oleh

Cakupan Vaksinasi Belum Merata, Tingkat Kematian di 5 Daerah Tinggi

SURABAYA – Hasil asesmen Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, situasi pandemi virus korona di Jatim sudah melandai. Bahkan, kini tak ada lagi daerah berstatus level 4 di provinsi tersebut.

Hanya saja, sejauh ini, masih ada beberapa daerah yang mendapat atensi dari Satgas Covid-19 Jatim. Pemicunya, tingkat kematian masih sangat tinggi dan cakupan vaksinasinya rendah.

Di wilayah Jatim, tingkat kematian (case fatality rate) akibat Covid-19 di sejumlah daerah masih di atas 10 persen. Tertinggi di Blitar yang mencapai 15,28 persen.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Jawa Timur dr Makhyan Jibril menyatakan, pemerintah masih menelaah tren kasus Covid-19 di daerah tersebut. ”Kami mengumpulkan data untuk memastikan penyebabnya,’’ katanya.

Sejauh ini, Satgas Covid-19 Jawa Timur baru bisa memprediksi penyebab kasus kematian di daerah-daera tersebut. Antara lain, layanan kesehatan yang tidak optimal hingga proses tracing.

Dokter Jibril menyebut, tracing juga bisa menjadi penentu. Karena merupakan metode mengungkap kasus positif di bawah permukaan. ”Banyak warga yang terpapar, tapi tidak terpantau. Mereka juga tidak menjalani perawatan. Warga yang seperti itu sering berakhir dengan kematian,” katanya.

Selain Blitar, ada sejumlah daerah lain yang tengah dalam pantauan. Di antaranya, Trenggalek, Jombang, hingga Banyuwangi. Tingkat kematiannya berada di kisaran 12 persen.

Selain itu, yang jadi pantauan satgas adalah daerah-daerah yang cakupan vaksinasinya masih sangat rendah. Ada lima daerah yang jadi atensi. Yakni, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Bangkalan, dan Situbondo.

Cakupan vaksinasi pada dosis pertama di wilayah-wilayah tersebut masih di bawah 20 persen. Lalu, cakupan pada dosis kedua masih di bawah 10 persen. Serbuan vaksinasi di daerah itu sedang digencarkan. Harapannya, ada peningkatan secara signifikan dalam sepekan.

Saat ini, cakupam vaksinasi lima daerah di Jawa Timur cukup tinggi. Yakni, Kota Mojokerto, Kota Surabaya, Kota Kediri, Kota Blitar, dan Kota Madiun. Cakupan lima daerah itu tercapai karena didukung kecepatan vaksinasi pada setiap daerah.

Dokter Jibril menyebutkan, cakupan vaksinasi termasuk aspek yang diperhatikan. Sebab, vaksinasi merupakan upaya pemerintah membangun herd immunity.

Sementara itu, sesuai rencana, hari ini pemerintah pusat akan mengumumkan status penerapan PPKM darurat. Status level yang disandang daerah bisa jadi berubah. Harapannya, tidak ada lagi daerah yang berada di level 4. ”Dan semakin banyak daerah yang masuk level 2 dan level 1,’’ ucap dokter Jibril.

Persebaran virus korona di Jatim memang sudah menunjukkan tren penurunan signifikan. Meski demikian, kepedulian seluruh elemen untuk membantu penanganan pandemi masih sangat dibutuhkan.

Hal itu diungkapkan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Dia mengajak seluruh stakeholder untuk berkontribusi dalam penanganan pandemi. ”Sejak awal, penanganan Covid-19 dilaksanakan secara gotong royong. Pemerintah melibatkan masyarakat, pengusaha, serta beragam kelembagaan,” katanya di sela serah terima bantuan di Gedung Negara Grahadi kemarin.

Dia menyebutkan, di tengah kesiapsiagaan yang hingga kini tetap tinggi, sebagian rumah sakit (RS)/layanan kesehatan tetap butuh bantuan agar makin optimal. Selain itu, penanganan dampak sosial bagi warga terdampak pandemi terus digulirkan. Sebab, beban sebagian masyarakat masih berat. Daya beli mereka juga turun. Karena itu, support dari berbagai elemen sangat membantu mengatasi masalah tersebut.

Dalam serah terima kemarin, pemprov menerima dua bantuan. Yakni, 470 tabung oksigen dan 100 regulator serta 25 ton beras.

Komentar

News Feed