oleh

Covid-19 di Sulbar

TANGGAL 29 Maret, kemarin, tepat setahun ditemukan kasus perdana positif covid-19 di Sulawesi Barat.

Kasus perdana tersebut, merupakan bagian dari jumlah 1.285 pasien covid-19 se-Indonesia.

Covid-19 di Sulbar

Pada 29 Maret 2020, juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona (saat itu), Ahmad Yurianto, mengumumkan jumlah pasien corona bertambah 130 kasus.

“Angka tersebut tersebar di 30 provinsi, termasuk Sulawesi Barat yang mencatat kasus perdana warganya terjangkit covid- 19,” katanya, (Kompas 29/03/2020).

Data NAR (new all record) Dinas Kesehatan Sulbar per-28 Maret, jumlah positif covid-19 di provinsi ke-33 ini tercatat 5363 kasus yang tersebar di enam kabupaten. Dari jumlah itu, dinyatakan telah sembuh 5060, isolasi mandiri 175, dirawat 16, dan 112 meninggal dunia.

Sebelum muncul kasus pertama yang menimpa seorang warga Majene, Pemprov Sulbar telah membentuk Satgas (Satuan Tugas) yang melibatkan aparat pemerintah terkait, termasuk TNI dan Polri. Satgas serupa dibentuk juga Pemkab enam kabupaten.

Seiring penularan covid -19 yang berkembang cepat, Satgas segera bergerak melakukan beberapa kegiatan. Salah satunya, pemeriksaan terhadap para penumpang angkutan umum atau kendaraan pribadi yang memasuki wilayah Sulbar di perbatasan Sulawesi Selatan di Paku, Kabupaten Polman.

Pemeriksaan dilakukan juga di perbatasan Sulbar-Sulteng di Suremana, Kabupaten Pasangkayu. Tujuannya, memastikan semua yang datang dari luar Sulbar tidak membawa virus corona.

Pada awal terbentuk, Satgas di setiap tingkatan, mulai provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan dan desa, cukup aktif melakukan berbagai kegiatan. Antara lain sosialisasi pencegahan corona dengan penerapan protokol kesehatan, yaitu memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan di air mengalir pakai sabun.

Selain itu, pembatasan kegiatan yang menimbulkan kerumunan. Sesuaai protap Satgas Nasional Penanganan Covid-19, diberlakukan juga WFH (work from home) pada kantor-kantor pemerintah dan swasta. Sistem belajar daring (dalam jaringan) diberlakukan pada semua tingkat pendidikan.

Satgas menggelar juga razia penggunaan masker sampai penyiraman hand zanitiser, bahkan terhadap pelintas antar desa/kelurahan. Saat itu, banyak terlihat gerbang desa/kelurahan dipasangi portal. Dijaga dengan penuh semangat oleh warga setempat yang petugas Satgas. Mereka bergerak secara swadaya, walau hanya bermodal semangat untuk mencegah penularan corona.

Seiring peningkatan kebutuhan masker, salah satu jenis APD (alat pelindung diri) itu langka di pasaran. Para pedagang pun menggunakan kesempatan untuk meraup keuntungan. Mereka menjual masker dengan harga cukup mahal.

Setahun masa pandemi covid-19, bulan ramadhan juga segera tiba. Pada masa awal pandemi setahun lalu, masjid-masjid sepi karena pembatasan kerumunan, termasuk melaksanakan salat berjamaah.

Kaum muslim pun harus salat tarwih di rumah. Lebaran idul fitri juga dilalui tanpa silaturahmi seperti kebiasaan sebelum pandemi.

Seiring perkembangan covid-19 yang kian meningkat, penerapan protokol kesehatan terlihat menggembirakan. Memakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan atau berbekal hand zanitiser mulai menjadi kebiasaan masyarakat.

Soal kerumunan ? Makin jarang terlihat.

Beberapa kali terjadi pembubaran kerumunan oleh petugas Satgas, termasuk pesta nikah. Satgas melakukan juga razia di pasar-pasar, bahkan buka-tutup pasar beberapa hari di wilayah yang muncul banyak kasus positif baru covid-19.

Sejak beberapa waktu terakhir, jumlah positif covid-19 di Sulbar makin melandai. Namun, makin juga warga yang tidak lagi peduli protokol kesehatan. Kerumunan kembali terjadi dimana-mana.

Apalagi, menjelang Ramadhan yang merupakan musim pesta nikah. Tempat-tempat hiburan kembali seperti sebelum pandemi. Ramai, terlepas dari penerapan kebiasaan baru ala pandemi. Jamaah di masjid-masjid pun tidak peduli lagi pengaturan jarak.

Ramadhan sebentar lagi. Semoga semarak Ramadhan dan Idul Fitri tidak lagi menjadi kerinduan yang lebih lama dirasakan umat Islam. Untuk kembali meramaikan masjid dan musalah di malam hari dan subuh. Juga berlebaran dengan silaturahmi antar keluarga dan kerabat sebagaimana sebelum pandemi.

Apalagi, vaksinasi covid-19 diharapkan makin menyeluruh, namun diharap tidak mengabaikan protokol kesehatan. (***)

Komentar

News Feed