oleh

Banjir Hanyutkan Rumah di Soppeng, di Barru Jembatan Putus

SOPPENG – Hujan yang mengguyur wilayah Sulawesi Selatan dalam dua hari terakhir memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. Banjir dilaporkan melanda sejumlah wilayah. Di antaranya di Kabupaten Soppeng dan Barru. Di Soppeng, sungai Cabbue, Kelurahan Ompo, Kecamatan Lalabata meluap. Dua rumah warga hanyut terbawa arus yang deras. Masing-masing rumah panggung kosong milik Laupe (55) dan Kesma (45).

Banjir juga memicumeluapnya air sungai Cikke’e, Kelurahan Lalabata Rilau, Kecamatan Lalabata. Naiknya debit air di Bendungan Lawo, Kelurahan Ompo, Kecamatan Lalabata. Air setinggi 20 cm juga tergenang di kolong rumah warga yang sebagian besar berbentuk panggung. Seperti di Desa Paddengeng Kecamatan Donri-donri, dan Desa Donri-donri, Kecamatan Donri-donri.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Soppeng Shahrani mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 Wita. Air sungai yang meluap mengakibatkan rumah di sekitar bibir sungai terdampak dan hanyut.

Luapan banjir diakibatkan pekerjaan bendung yang sementara dalam proses pembangunan. Penahan air yang berada di tengah sungai Cabbue tidak terbuka, sehingga air mengalir deras ke pemukiman.

“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun kerugian material diperkirakan cukup besar dikarenakan dua rumah hanyut, satu rusak,” kata Shahrani, Senin 6 Desember 2021.

Pihaknya tengah melakukan evakuasi warga dan mendata mereka yang terdampak dari bencana tersebut.

Dari informasi Kapolres Soppeng AKBP Muh Roni, dari dua rumah warga yang terbawa arus itu diperkirakan mengalami kerugian material hingga mencapai Rp350 juta. “Kurang lebih Rp350 juta untuk dua rumah yang hanyut,” ujarnya.

Sementara rumah warga yang dibongkar, kata dia, tidak dihitung kerugiannya. Karena pemilik rumah berusaha mengantisipasi dampak banjir dan langsung membongkar rumah sendiri. “Jadi pemilik rumah yang satu ini sudah mengantisipasi dan membongkar rumahnya sebelum tersapu banjir,” jelasnya.

Kapolres mengimbau agar masyarakat tetap berhati-hati dan waspada dengan banjir susulan. Terlebih kepada masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai.

Anggota DPRD Soppeng Andi Samsu Rijal mengatakan, sungai Cabbue sudah menjadi langganan banjir, namun baru separah ini karena adanya proyek pembangunan bendung.

“Dengan adanya kegiatan di sana yang belum selesai, jadi airnya meluap ke sini (sungai Cabbue). Tapi nanti jika sudah selesai, air yang mengarah ke sini akan menjadi kecil,” urainya.

Atas kejadian tersebut, dia pun berharap agar pemerintah memberikan perhatian kepada warga yang terdampak banjir. Terlebih kepada warga yang rumahnya hanyut terbawa arus.

Jembatan Putus

Di Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, aliran sungai Lanrae meninggi hingga mengakibatkan jembatan gantung yang menghubungkan Lanrae-Wattang Nepo terputus. Jembatan yang terbuat dari kayu itu mengalami kerusakan parah, sehingga akses jalan dialihkan melalui Barangtang-Wattang Nepo.

Pihak Pemerintah Kecamatan Mallusestasi dan Desa Nepo sudah turun tangan bersama warga untuk mengantisipasi hal itu.

Camat Mallusetasi Nompo Nasruan yang dihubungi, kemarin mengatakan, telah mengarahkan warga Watang Nepo yang akan ke Laranrae dan Palanro melalui Alakkang, terus ke Barantang menuju Palanro demi menghindari akses jembatan roboh.

Imbas banjir juga menggenangi jalan poros Soppeng-Barru. Tepatnya di kampung Kajuara dan Tampung Cinae di Kecamatan Tanete Riaja. Jalan poros itu tergenang dan menyebabkan arus lalu lintas berjalan lambat.

Wakil Bupati Barru Aska Mappe turun langsung meninjau jembatan gantung yang putus akibat banjir, Senin 6 Desember. Jembatan ini mengalami kerusakan sepanjang 50 meter dan lebar dua meter.

Aska Mappe mengatakan prihatin dengan kondisi tersebut. Ia menghimbau kepada masyarakat agar selalu waspada menghadapi cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi di wilayah Kabupaten Barru.

“Saya mengimbau kepada warga agar waspada dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan disertai dengan curah hujan tinggi serta angin kencang,” ucap Aska.

Selain memutus dan merusak jembatan gantung, hujan deras yang disertai angin kencang juga merusak salah satu rumah warga di Desa Pancana, Kecamatan Tanete Rilau. Rumah milik Awal (20), warga Balu-balu, Dusun Cenrapole, Desa Pancana itu mengalami kerusakan parah.

Kepala Desa Pancana Muh Idris T yang dihubungi melalui sambungan telepon, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, angin kencang menghantam rumah warganya bernama Awal di pagi hari pada pukul 09.30 Wita.

Idris menjelaskan bahwa setelah dihantam angin kencang, atap rumah korban sebagian terbawa angin. Selain itu, beberapa tiang penyanggah atap rumah juga rusak berat. “Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun kerugian ditaksir senilai Rp5 juta,” ujar Idris. (bkm)

Komentar

News Feed