oleh

Bersama DPR RI, BKKBN Bangun Kemitraan Terintegrasi

SIMBORO – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulbar dan Anggota DPR RI Andi Ruskati Ali Baal menggelar sosialisasi kemitraan terintegrasi dengan Proyek Prioritas Nasional bersama mitra kerja di Kantor Kelurahan Rangas Kabupaten Mamuju, Kamis 15 Oktober 2020.

Sosialisasi konseling balita tentang pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan ini diikuti puluhan masyarakat khususnya ibu yang sudah berkeluarga, sekaligus melaksanakan pelayanan KB. Kegiatan serupa juga akan dilaksanakan di lima kabupaten di Sulbar.

Komisi IX Anggota DPR RI Andi Ruskati Ali Baal mengatakan, sosialisasi pelayanan kesehatan tidak bisa terhenti meskipun di tengah pandemi covid-19. Namun harus tetap mengedepankan protokol kesehatan dengan cara, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Karena permasalahan kesehatan tidak bisa di tunda-tunda, khususnya pada persoalan reproduksi dan kehamilan. Sebab, kehamilan ditengah pandemi covid-19 juga bisa berakibat fatal bagi ibu hamil. Selain itu, Ia juga mengajak agar masyarakat tidak memiliki anak terlalu banyak. Kehamilan harus direncanakan dengan baik agar menghasilkan anak yang sehat dan cerdas.

Bersama DPR RI, BKKBN Bangun Kemitraan Terintegrasi
Anggota DPR RI Andi Ruskati Ali Baal didampingi Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak Safrina Salim dan Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar Nuryamin memantau pelayanan KB.

“Saya selaku perwakilan masyarakat Sulbar harus turun langsung untuk mengedukasi dan mensosialisasikan program KB kepada masyarakat. Anak yang direncanakan akan menghasilkan anak yang lebih sehat dan cerdas. Olehnya, jangan terlalu banyak anak, dua anak lebih sehat,” ujarnya.

Untuk mengintervensi perkembangan stunting dan pernikahan dini di Sulbar, lanjut Ruskati, dirinya terus bekerja keras berkeliling ke pelosok desa untuk memberikan bantuan dan edukasi kepada masyarakat, khususnya para ibu agar terus memperhatikan asupan makanan yang diberikan kepada anaknya. Jangan memberikan anak makanan siap saji yang gizinya tidak jelas.

“Sulbar ini merupakan daerah yang kaya. Ikan, sayur mayur dan dan buah-buahan mudah di dapatkan. Tapi karna faktor kemalasan, kita memberikan makanan siap saji kepada anak. Ini lah yang mengakibatkan anak tidak sehat dan cerdas,” ujarnya.

Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak Safrina Salim mengatakan, persoalan stunting terjadi karena kurangnya asupan gizi pada anak. Persoalan kekurangan gizi pada anak disebabkan oleh pernikahan dini. Wanita yang menikah dan hamil terlalu dini akan mengalami kekurangan gizi. Sebab gizi yang dia konsumsi dibagi dengan anak yang dikandungnya. Ini akan membuat anak mengalami kekurangan gizi sehingga pertumbuhan otak anak akan terhambat dan mengakibatkan kecacatan.

Oleh sebab itu, usia ideal wanita untuk menikah pada usia 21 tahun keatas. Sedangkan pria di usia 25 tahun keatas. Pada usia ini, alat reproduksi wanita sudah matang dan siap dibuahi. Jika sudah siap, maka anak yang dikandungnya akan terhindar dari kekurangan gizi dan stunting. Sedangkan untuk pria, usia 25 tahun keatas akan membuat psikologisnya sudah matang dan perekonomiannya juga sudah terarah.

“Untuk mencegah stunting, seharusnya pernikahan dini tidak lagi terjadi. Pernikahan harus di rencanakan dengan matang. Matang di usia, matang di reproduksi, matang psikologis dan matang ekonomi. Setelah menikah, kita kembali merencanakan untuk memiliki anak. Perencanaan yang matang akan menghasilkan anak yang sehat dan cerdas,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Safrina, untuk mendapatkan anak yang sehat dan cerdas, 1000 hari kehidupan anak harus terpenuhi. Pola asuh dan asupan yang baik dan bergizi terhadap anak harus di kedepankan.

Kepala BKKBN Sulbar Nuryamin mengatakan, BKKBN merupakan sebuah lembaga yang bertanggung jawab dalam menyiapkan generasi yang akan datang. Kesiapan generasi kedepan tidak terlepas dari peran orang tua. Sehingga sosialisasi terkait pencegahan stunting, pernikahan dini dan permasalahan lain yang dihadapi orang tua khususnya ibu terus dilaksanakan. Supaya bisa melahirkan generasi muda yang berperan aktif dan bermanfaat bagi NKRI.

“Generasi yang akan datang harus siap dan tangguh. Untuk mewujudkan hal tersebut, kita semua harus berperan aktif dan bertanggung jawab,” ujarnya.

“Angka stunting kita di Sulbar masih tinggi, begitu juga dengan persoalan kesehatan ibu dan anak. Olehnya, saya berharap persoalan ini dapat kita kurangi bahkan tidak ada lagi di jumpai di masyarakt. Kita ingin Sulbar menjadi provinsi terdepan, maju dan malaqbiq di semua aspek,” ujarnya. (ian)

Komentar

News Feed