oleh

Cerita Mahasiswa Asal Polman di Cina, Informasi Dari KBRI Sangat Membantu

Catatan: Muh Mabrur (Polman)

BERSYUKUR bisa segera meninggalkan Cina. Meski harus merogoh kantong dalam-dalam, asal jauh dari wabah virus korona.

Kamis 30 Januari, pemerintah pusat membahas sejumlah opsi evakuasi bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Provinsi Hubei, Cina.

Sedikitnya ada 243 WNI di Wuhan, Provinsi Hubei, pusat mewabahnya virus korona. Mereka masih menunggu kepastian dari pemerintahnya.

Demikian pula bagi WNI yang berada di provinsi lainnya. Sebab, wabah virus ini terus meluas.

Merebaknya virus korona di Cina, berdampak hingga ke Sulbar. Keluarga mahasiswa asal Polewali Mandar, ikut resah lantaran hingga kemarin, anak mereka masih berada di negara tersebut.

Salah satunya, keluarga Nur Khafifah Luthfiyah, mahasiswa Sulbar yang menempuh pendidikan Kedokteran di Zunyi Medical University, Provinsi Guizhou, Cina.

Baca Juga:
Mahasiswa Sulbar Tertahan di Cina

 

Alhasil pihak keluarga Khafifah berupaya agar anaknya segera kembali ke kampung halaman.
Setelah beberapa hari mencari tiket pulang, Khafifah baru mendapat kursi pesawat dengan jadwal terbang, tertanggal Kamis 30 Januari.

Ia terbang menuju tanah air melalui Liangjiang Internasional Airport, menggunakan pesawat Cathay Dragon, sekira pukul 17.00 sore, waktu Cina.

“Saya sementara bersiap menuju ke bandara Liangjiang Internasional Airport,” jelasnya saat dihubungi melalui WhatsApp (WA), kemarin.

Sesuai agenda penerbangan, jelasnya, lama perjalanan untuk sampai ke Indonesia mencapai 7 jam lebih.

Rinciannya, penerbangan menuju Bandara transit di Hongkong memakan waktu 1,5 jam. Lama menunggu 1 jam. Perjalanan selanjutnya, dari Hongkong ke Jakarta butuh sekira 5 jam.
“Kira-kira pukul 23.00 WIB malam, baru tiba di Jakarta,” terang Khafifah.

Melakukan perjalanan ini, ia mengaku menggunakan biaya pribadi lebih dari Rp 4 juta untuk mendapatkan tiket pulang dari Cina ke Indonesia.

“Tidak adaji peningkatan harga tiket tetap sama, terkecuali bila kurs (dollar) naik baru tiket naik,” beber warga Tammangalle ini.

Khafifah menambahkan, sejak wabah virus korona merebak, ia dan beberapa mahasiswa lain sering mendapat bimbingan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Cina.

“Saya juga tergabung di grup KBRI, jadi ada terus arahan. Informasi dari KBRI sudah sangat membantu, terutama orang Indonesia yang ada Wuhan,” paparnya.

Baharuddin, ayah Luthfiyah menguatkan bahwa ongkos pemulangan anaknya memang tidak sedikit. Tetapi dirinya sudah agak lega, sang anak bisa segera meninggalkan Cina.

“Karena kami sangat khawatir pak, dengan merebaknya virus korona di Cina,” sebut Baharuddin.

“Terpaksa mengeluarkan dana mencapai Rp 5 juta lebih agar anak saya bisa kembali. Harga tiket dari Cina ke Jakarta sekira Rp 4 juta. Kemudian dari Jakarta ke Makassar Rp 1 juta lebih, ditambah sewa dari Makassar ke Tammangalle Rp 150 ribu,” singkatnya.

Kabar berbeda datang dari mahasiswa asal Polman lainnya, Andi Tenri Putria, mahasiswa jurusan kedokteran di Jinzhou Medical University, Provinsi Liaoning.

Sementara orang tua Andi Tenri Putria, Abdullah menginformasikan bahwa anaknya juga berusaha pulang ke Indonesia.

Hanya saja, baru bisa meninggalkan Cina di awal Februari mendatang. Itupun harus mencari dulu tiket promo, dengan harga murah.

“Informasi saya dapat dari anak saya akan pulang tanggal lima Februari, jika mendapatkan tiket. Karena infonya ada tiket diskon saat itu. Mudah-mudahan anak saya bisa cepat dapat tiket pulang,” harapnya.

“Kami terpaksa biaya sendiri karena belum ada kabar adanya bantuan pemerintah untuk pemulangan mahasiswa Indonesia dari Cina,” keluh Abdullah. (***)

Komentar

News Feed