oleh

Bisikan Pilu Petani Cabai

Bisikan Pilu Petani CabaiBARU-BARU ini, viral sebuah berita. Seorang petani cabai kesal harga cabai murah, dan masuknya impor cabai ribuan ton di saat panen raya.

Oleh: Desi Wulan Sari, M.,Si.
– Alumnus S2 Sosiologi, Fisip-UI
– Pengamat Sosial

Indonesia sedianya adalah negara yang kaya akan alam dan pertaniannya. Berbagai macam hasil pertanian bukan satu hal yang sulit ditemukan. Indonesia mestinya jadi pengimpor cabai ke negara-negara non pertanian di dunia.

Namun fakta ini sungguh membuat para petani cabai negeri ini merasa kecewa. Di saat panen raya, impor cabai masuk ke Indonesia secara bertubi-tubi. Dampak impor ini banyak mempengaruhi penjualan para petani Indonesia.

Cabai yang telah dipanen akan dibawa kemana jika industri dan masyarakat tak membutuhkan cabai dari petaninya sendiri. Harga yang sangat murah tidak sepadan dengan jerih payah modal menanam cabai sejak awal hingga siap panen.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI Bambang Sugiharto menjelaskan, impor cabai sebesar 27.851 ton sepanjang semester I tahun 2021 dilakukan untuk memenuhi industri. Yang menjadi tanda tanya besar para pengamat dan tokoh masyarakat, petani Indonesia dan luas wilayah Indonesia tak mampu memenuhi kebutuhan industri negeri ini?

Dilansir sebuah media nasional, 23 Agustus 2021, pengamat pangan yang juga Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas Muhammad Makky menyebutkan perlu penyelamatan terhadap para petani cabai dengan produknya. Perlunya penyerapan hasil panen ini menjadi hal yang urgent saat ini.

Menurutnya, Kementan RI selaku lembaga negara yang ditugasi meningkatkan produksi bekerja maksimal. Negara mestinya peka melihat kebutuhan para petani, bahkan mendampingi hingga produksi ekspor mampu terlampaui.

Akibat impor berlebihan dan kurangnya keseriusan pejabat negara terhadap para petaninya, bisikan-bisikan pilu para petani cabai kian lantang terdengar. Video viral dan keluhan harga cabai yang rendah ditumpahkan dengan aksi beragam.

Ada yang merusak tanaman cabainya sendiri, ada yang membagi-bagikan gratis ke masyarakat, ada juga yang sengaaja membuang atau membakar cabainya karena tak tahu harus berbuat apa dalam mengatasi masalah ini.

Bukan tanpa alasan, masalah ini merupakan bagian dari kebijakan negara dalam menjalankan otorisasinya terhadap kesejahteraan petaninya. Tetapi apa daya, saat ini tangan mereka “terikat” karena tidak mampu berbuat apa-apa walau hanya sekedar bernarasi mengadukan nasibnya.

Kondisi kini, masalah yang ada sarat pada solusi sistem yang menguasai negeri. Inilah kapitalisme, ciri dari sistem ini akan ada pihak-pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Keseimbangan dalam produksi yang dihasilkan antara industri dan masyarakat petani tidak seimbang. Selalu saja ada indikasi dari faktor-faktor lain yang mencari keuntungan.

Lantas, siapakah yang mau mendengar bisikan-bisikan pilu petani cabai ini? Akankah sistem kapitalis akan selalu memperlakukan kebijakan negeri ini hanya demi penguasa dan pengusaha global? Bagaimana nasib petaninya khususnya petani cabai yang hidup di negeri yang kaya, berlimpah alam dan tanahnya yang subur tetapi kerapkali buntung nasibnya?

Inilah yang perlu diperhatikan saat sebuah sistem diterapkan dengan tujuan hakiki. Layaknya sistem Islam yang senantiasa memiliki fokus kebijakan pada kesejahteraan rakyatnya. Para petani termasuk rakyat yang memiliki hak untuk dilindungi nasib dan keberlagsungan hidupnya.

Terbukti di masa kejayaan Islam, pengembangan teknologi pertanian semakin berkembang dan memungkinkan dikemabngkannya berbagai budi daya tanaman baru di suatu daerah. Hasil pertanian dari dunia Islam telah banyak di ekspor ke penjuru negeri.

Seperti negara Romawi yang mengimpor beras dari negeri muslim yang ditanam para petani muslim di Sicilia dan Spanyol. Amir Cordoba, Abdul Rahman I berperan mengenalkan beberapa jenis tanaman baru termasuk kurma.

Beberapa varietas delima dikenalkan ke Damaskus oleh Kepala Hakim Cordoba, Muawiyah bin Salih. Tentara Dinasti Umayyah dari Timur Tengah ikut memperkenalkan buah tin yang kemudian dibudidayakan di Malaga, Spanyol. Umat Islam juga mengenalkan tebu ke Ethiopia yang kemudian membuat pulau-pulau di Zanzibar, Afrika Timur, terkenal dengan produk gula berkualitas.

Maka, tidak akan ada keraguan dalam sistem Islam saat mengurus rakyatnya. Para petani mampu berkembang dan memiliki kehidupan yang sejahtera. Tidak akan ada lagi nasib para petani yang ditinggalkan pemimpinnya.

Kesulitan menjual hasil pertanian bukan menjadi masalah individu petani, tetapi menjadi masalah negara yang harus segera diselesaikan solusinya secara tuntas. Negara melalui para pemimpin dan pejabat daerahnya akan senantiasa mendampingi mereka. Karena sistem Islam akan selalu membawa rahmat bagi seluruh alam.

Inilah mengapa Islam satu-satunya solusi atas permasalahan umat. Syariat Allah sebagai pedoman hidup manusia baik individu, masyarakat maupun negara. Wallahu a’lam. (***)

Komentar

News Feed