oleh

Belajar Dari Rakyat

-Kolom-2.526 views

AWAL tahun 2021, kita masih disibukkan dengan penanganan korona. Belum usai penanganannya, sudah menyusul berbagai cobaan menimpa negeri ini.

Mulai dari kecelakaan pesawat Maskapai Sriwijaya Air, banjir di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan dan di Bima Provinsi NTB, Gempa di Kabupaten Majene dan Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, tanah longsor di Sukabumi dan Sumedang Provinsi Jawa Barat serta Manado Provinsi Sulawesi Utara.

Tentunya semua cobaan itu membuat hati kita semakin pilu. Apalagi kita yang berada di Sulawesi Barat yang merasakan langsung Gempa yang terjadi Kamis (14/1/2021) dan Jumat (15/1/2021), lalu.

Hingga saat ini dampaknya masih kita lihat dan rasakan. Bangunan pemerintah, rumah sakit, hotel dan rumah penduduk banyak yang luluh lantak, membuat warga banyak terpaksa mengungsi. Bukan hanya mereka telah kehilangan rumah, banyak warga lainnya di sekitar wilayah terkena gempa ikut mengungsi, karena semuanya kuwatir gempa susulan, sebagaimana yang diprediksi BMKG.

Dari bencana ini, kita pun dapat belajar dari rakyat kita. Betapa peduli mereka pada sesamanya. Di tengah kepanikan akan gempa, warga masih sempat saling bahu membahu menolong saudara-saudaranya yang tertimpa reruntuhan gedung dan rumah. Tak peduli lagi korona yang mengintai.

Di benak warga hanya ada tekad, yakni harus dapat menyelamatkan para korban, walaupun dengan alat yang seadanya. Tanpa harus menunggu datangnya bantuan dari pemerintah, mereka sudah bergerak terlebih dahulu.

Di sisi lain, secara spontan warga mengumpulkan bantuan berupa kebutuhan makanan dan minuman, pakaian, tenda dan uang untuk disalurkan ke para pengungsi yang terkena dampak gempa yang ada di posko-posko pengungsian.

Hari Sabtu (16/1/2021) lalu, saat ke Tempat Pelelangan Ikan Majene, beberapa anak muda, sambil membawa kardus dan pengeras suara, berkeliling mengajak warga untuk berpartisipasi mendonasikan uang kepada para korban dan pengungsi. Spontan para penjual ikan maupun warga yang sedang berbelanja mengulurkan bantuan. Saya melihat seorang ibu penjual ikan yang menyerahkan uang seratusan ribu. Boleh jadi itu adalah seluruh pendapatannya hari itu dari jualan ikan. Namun ia memilih menginfakkannya.

Ahh.. malu rasanya ketika melihat orang yang penuh keterbatasan namun tanpa pamrih masih menolong orang lain. Padahal boleh jadi mereka juga masih membutuhkan uluran bantuan karena ekonomi yang pas-pasan. Terlebih lagi saat ini kita sedang mengalami resesi akibat pandemi korona yang berkepanjangan. Tentunya uang seberapapun di tangan, sangat bernilai bagi rakyat kecil.

Minggu (17/1/2021), saat saya dan staf UT Majene ke Kecamatan Tapalang menyalurkan bantuan, nampak masih banyak kendaraan dari para relawan, berjejer menuju lokasi-lokasi pengungsian yang ada di Malunda maupun Tapalang, untuk menyalurkan bantuan. Ada dari luar Sulawesi Barat.

Hari ini senin (18/1/2021), di WAG ada teman yang membagikan video dari salah satu relawan yang melaporkan bahwa masih ada enam desa yang masih terisolasi di Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene, yakni: Sambabo, Kabiraan, Tandeallo, Ulumanda, Popenga dan Panggalo belum tersentuh bantuan dari Pemerintah.

Teringat saat pulang dari lokasi pengungsian kemarin, kami melihat helikopter yang terbang di wilayah Ulumanda, semoga helikopter itu telah membawakan bantuan bagi warga keenam desa tersebut. Mengingat sudah tiga hari pasca gempa, jalan akses ke desa mereka tertutup tanah longsor, maka tentunya mereka sulit mendapatkan bahan makanan dan kebutuhan lainnya.

Terimakasih para warga, kalian telah mengajarkan kita semua, bagaimana caranya sigap membantu para korban bencana. Semoga ada hikmah dibalik cobaan ini. Aamiin.. (***)

 

Komentar

News Feed