oleh

Berharap Jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Kembali Besatu

* Haul Akbar 30 Tahun Syekh Rahman Qadir, Ulama Besar Naqsyabandiyah Majene

Haul annangguru kayyang (guru besar), Prof Dr Syekh KH A Rahman Qadir, ulama tarekat Naqsyabandiyah Majene, sejak meninggal 30 tahun lalu, baru Minggu 21 Juli, diperingati. Peringatan pertama mengenang jasa dan perjuangan Syekh Rahman Qadir berlangsung khidmat dan meriah.

Oleh: Abdul Kadir Tanniewa, Majene

GUBENUR Sulbar, Ali Baal Masdar, Kanwil Kemenag Sulbar, Muflih B Fatta, Bupati Majene, Fami Massiara,dan mantan Buapti Majene, Kalma Katta, turut hadir. Para pejabat petinggi di Sulbar ini ikut menyaksikan langsung berbagai rangkaian acara. Mulai dari penyerahan bantuan kepada 50 anak yatim, dan berbagai acara lainnya, yang berlangsung di Masjid Agung Ilaikal Mashir, Majene.

Andi Sahrul, koordinator acara mengatakan, kegiatan ini untuk mengenang jasa dan hasil perjuangan ulama besar tarekat Naqsyabandiyah di Majene. Melalui haul mendiang kakeknya, seluruh jamaah tarekat Naqsyabandiyah bisa kembali bersatu. Kuat dan tegak kembali di Sulbar, khususnya Majene.

Kedepan, lanjut Sahrul, tarekat ini akan membangun yayasan pondok pesantren melalui majelis jamaah. Dipesantren ini khusus mempelajari 17 ajaran tarekat Naqsyabandiyah. “Kita ingin generasi khalifah di tarekat ini tetap ada sehingga tetap berkembang,” ungkapnya.

Bupati Majene Fahmi Massiara, memaparkan riwayat hidup almarhum. Mulai dari riwayat pendidikan, pekerjaan, hingga organisasi yang dilakoni KH Rahman Qadir semasa hidupnya.

Fahmi juga menyinggung, peran pemuda yang masih lemah dalam kepengurusan tarekat. Kepengurusan masih diperankan usia lanjut. Mestinya, diera globalisasi, generasi mudalah atau kaum milenial yang banyak memegang peranan.

Bupati ingin, umat muslim menumbuhkan paradigma baru. Zaman menuntut agar semua dapat bertahan dan eksis pada ajaran Islam yang sebenarnya. “Sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Melalui haul bupati merekomendasikan almarhum Prof Dr Syekh KH A Rahman Qadir, sebagai pejuang kemerdekaan di tanah Mandar. Itu sebagai referensi bagi almarhum karena pernah mendapatkan penghargaan negara sebagai pejuang Kemerdekaan RI. “Ini dinyatakan dalam petikan SK yang ditandatangani Wakil Panglima ABRI Laksamana TNI Soedomo,” tutup Fahmi.

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar, mengapresiasi pelaksanaan haul akbar. Ia menilai, haul sangat membantu membangkitkan kembali tarekat Naqsyabandiyah di Sulbar. “Kami berharap ini dapat diperingati setiap tahun, agar masyarakat tahu kalau di Majene ada ulama besar,” pintanya.

Selain itu, gubernur menyampaikan terimaksih pada pimpinan pendahulu. Karena dialah kehidupan beragama di Indonesia sekarang berjalan baik, aman dan berbahagia. Sebab itu kita harus memiliki sikap intelektual yang diperlukan bangsa Indonesia. Jadikan Pancasila sebagai pandangan hidup Ideologi Bangsa Indonesia. Karena semua yang baik ada dalam Pancasila. “Misalkan persatuan Indonesia,” ungkap Ali.

Bila masyarakat muslim mengakui ideologi Pancasila, berarti harus menjalankan syariat Islam. Itu tak beda dengan Agama lain, setiap penganutnya tentu memiliki pandangan serupa terhadap Pancasila. “Sebab itu umat Islam harus mengamalkan jiwa persaudaraan yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar mantan bupati Polewali Mandar itu.

Seluruh jamaah tarekat diminta mematuhi ajaran Agama dan senantiasa berbuat yang terbaik. Menurut gubernur, kedewasaan bukan dilihat dari usia muda dan tua, tapi dari cara bertutur kata, bertindak dan berpikir. Lawan yang tidak benar. “Budayakan penyelesaian masalah melalui cara berunding agar berakhir dengan baik,” pinta gebernur.

Dijelaskan pula, tak ada pemerintah yang ingin menghancurkan Negara. Apalagi tidak memperhatikan masyarakatnya. Sebab itu, apapun yang dilakukan pemerintah masyarakat harus mendukung. Perbaiki segala yang buruk dan bersatu tingkatkan pembangunan. “Ayo bangkitkan semangat demi kemajuan Sulbar,” ajak Ali Baal. (*)

Komentar

News Feed