oleh

Balita Asal Sendana Diduga Gizi Buruk

MAJENE – Seorang bayi laki-laki asal Desa Banua Sendana Kecamatan Sendana, menjalani perawatan intensif di RSUD Majene, lantaran kondisinya sangat memprihatinkan.

Buah hati pasangan Rajab (35) dan Sunarti (22) itu, diduga menderita gizi buruk. Itu terlihat dari gejala tubuh bayi yang sangat lemah dan kurus. “Tapi kita bersyukur sebab Khalif Ramadhan sudah menjalani perawatan medis. Bayi delapan bulan ini mulai dirawat sejak Jumat lalu,” kata Kepala Desa Banua Baru Ruslan Said, yang tengah mendampingi warganya di RSUD Majene, Rabu (29/1).

Menurut Ruslan, orang tua Khalif merupakan warga kurang mampu. Itu sebab Ia terus mendampingi warganya untuk menalangi segala biaya yang dibebankan padanya. Terutama biaya pengobatan sang bayi selama di rumah sakit. Namun Ia masih menunggu hasil koordinasi pihak RSUD pada Pemkab Majene terkait pembiayaan Khalif selama dirawat. Semoga saja orangtua pasien bisa diringankan sebab dia tak memiliki biaya. “Kalau seumpama pemkab tidak bersedia membiayai, saya selaku pemerintah desa siap menanggung semua biaya,” jelasnya.

Sesungguhnya, lanjut Ruslan, kalau saja dari awal sudah ada kepastian bahwa biaya rumah sakit akan dibebankan pada keluarga pasien, mereka sudah minta keluar sejak Senin lalu. Tapi kades bersama perangkatnya menahan untuk memastikan jenis penyakit yang diderita sang bayi. Kalau saja anak itu menderita gizi buruk tentu ada perhatian khusus.

“Kemarin kami sudah uruskan BPJS Kesehatan agar dimasukkan sebagai PBI daerah. Tapi saat kami koordinasi ke Dinas Sosial ternyata belum ada kuota. Kondisi seperti ini membingungkan sebab kalau kita daftar sebagai peserta mandiri, tentu keluarga Khalif tidak sanggup bayar iuran setiap bulan. Kan bisa repot nantinya,” keluhnya.

Ruslan menceritakan, pekerjaan ayah Khalif hanya seorang penebang kayu. Sementara ibunya tidak memiliki pekerjaan. Khalif lahir di Palu, Sulawesi Tengah pada Mei 2019. Umur tujuh hari orangtuanya kembali ke Dusun Banua Utara Desa Banua Sendana. Tiga bulan pertama kondisi Khalif normal. Tetapi September Khalif dibawa kembali ke Palu, dan kembali lagi Desember 2019. “Saat itu timbanganya turun dibawah garis merah,” katanya.

Sementara Direktur RSUD Majene Yopie Handayani mengatakan, sampai saat ini diagnosa dokter spesialis tidak menemukan adanya gejala gizi buruk yang diderita Khalif. “Sampai kemarin tidak ada gejala gizi buruk,” tegasnya.

Terkait biaya, menurut Yupie, jika pasien menderita gizi buruk maka Ia tidak akan dibebankan pembiayaan. Tetapi kalau bukan gizi buruk tentu harus mengikuti mekanisme yang ada. (r2/kdr)

Komentar

News Feed