oleh

Belajar dari Kemoceng

CERITA hari ini, adalah saat lagi asyik membersihkan ruang tamu dan seisi rumah. Tetiba mata tertumbuk pada kemoceng yang sedang membersihkan debu.

Oleh: Nurdiyah (Dosen FST UT-Majene)

Bulu kemoceng semakin lama kian sedikit. “Sepertinya bulu kemoceng sudah pada rontok dan perlahan tapi pasti menyisakan bulu yang semakin sedikit”. Hal tersebut tentu mempengaruhi kinerja dari kemoceng dalam hal kebersihan yang akan dihasilkannya.

Debu yang harusnya bersih 100 persen, sepertinya hanya bisa bersih dengan tingkat akurasi 85 persen. Itu dikarenakan bulu kemoceng yang sudah tinggal sedikit.

Melihat ini, sejenak diri termenung dan membawa kasus kemoceng pada kehidupan manusia. Kemoceng jika diibaratkan sebagai kreatifitas manusia, maka beginilah kreatifitas yang tidak dirawat. Lalai dalam mengasah kemampuan diri tentunya akan mempengaruhi kinerja diri, meski tak dapat disangkal bahwa usia biologis sangat berpengaruh.

Beragam cara kini dilakukan orang untuk senantiasa merawat diri. Namun terkadang lupa merawat kreatifitas yang merupakan potensi besar yang dimiliki kemudian mengasahnya agar kian tajam.
Selanjutnya pelajaran berharga dari si kemoceng adalah ketika bulu kemoceng yang rontok dan tersapu angin diibaratkan sebagai kata-kata yang telah terlontar. Ia terbawa dan tertiup angin kemana ia berhembus.

Maka benarlah yang dikatakan oleh seorang kiai yang pada suatu riwayat diceritakan bahwa ia pernah mendapat fitnah dari seseorang. Kemudian fitnah tersebut menyebar. Namun setelah fitnah menyebar baru sang penyebar fitnah datang meminta maaf.

Sang kiai kemudian memberi maaf. Tetapi sebelumnya memberi pelajaran berharga kepada orang tersebut. Beliau meminta si penyebar fitnah mengambil kemoceng di rumahnya.

Hari pertama sang kiai memintanya untuk mencabut lembar demi lembar bulu kemoceng yang ada, mulai dari perjalanan dari rumah hingga tiba di pondok sang kiai. Setelah usai ia kemudian melaporkan apa yang telah ia lakukan kepada pak kiai. Dengan wajah letih ia menyampaikan bahwa tugasnya telah selesai dan bermohon agar pak kiai mengampuni kesalahannya.

Sang kiai mengatakan bahwa pelajaran belum usai dan meminta pelaku tersebut pulanglah dulu ke rumahnya. Esok hari diminta untuk kembali lagi dan membawa serta bulu kemoceng yang telah ia cabut dan hempaskan di jalan tadi, ke hadapan pak kiai. Meski dengan tubuh lemas, ia mengangguk dan berjanji akan kembali lagi besok sesuai perintah pak kiai.

Keesokan harinya ia pun kembali berjalan menyusuri jalan yang dilaluinya saat mencabuti bulu kemoceng yang dibawanya. Ia terus mencari sampai ke lorong-lorong, namun sampai di rumah kiai yang ditemukannya hanya lima helai bulu kemoceng dari sekian banyak bulu kemoceng yang telah ia buang.

Ia menghadap pak kiai dan menyampaikan hal tersebut. Tiba-tiba pak kiai bersedih dan mengatakan, “bahwa demikianlah fitnah yang telah engkau sebarkan padaku nak. Walaupun saya telah memaafkanmu, namun jika sebuah ucapan telah keluar meski itu tak benar adanya, ia sudah menyebar terbawa angin”.

Teringat sebuah petuah bijak yang mengatakan bahwa fitnah itu abadi. Dari sini kita dapat melihat bahwa bahkan sebuah kemoceng pun dapat memberi pelajaran berharga bagi diri, ketika setiap kita ingin berpikir dan merenungi setiap apa yang tersaji di hadapan kita.

Penyesalan memang selalu berada di belakang, karenanya perlu untuk senantiasa mawas diri dalam menjalani hidup dan bermasyarakat. Kehidupan akan terus berlanjut hingga kiamat tiba dan waktu untuk mempertanggungjawabkan segala yang kita lakukan di hadapan Allah tiba, Wallahu a’lam bissawab. (***)

Komentar

News Feed