oleh

Bawaslu-Perguruan Tinggi Bangun Sinergitas

MAJENE – Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, Ratna Dewi Pettalolo, Sabtu 6 Maret jadi pembicara sebuah dialog di Majene. Mengurai agenda Pemilu 2024 yang butuh pelibatan semua pihak. Utamanya perguruan tinggi.

Ratna menyinggung bahwa Bawaslu RI akan memasuki tahapan perencanaan mengahadapi Pemilu Serentak 2024. Mewujudkan Pemilu berkualitas dari sisi proses dan hasil, harus melibatkan banyak pihak. Termasuk di daerah.

Bawaslu-Perguruan Tinggi Bangun Sinergitas

Itu disampaikan dalam Dialog Kepemiluan Bawaslu Sulbar yang juga menghadirkan jajaran KPU Sulbar, Bawaslu kabupaten se provinsi ke-33, serta beberapa perwakilan perguruan tinggi di daerah ini.

“Kita tahu perguruan tinggi ini adalah institusi yang mencetak kaum intelektual yang tentu dibutuhkan untuk bisa memberikan sumbangan pemikiran bahkan menghadirkan sumber daya berkualitas untuk hadir menjadi bagian penting bagaimana melaksanakan Pemilu lebih baik kedepan. Baik nanti sebagai penyelenggara, ataupun dihadirkan sebagai ahli dalam setiap persidangan-persidangan Bawaslu ataupun Mahkamah Konstitusi atau juga menjadi bagian penting menjadi konsultan bagi partai politik,” urai Ratna, usai melakukan sesi diskusi publik, Sabtu 6 Maret, di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sulbar, di Rangas, Majene.

Perguruan tinggi diyakini memiliki idealisme yang baik, sumber daya yang baik diharapkan bisa menjadi salah satu solusi untuk bisa memperbaiki kualitas Pemilu ke depan.

“Saya kira kita memang harus betul-betul memiliki persiapan. Seperti Pilkada dan Pemilu 2024 yang kemungkinan serentak. Pertama regulasi kita belum mengalami perubahan. Sementara kita akan diperhadapkan dengan permasalahan-permasalahan hukum yang sama. Karena aturan kita itu masih banyak yang harus diperbaiki dari sisi dan beberapa terjadi kekosongan hukum, ada norma multi tafsir, ada norma yang tidak konsisten, tidak sinkron seperti hal antara undang-undang dengan peraturan teknis dan sebagainya,” beber Ratna.

Sementara Chuduriah Sahabuddin Rektor Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) Sulbar sebagai salah satu pembicara dalam diskusi publik ini menyampaikan, peran perguruan tinggi itu independen sehingga senantiasa selalu diharapkan bagaimana sinergitas antara Kampus dengan lembaga Pemilu ataupun lembaga lainnya ada.

“Tentu kami berharap bahwa didalam merumuskan suatu kurikulum itu benar-benar memberikan gambaran kepada masyarakat dan bagaimana mereka bisa memahami Pemilihan Umum dan legal obedience atau taat pada hukum,” ucap Chuduriah.

Ia juga berharap, kedepannya ada sinergitas lebih baik dengan pihak Bawaslu. Karena selama ini dinilai belum maksimal.

“Kami sama-sama berharap ada semacam rumusan atau kebijakan yang bisa bersinergi antara Bawaslu dengan perguruan tinggi dan itu mungkin yang bisa kita implementasikan ke masyarakat,” tutupnya.
Acara yang berlansu.

Selain rektor Unasman, dialog ini juga menghadirkan Dosen Ilmu Politik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Muhammad menjadi narasumber. (r2/rul)

Komentar

News Feed