oleh

BUMN Lebih Suka Bayar Influencer, Rapsel Ali: Saya Menangis Lihat Industri Pers Tumbang Satu per

JAKARTA — Politisi Partai NasDem, Muhammad Rapsel Ali melontarkan kritik pedas kepada perusahaan negara. Menurutnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan kementerian lebih mengutamakan membayar influencer ketimbang menyelamatkan media di tengah hantaman Pandemi Covid-19.

Bagi Rapsel, ini sangat tidak adil. Selain influencer bersifat individu, peran media dalam membantu pemerintah selama masa pandemi juga seperti terabaikan. Padahal kata Rapsel, Industri Pers juga sangat berperan dalam penanganan Covid di Indonesia.

“Perusahaan negara lebih mengutamakan membayar influencer dari pada memasang iklan di media, padahal inflencer cuma individu-individu saja, sedangkan media punya banyak karyawan bahkan punya ribuan, plus loper-lopernya,” kata Rapsel di Jakarta, Rabu, 3 Februari.

Anggota Komisi VI DPR RI tersebut menegaskan, ini adalah masalah serius dan sangat memprihatinkan. “Kami partai NasDem sangat prihatin dengan situasi dan kondisi ini dan berencana mengundang pemred-pemred untuk diskusi demi mencari solusi ke depan,” tegasnya.

Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Sulsel 1 itu mengungkapkan, dirinya secara pribadi sangat sedih melihat Industri Pers yang begitu kerepotan selama Pandemi. Apalagi setelah mendengar curahan hati pimpinan media dalam beberapa waktu belakangan ini.

“Saya menangis melihat industri pers tumbang satu persatu. Seminggu ini saya intens ketemu dengan beberapa pimpinan media, mereka sambil tertawa-tertawa pahit menyampaikan mereka sendirian dalam menghadapi situasi ini,” tutur Rapsel.

Kementerian Komunikasi dan Informatika saat ini dipimpin Johnny G. Plate, salah satu petinggi NasDem. Dan menurut Rapsel, mereka tidak sungkan memberikan kritik. “Kami tidak sungkan-sungkan mengoreksinya di group besar NasDem,” tegasnya.

Tapi Rapsel juga berharap bahwa koran-koran maupun media online harus juga lebih aktif dalam memberitakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Jika ini dilakukan, ia menegaskan tidak ada alasan untuk tidak peduli pada Industri Pers.

Apalagi, anggaran untuk PEN ini kata Rapsel sangat besar jumlahnya. “Banyak kok anggarannnya. 0.5 % saja anggaran PEN untuk Industri Pers, itu baru Rp300 miliar lebih. Ini perlu diperhatikan. Sebab Industri Pers juga sangat berperan dalam penanganan Covid,” tandasnya. (amr/fjr)

Komentar

News Feed