oleh

BNPB Berikan Dana Stimulan Korban Gempa

KORBAN gempa bumi magnitudo 6,2 di Sulawesi Barat (Sulbar) akan menerima dana stimulan. Terutama bagi korban yang rumahnya rusak akibat bencana tersebut.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan pihaknya akan segera memberikan dana stimulan bagi warga Sulbar yang rumahnya rusak akibat gempa. Adapun besaran dana tersebut Rp 50 juta untuk Rumah Rusak Berat (RB), 25 juta rupiah untuk Rumah Rusak Sedang (RS) dan 10 juta rupiah untuk Rumah Rusak Ringan (RR).

Besaran dana tersebut merupakan usulan dari Pemerintah Sulbar kepada Pemerintah Pudat melalui BNPB.

“Ini merupakan usulan dari Pemerintah Provinsi Sulbar kepada Pemerintah Pusat melalui BNPB,” jelas Doni dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/1).

Menurutnya, kerusakan rumah warga akibat gempabumi menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten.

“Pemerintah pasti akan memberikan perhatian kepada masyarakat yang menjadi korban, termasuk rumah yang rusak nanti menjadi tanggung jawab BNPB bersama dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten,” tegasnya.

Selain itu, Doni juga mengingatkan kepada masyarakat agar tak mudah terpengaruh dengan hoaks yang beredar dan meresahkan warga.

“Jangan mudah percaya dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” pintanya.

Pernyataan Doni terkait beredar isu yang mengharuskan masyarakat untuk keluar dari Mamuju setelah sebelumnya didahului dengan informasi hoaks gempa susulan yang lebih jauh besar.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan informasi imbauan pemerintah untuk mengosongkan wilayah Mamuju adalah tidak benar. Dikatakannya, BMKG hanya memberi imbauan agar masyarakat menjauhi bangunan yang sudah roboh.

“Tidak pernah BMKG menyatakan hal seperti itu. Yang kami imbau adalah jauhilah bangunan-bangunan yang sudah runtuh,” jelasnya.

“Jauhilah lereng yang rawan longsor dan cukup jauh dari pantai,” imbuhnya.

Terkait jumlah korban akibat gempa, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati menyebut ada 73 orang meninggal dunia.

“Bertambah, menjadi 73 orang, dengan rincian 64 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan sembilan orang di Kabupaten Majane,” katanya.

Selain itu, terdapat 554 korban luka di Kabupaten Majene dengan rincian, 64 orang luka berat, 215 orang luka sedang dan 275 orang luka ringan. Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 27.850 orang yang mengungsi di 25 titik. (Selengkapnya lihat grafis).

Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini memastikan telah melakukan respons cepat dalam penanganan dampak bencana.

“Sudah turun ya sejak bencana terjadi. Tagana di situ bergerak dan dibantu dari daerah sekitar. Semua kita kerahkan,” katanya.

Dikatakannya, sejak bencana terjadi, Kemensos langsung melakukan upaya penanganan dampak di lapangan melalui pilar sosial seperti Tagana, pekerja sosial, dan juga Unit Pelayanan Teknis (UPT) di masing-masing daerah setempat.

Selain bantuan tanggap darurat seperti bantuan logistik yang sudah disalurkan ke lokasi bencana, peran aktif Kemensos juga dibuktikan dengan respons cepat UPT Kemensos di lokasi bencana melakukan penanganan terhadap penyintas.

Di sisi lain, PT Perusahaan Listrik negara (PLN) Unit Induk Wilayah (UIW) Sulselrabar memprioritaskan pemulihan listrik berbagai rumah sakit di Sulawesi Barat, guna memaksimalkan penanganan korban gempa.

“Rumah sakit memang menjadi prioritas kami dalam melakukan pemulihan kelistrikan. Ini menjadi titik vital, khususnya untuk memberikan perawatan kepada korban gempa,” kata General Manager PLN UIW Sulselrabar Awaluddin Hafid melalui keterangannya.

Aliran listrik di beberapa rumah sakit telah normal kembali, seperti di RSUD Mamuju pada Sabtu (16/1) malam dan Rumah Sakit Regional Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) pada Minggu (17/1) ini berhasil dipulihkan.

“Ditambah lagi di RSUD Mamuju ini juga menjadi posko pengungsi gempa,” tambah Awaluddin.

Selain RSUD Mamuju dan RS Regional Provinsi Sulbar, PLN juga sedang berupaya memulihkan kelistrikan di Rumah Sakit Bhayangkara di Mamuju.

“RS Bhayangkara sementara memakai genset. Tapi kami upayakan hari ini dapat menyala kembali dari jaringan listrik PLN,” ungkap Awaliddin.

Selain rumah sakit, secara bertahap PLN telah berhasil memenuhi kebutuhan pasokan listrik di beberapa lokasi vital diantaranya posko-posko pengungsian, Markas Kepolisian Daerah Sulbar, Posko Komando Distrik Militer Bandara Tampa Padang, Posko Stadion Manakarra, Telkom, serta sebagian Penerangan Jalan Umum Kota Mamuju.

Ketua MPR Bambang Soesatyo merasa prihatin dengan sejumlah bencana yang terjadi di Tanah Air sepanjang Januari 2021. Dia pun mengajak pemerintah bersama masyarakat bahu-membahu membantu para korban bencana.

“Tahun 2021 baru memasuki pertengahan bulan Januari, namun sudah banyak terjadi bencana alam di Indonesia. Untuk itu, saya mengimbau agar kita semua tetap waspada,” katanya.

Berdasarkan data BNPB, ada 136 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang periode 1-16 Januari 2021. Bencana tersebut telah merenggut lebih dari 100 korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka.

Karenanya dia meminta Kementerian Sosial (Kemensos) bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat dan BNPB untuk melaksanakan proses evakuasi yang aman.

Serta, menyiapkan tempat penampungan bagi warga, bantuan-bantuan yang dibutuhkan para korban bencana, seperti tenda, selimut, obat-obatan, serta dapur umum dan MCK.

“Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan harus segera membangun posko kesehatan serta menyediakan tenaga medis yang mumpuni dalam menangani korban, baik korban banjir maupun korban gempa sehingga warga yang sakit maupun yang terluka dapat segera tertangani dengan baik,” tegasnya.(gw/fin)

Komentar

News Feed