oleh

Biaya Transportasi Mahal Pemudik Jadi Galau

-Opini-1.614 views

Oleh: Nur Aliah, SKM
* Member Akademi Menulis Kreatif

Mudik merupakan salah satu ajang tradisi menjelang hari raya, bagaimana tidak berbulan-bulan sibuk bekerja, bertahun-tahun di perantauan kembali ke kampung halaman bertemu sahabat dan berkumpul dengan keluarga tentu jadi moment yang sangat dirindukan. Berbagai hal pun telah dipersiapkan mulai dari baju baru, oleh-oleh dan tentunya tiket kendaraan.

NAMUN sayang beribu sayang tradisi mudik yang dulunya sangat dinanti kini bikin sakit hati, karena harga BBM, tatif tol dan harga tiket kendaraan melambung tinggi. Hal itu tampak dari mahalnya berbagai tarif yang harus dibayar. Seperti tarif tol Bakauheni-Termanggi Besar, Rp 112.500 untuk kenderaan golongan I; Rp 168.500 untuk kenderaan golongan II dan III; dan Rp 224.500 untuk golongan IV dan V. Penetapan tarif ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 305/KPTS/M/2019 tentang Penetapan Golongan Jenis Kendaraan Bermotor.

Penting dicatat, tarif tol Indonesia khususnya Tol Trans Jawa sebagaimana dikeluhkan publik adalah termahal di ASEAN. Yakni Rp 2.264,6/km (tirto.co.id). Sedangkan Tol Jakarta-Cikampek setelah menggunakan sistem terbuka penuh, dari Karawang Barat ke Karawang Timur melambung luar biasa. Sebelumnya untuk kendaraan Golongan I Rp 2.500 berubah menjadi Rp 12.000, dan Golongan II dari Rp 4. 000 mejadi Rp 18.000 (bisnis.com, 27 Mei 2019).

Adapun angkutan transportasi yang sangat dirasakan pada liburan lebaran tahun ini adalah kenaikan harga tiket pesawat yang diluar daya beli masyarakat umumnya. Padahal, angkutan udara selama beberapa tahun terakhir menjadi andalan para pemudik. Karena selain lebih terjamin keamanan dan nyaman angkutan udara juga lebih cepat mengantarkan ke tempat tujuan.

Seperti rute Jakarta-Padang di tanggal 28 Mei hingga 3 Juni 2019 sold out dan tersisa tanggal 4 Juni Rp 4,6 Juta, dan Jakarta Medan dengan maskap Garuda yang tersisa kelas bisnis dengan harga Rp 9.942.600 (detik.com.) Sementara daya beli masyarakat Rp 1 juta-1,5 juta berdasarkan hasil riset LM FEB UI terhadap Affordability to Pay (ATP/ Keterjangkauan untuk Membayar) dan Willingness to Pay (WTP/ Kesediaan untuk Membayar) (detik.com).

Harga ini melebihi harga tiket ke luar negeri. Sementara harga tiket angkutan kereta api, bis dan kapal juga tidak dapat dikatakan murah. Tidak saja mahal, jalan-jalan raya berbayar yang dibangun tidaklah didesain untuk memenuhi hajat hidup publik, termasuk hajat publik terhadap infrastruktur jalan raya saat liburan lebaran dengan peningkatan signifikan volume kendaraan. Akibat macet parah di sejumlah titik hingga puluhan kilometer dan puluhan jam harus ditanggung masyarakat. Penderitaan yang di alami luar biasa, mulai dari kepanasan berjam-jam, tidak ada fasilitas istirahat hingga buruknya fasilitas toliet.

Presiden Jokowi memberikan solusi atas permasalahan kenaikkan tarif tiket pesawat dengan mengundang maskapai asing masuk ke Indonesia. “Lho kita kan juga terbuka. Yang penting kompetisilah. Saya kira di dalam negeri sendiri kalau ada kompetisi kan bagus,” jelasnya. (News.beritaislam.org)

Lagi-lagi asing diberikan pintu selebar-lebarnya untuk mengepakkan sayap di Indonesia. Padahal maskapai penerbangan lokal pun masih butuh pembenahan. Kapitalisme benar-benar telah membutakan para penguasa sehingga rakyat yang menjadi korban pemerasan. Perizinan atas swasta dan asing akan menimbulkan banyak kerugian bagi rakyat dan keuntungan bagi para penguasa.

Penguasa di era Kapitalisme hanya berpihak kepada pihak bermodal. Keberadaannya hanya sebagai regulator atau fasilitator saja. Tidak memiliki fungsi sebagai pengurus urusan masyarakat. Hal ini sangat jauh berbeda dengan sistem Islam yang telah merancang sedemikian rapi sehingga rakyat tak menjadi melarat, penguasa tak semakin berkuasa.

Mudik adalah tradisi tahunan yang senantiasa dinanti, ratusan bahkan mungkin jutaan orang ikut dalam arus mudik, banyak nilai yang terkandung dalam mudik tersebut ada nilai silaturahim, berbagai oleh-oleh, refresing dari penatnya rutinitas pekerjaan. Sehingga mudik menjadi hajat kebutuhan masyarakat yang harus mendapatkan perhatian yang luar biasa dari pemerintah.
Di dalam Islam, seluruh kekayaan dan infrastruktur diatur oleh negara dikhususkan untuk melayani dan menyejahterakan rakyat bukan untuk kepentingan individual. Dibangun atas dana negara bukan dari hutang piutang yang berbunga.

Dalam Islam , pemimpin adalah pelayan atau pengurus bukan penguasa. melayani masyarakat dengan baik, menyejahterakan bukan menyengsarakan. Sebagaimana sabda Nabi saw., bahwa: “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Dengan kepemimpinan Islam (Khilafah) masyarakat akan diurusi dengan baik. Para penguasa Islam (Khalifah) paham benar mengenai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Tidak terkecuali permasalahan jalan sebagai fasilitas umum termasuk berbagai harga tiket kendaraan dan fasilitasnya yang ada di dalamnya.

Hanya Islam yang dapat memberi kesejahteraan kepada manusia. Menjadikan manusia benar-benar manusia. Hal itu sudah pernah dirasakan selama 13 abad lamanya di 2/3 dunia. Saat itu Islam lah yang berkuasa, bukan sistem kapitalis atau komunis. Maka ini benar-benar menjadi bukti bahwa Islam adalah satu-satunya solusi yang bisa menyejahterakan. ***

Komentar

News Feed