oleh

Bencana

-Kolom-1.107 views

Akhir-akhir ini. Sangat sering terjadi peristiwa yang menimbulkan kecemasan. Lebih dari itu, mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat.

Bencana. Yang terjadi karena faktor alam atau non alam, atau gegara ulah manusia. Akibatnya, korban jiwa dan kerugian materi tak terhindarkan. Bencana mengakibatkan juga dampak psikologis bagi masyarakat.

Setiap hari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) menginformasikan prakiraan cuaca. Mengabarkan juga prediksi potensi bencana, seperti angin kencang, longsor, dan banjir, termasuk banjir bandang. Tujuannya, mengingatkan kewaspadaan semua pihak. Untuk mencegah terjadinya korban. Setidaknya meminimalkan jumlah korban bencana.

Sayangnya, yang terjadi hanya kecemasan. Bukan upaya serius melakukan pencegahan. Selalu terlihat pihak yang bertanggung jawab terkesan serampangan. Kegagapan dalam penanganan bencana selalu terulang. Sering terjadi saling harap dan saling tunjuk satu dengan yang lain. Pejabat pemerintah di tingkatan berbeda, malah menyebut soal soal kewenangan sebagai alibi pembenaran.

“Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab mengurusi bencana?” seorang bertanya kepada temannya, di sebuah warkop. “Sebaiknya perjelas pertanyaannya, brother. Urusan bencana yang kamu maksudkan, pencegahan atau penanganan korban?” yang ditanya, menimpali.

Sang penanya memperjelas. Yang dimaksudkan adalah pencegahan korban bencana dan penanganan jika terjadi bencana. Menurutnya, harusnya sejak awal ada upaya antisipasi. Setidaknya untuk meminimalkan korban. “Bukankah begitu, bro?”

Dialog dua sekawan itu cukup seru. Diselingi saling tawa dan saling sindir antara keduanya. Yang satu sangat apriori, mengaku kepercayaannya makin menipis kepada pemangku kebijakan. “Jangan begitu, bro. Pemerintah sudah berusaha keras, tapi bukan satu-satunya yang menentukan keberhasilan.”

Komentar

News Feed