oleh

Batu Bara Lamuru ‘Dikuasai Preman’

BONE–Ketakutan warga bersuara lantang dalam mengeluhkan tambang batu bara di Lamuru memang wajar. Karena dugaannya ada banyak preman yang menambang di atas izin PT Pasir Walennae selaku pemilik Izin Usaha Produksi (IUP).

Kejadian itu terjadi pada tahun 2012 setelah Andi Irsan Idris Galigo melepaskan sahamnya kepada pengelola sekarang. Ada nama Woman Sanusi dan Bahrum selaku pemilik saham terbesar dalam PT Pasir Walennae.

Batu Bara Lamuru 'Dikuasai Preman'

Namun, Bahrum mengonversi sahamnya dalam bentuk lahan L59H. Maksudnya, saham yang dia miliki dia ganti menjadi lahan seluas 59 hektare. Padahal itu adalah lahan masyarakat Forum Mari-Mario (FMM). Bukan sebagai lahan pribadinya.

“Artinya lahan 59 ha dalam klaim penguasaan tambang oleh Bahrum. Ironisnya mereka tetap berlindung pada IUP PT Pasir Walennae,” kata Ketua Forum Mari-Mario, Andi Amirullah kepada FAJAR Rabu 4 November.

Kata dia, di wilayah itulah (L59H) terjadi penambangan tanpa reklamasi. Di samping itu sejak 2017 hingga sekarang PT Pasir Walennae dengan pemilik saham 50 persen menjalin sinergitas dengan FMM pada kegiatan pertambangan terkhusus dalam penanganan lahan pasca tambang disektor tengah. “Sedangkan sektor utara IUP perpanjangan belum diolah,” beber Eks Dekan Pertambangan Uvri itu.

Salah seorang warga sekitar yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku, usia tambang di Victoria sudah lama. Terbilang puluhan tahun namun semakin merajalela ditandai bebasnya para preman-preman masuk menambang tanpa pengetahuan ilmu khusus tentang pertambangan.

“Preman yang menambang. Kadangkala jika ada dianggap menentangnya disebut provokator,” sebutnya.

Malah sambung sumber FAJAR, rata-rata di sini dikelola lahannya oleh pihak ketiga PT Pasir Walennae di hitung secara per ton. Dan per tonnya itu senilai Rp35 ribu untuk yang punya lahan. “Itupun terhitung apabila truk besar telah memuat di penampungan tersebut. Karena ada beberapa tempat penampungan di sini,” bebernya.

Sementara Kepala Desa Massenrengpulu, Batman mengaku, potensi Sumber Daya Alam (SDA) di sini sangat melimpah. Ada batu bara, batu gunung, gula merah, sukun, cokelat, dan peternakan. “Memang dulu peternakan yang dikelola Pak Puton. Sambil mencoba menggali-gali, belum menambang,” ucapnya.

Jika ada warga yang mengkritik soal itu akan ditakut-takuti dengan dalih “Orangnya Polda”, “Orangnya Pangdam”. Semua masyarakat menjadi takut dengan ancaman seperti itu. (gun)

Komentar

News Feed