal. Absahlah lingkaran pengaruh itu relatif berada dalam perputaran kelompok dominan dan belum sepenuhnya beranjak untuk membentuk lingkaran lebih luas sebagai “pelepasan” dari kelompok utama.

Komentar

News Feed