oleh

Bermewah-Mewah

-Kolom-1.703 views

ADA lagi, ada lagi. Itulah ungkapan tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa kita yang nyaris tiap hari kita disuguhi berita perilaku korupsi.

Perilaku korupsi oleh orang yang justru paling paham bahayanya korupsi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Betapa hati tidak miris bila menyaksikan berita oknum pejabat di daerah kita ini ‘merampok’ uang rakyat untuk memenuhi nafsu serakahnya.
Sepertinya keserakahan inilah yang terus memicu terjadinya tindakan korupsi. Serakah dalam perspektif Islam disebut tamak.

Tamak itu sendiri mengandung sejumlah makna antara lain keinginan mau terus bersenang-senang (hedonis), sebagai perilaku yang ingin menguasai hak orang lain, selalu ingin mendapat hak lebih banyak, dan senantiasa mengurangi hak orang lain dengan cara zalim.

Di saat korupsi yang semakin menjadi-jadi ini tak kunjung berkurang, kita lalu teringat dengan seseorang yang begitu kukuh dalam memberantas korupsi, dialah Baharuddin Lopa.

Nama yang satu ini bagi warga Sulawesi Barat tak asing lagi, bahkan nama ini tersohor di seantero Nusantara dan meleganda sampai saat ini. Pengagum beliau menyebutnya sebagai Pendekar Hukum yang sulit mendapatkan tandingan.

Pada diri beliau ada terkumpul sejumlah karakter positif dan terintegrasi ke dalam diri beliau secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, berani. Dalam sifat berani merepresentasikan sikap tegas, cerdas, amanah, dan bertanggungjawab. Kedua, bersahaja.

Bukan tidak ada uang untuk membeli sesuatu yang mewah, bagi Baharuddin Lopa yang kala itu Jaksa Agung tidak sulit untuk membeli sesuatu yang terbilang mahal dan mewah. Beliau kuatir kalau keinginan bermewah-mewah itu menjerumuskan pada perilaku korup. Sikap beliau yang bersahaja ini kini hilang pada sebagian pejabat kita. Yang ditampilkan di muka umum justru yang mahal dan mewah-mewah. Sikap bermewah-mewah inilah yang menjadi salah satu cikal bakal lahirnya sikap korup pada seseorang.

Kebersahajaan yang dilakonkan oleh Baharuddin Lopa adalah jurus ampuh untuk membasmi korupsi. Ketika hidup bermewah-mewah sudah melanda seseorang maka muncullah sikap serakah dan menghalalkan segala cara.

Kondisi yang begini saat ini sudah menjadi kenyataan dan kita sepertinya sudah habis akal untuk membasmi itu. Puluhan regulasi, pengawasan, dan kebijakan serta petuah agama untuk menghalangi tindakan korupsi ini sepertinya tak mempan untuk berakhir.

Bukan cuman aturan yang dibuat manusia, bahkan Allah-pun empat belas abad silam sudah sedini mungkin mewanti-wanti akan bahayanya hidup bermewah-mewah yang menjerumuskan seseorang dalam sikap korupsi seperti yang dilansir dalam Al-Qur’an surah Al-Takatsur.

Dalam sikap bermewah-mewah muncul pula sikap sombong, selalu ingin disanjung, membanggakan diri dan cenderung memandang remeh orang lain. Dan yang paling berbahaya dari hidup bermewah-mewah cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa keinginannya.

Tidak ada kurangnya kalau hidup bersahaja; malah lebih terhormat, mulia, dan tanpa beban untuk tampil apa adanya. (***)

Komentar

News Feed