oleh

Belajar Dari Bencana Gempa Bumi

JUMAT 15 Januari 2021, kita dihentakkan bencana gempa bumi yang berpusat di Kecamatan Malunda Majene yang bermagnitudo 6,2 SR.

Oleh: Sholihin Abdurrahman, M.Pd. (Kepala SMP Negeri 5 Mamuju)

Belajar Dari Bencana Gempa Bumi

Gempa bumi yang berawal gempa pembuka(foreshock), Kamis 14 Januari 2021, menjelang sore, berkekuatan magnitudo 5,9. Diikuti beberapa gempa susulan, bahkan masih sempat mencapai magnitudo 4,5.

Kerusakan besar terjadi saat gempa utama (mainshock), khususnya di kota Mamuju, sebagai ibukota Sulbar. Yakni sejumlah bangunan dan gedung bertingkat rubuh dan hancur. Seperti, Kantor Gubernur Sulbar, RS Mitra Manakarra, Bank Bukopin, d’Maleo Hotel, Mamuju Town Square dan beberapa rumah bertingkat milik masyarakat.

Sulbar mempunyai catatan sejarah sebagai daerah yang kerap kali mengalami bencana gempa bumi. Antara lain pada 11 April 1967, berpusat di Polman dengan magnitudo 6,3. Kemudian 23 Februari 1969 di Majene, dengan kedalaman 13 km yang memicu tsunami 4 meter. Terdapat 64 orang meninggal, 97 luka, 1.287 rumah rusak di empat desa. Pada 8 Januari 1984, gempa cukup dahsyat juga terjadi dengan pusat berada di Mamuju dan bermagnitudo 6,7.

Bahkan dari cerita tutur tetua di kampung, ada yang mengatakan gempa di Jazirah Mandar ini, pernah juga terjadi pada tahun 1928. Tapi penulis minim dengan data-data perihal tersebut.

BELAJAR DARI GEMPA BUMI DI SULBAR

Bencana alam seperti gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, gunung meletus dan badai adalah peristiwa alam yang selalu ada. Karena bumi ini bergerak, bermusim dan bercuaca yang memungkinkan adanya perubahan, pergesekan dan peristiwa alam dari yang biasa saja (normal) hingga pada yang luar biasa (tidak normal).

Sekarang adalah bagaimana kita menyiapkan dan merencanakan memperlakukan alam secara baik dan tindakan apa yang tepat dilakukan ketika bencana terjadi.

Sebagian warga di Sulbar, sebenarnya sudah melek gempa. Ini terlihat ketika gempa pertama terjadi dengan skala magnitudo 5,9. Sudah banyak warga mengungsi, terutama di pesisir. Anggapan mereka, setelah gempa terjadi maka kemungkinan akan disusul tsunami. Yaitu naiknya air laut berlumpur kehitaman yang akan menghempas daratan.

Hal ini dilakukan warga di pesisir Kecamatan Malunda Majene, dan Kecamatan Tapalang Mamuju. Warga mengungsi ke wilayah-wilayah lebih tinggi. Pengetahuan ini mereka dapatkan dari televisi dan cerita keluarga mereka yang bermukim di Palu Sulteng yang sudah seringkali mengalami gempa.

Sebagian warga juga lengah, termasuk penulis, khususnya di kota Mamuju. Ketika gempa pembuka terjadi, mereka masih bertahan di rumah masing-masing dan tidak pernah menyangka bahwa akan ada gempa yang lebih tinggi lagi.

Dan apa yang terjadi. Di tengah lelap tidur malam, banyak warga menjadi korban, bersama rumahnya yang bertingkat. Seharusnya, ketika gempa pertama terjadi, warga di kota Mamuju setidaknya jika tidak mengungsi bisa mendirikan tenda di lapangan terbuka dan menjauhi gedung-gedung bertingkat. Apalagi sampai tidur di dalamnya.

Ini harus disupport dengan kuat oleh pemerintah. Mulai gubernur, bupati, camat, lurah/kepala desa, kepala dusun sampai RT bekerja sama aparat terkait. Tidur di luar rumah atau di bawah tenda bisa antara 3 hari sampai 7 hari sampai indikasi gempa susulan betul-betul dipastikan dalam trend penurunan.

Di sisi lain, ada banyak gedung dan rumah warga yang tidak ramah gempa. Banyak struktur bangunan tidak sesuai standar keamanan gempa bumi, sehingga menelan korban jiwa.

Kita patut belajar dari cara Jepang menghadapi gempa. Jepang mewajibkan semua bangunan tahan gempa mulai 1980-an. Kalau ada bangunan rubuh karena gempa, dicari pemborongnya, dan bisa dipidanakan.

Ini juga diterapkan di Taiwan, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. Sehingga, setiap gempa terjadi, yang meninggal sedikit sekali. Sebagai perbandingan gempa Yogyakarta, Indonesia tahun 2006 dan gempa di Suruga, Jepang tahun 2009. Karakteristik daerah sama, jumlah penduduk juga mirip dan tipe gempa sama-sama dibangkitkan sesar aktif. Yang terjadi, gempa Yogyakarta memakan korban jiwa sekitar 5.800 jiwa, sedangkan gempa Suruga hanya satu korban jiwa.

RUMAH PANGGUNG DARI KAYU LEBIH RAMAH GEMPA

Belajar dari kearifan lokal, dari cerita-cerita orang tua kita dulu di Sulbar, apalagi yang sempat mengalami gempa bumi di tahun 1967 dan 1969. Mereka terbiasa mengikat lemari dengan tali. Ketika ditanya, “mengapa lemari diikat tali?” dijawab “khawatir jika ada gempa, lemari akan menjatuhi kita. Dan kita bisa terluka bahkan mati”.

Para tetua kita dulu juga ketika terjadi goncangan, langsung memasak di halaman rumah dan tak berani tidur di dalam rumah. Mungkin karena itu pula, warga di Sulselbar dulu membuat rumah dari kayu atau bambu berbentuk rumah panggung, karena ramah terhadap gempa.

Khususnya rumah batu, banyak warga membuat rumah tidak sesuai kontruksi yang benar-benar aman. Asal pasang batako, pakai besi bencong dan ada juga tidak pakai tulang besi.

Gempa Yogyakarta tahun 2006 dan Padang tahun 2009 itu, banyak sekali rumah yang tidak pakai tulang besi. Jika tidak mampu, lebih baik baik bangun rumah dari kayu atau bambu, jauh lebih aman. Daripada asal, mengakibatkan tembok-tembok bangunan tersebut akan merenggut nyawa kita.

Dengan adanya sejarah gempa yang panjang di Sulbar, tidak bisa ditawar lagi. Harus diadakan migitasi bencana secara terencana, dikomandoi pemerintah dan pengetahuan kegempabumian dan cara menghadapinya harus masuk kurikulum di sekolah-sekolah. Paling tidak, sebagai mata pelajaran muatan lokal. Semoga bermanfaat. (***)

Komentar

News Feed