oleh

Beratus-Ratus Istigfar

MANUSIA merupakan kata Arab bersumber dari Al-insu yang berarti lupa. Sehingga alasan inilah manusia itu disebut makhluk yang tidak pernah luput dari salah dan khilaf.

Sumber lain menyebut Al-Insu berarti jinak yang menandaskan bahwa manusia adalah makhluk yang mudah dijinakkan.

Beratus-Ratus Istigfar

Dua makna dari satu kata tersebut menandai manusia sebagai makhluk yang secara terus menerus diingatkan akan eksistensi, tugas, dan fungsinya sebagai khalifah.

Sebagai makhluk yang tak pernah absen melakukan kelalaian, setidaknya puluhan bahkan lebih dari itu dosa yang dilakukan manusia setiap hari.

Dosa-dosa itu antara lain dosa sosial; menelantarkan anak yatim dalam kekuasaannya, mengabaikan perhatiannya kepada tetangganya yang butuh bantuan, tak peduli dengan lingkungan yang rusak, dan tak risau dengan keterbelakangan umat.

Dosa birokrasi; dalam jabatan struktural ia banyak membuat aturan yang kontraproduktif dengan tugas dan fungsinya. Menzalimi hak-hak anak buah, memanipulasi data, menerima gratifikasi, membuat mark up, dan lain sebagainya yang terkait penyelewengan wewenang.

Dosa politik; tidak menepati janji, mendapatkan jabatan dengan cara culas, dan merampas hak-hak masyarakat. Dosa individu; iri hati, sombong, riya, ‘ujub, berniat jahat dan lain sebagainya.

Kaki yang dilangkahkan sejauh mungkin ke tempat maksiat, kata-kata yang diumbar dari sumber dusta dan fitnah, mata yang dipergunakan untuk melihat yang tak layak dilihat, telinga yang mendengar gosip dan umpatan, dan lainnya merupakan dosa yang hampir saban hari dilakukan.

Kalau saja dosa-dosa itu dihitung mungkin akan terdapat puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Dari itulah semua mengapa Rasulullah saw mempraktikkan membaca istigfar sampai seratus kali. Kendatipun beliau orang maksum (terjaga dari melakukan kesalahan dan dosa). Praktik Rasulullah membaca istigfar sampai seratus kali itu merupakan pembelajaran kepada umatnya agar melakukan hal yang sama. Istigfar adalah ungkapan hamba memohon perkenan Allah swt agar mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.

Huruf ‘Sin’ dalam ungkapan istigfar berarti permohonan ampunan dari Allah. Dan bentuk ‘mudari’ (bentuk kata kerja yang menggambarkan suasana kini dan akan datang) pada kata ‘astagfiru’ memberikan makna bahwa seseorang saat itu baru sadar akan dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Demikian juga memohon perkenan Allah swt jika sekiranya hari esok masih melakukan dosa dan khilaf.

Istigfar merupakan pengakuan akan kebodohan dan kelemahan kita yang tidak mampu mengendalikan diri sehingga kadang melakukan dosa dan khilaf. Istigfar juga menjadi penawar atas segala kegundahan hati sebagaimana sabda Rasulullah saw bahwa: “Barangsiapa yang tetap melakukan istighfar, maka Allah swt akan membebaskannya dari segala kesusahan dan melapangkannya dari setiap kesempitan serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduganya”. (HR Abu Dawud 1297).

Saat ini di tengah pandemik Korona, istigfar selayaknya semakin kencang dilakukan. Semoga dengan istigfar kita yang banyak itu menjadi wasilah Allah menjaga dan menyelamatkan kita dari bahaya Covid-19 yang mematikan.

Semakin banyak istigfar kita maka semakin dekat pula pertolongan Allah pada kita. (***)

Komentar

News Feed