oleh

Azis, Legenda PSM dari Mamuju, Hasil Polesan Ramang

“Peluang itu akhirnya datang, selangkah lagi bisa masuk di PSM. Bermain untuk PSM adalah impian saya sejak kecil. Kesempatan tidak akan datang dua kali, saya harus kembali ke Makassar,” kata Azis Mustamin, pesepakbola andalan PSM Makassar era 80-an.

Catatan: Yudi Sudirman (Pengamat/Pemerhati Sepakbola)

Mendapat info tentang sosok yang satu ini, saya bersama Sudirman Samual, wartawan senior di harian Radar Sulbar, langsung bergegas menuju rumah beliau di bilangan Rimuku, Kota Mamuju.

Azis menyambut kami dengan ramah di bawah tenda, sebagai tempat hunian sementara. Rumah beliau mengalami kerusakan akibat gempa 6,2 Magnitudo yang melanda Kabupaten Mamuju dan Majene dua bulan yang lalu.

Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan kami menyambanginya, beliau pun mulai mengisahkan perjalanan karirnya sebagai pesepakbola.

Azis, Legenda PSM dari Mamuju, Hasil Polesan Ramang
Penulis, Yudi Sudirman, saat mewawancarai Azis Mustamin.

Azis Mustamin, lahir pada 2 Januari 1959 di Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Sejak SD, dia sudah bermain bola. Hingga memasuki SMP, dia kerap memperkuat tim sekolahnya di pertandingan sepakbola antar sekolah se-Kecamatan Campalagian setiap HUT Republik Indonesia.

Tamat SMP, dia melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 4 Makassar.
“Saya mau fokus menjadi pemain bola, punya pelatih dan punya klub, karena dikampung pada saat itu bermain saja tanpa bimbingan seorang pelatih. Makanya saya mau sekolah di Makassar,” ujar Azis yang hari itu mengenakan baju dan celana training adidas abu-abu.

Di SMA 4 Makassar, dia langsung ikut latihan bersama siswa sekolah lainnya, disinilah dia ketemu dengan dua rekannya Kardimin dan Mustafa Umarellah yang kemudian hari menjadi trio yang tidak dapat dipisahkan.

Trio ini mendapat panggilan untuk bergabung dengan klub PS Budi Daya, yang tengah mempersiapkan timnya untuk kejuaraan Fatahillah Cup yang dilaksanakan di Lapangan Karebosi Makassar.

Bersama PS Budi Daya, Azis Mustamin semakin menunjukkan kepiawaiannya, membuat pelatih PSM Junior segera merekrutnya, untuk mengikuti beberapa turnamen sepakbola yang dilaksanakan Komda PSSI Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Sekolah saya jadi berantakan, karena lebih fokus di sepakbola. Saya jarang masuk sekolah. Uniknya, saya naik kelas,” kenang bapak lima anak ini sambil tertawa.

Kondisi demikian, membuat kakak iparnya yang kebetulan dosen di salah satu universitas ternama, prihatin dan menegurnya, karena tidak ingin sekolah Azis terbengkalai gara-gara sepakbola.

Kecintaan Azis Mustamin pada sepakbola tak bisa dibendung. Itu membuatnya berhenti sekolah di SMA Negeri 4 Makassar dan memilih untuk hengkang ke Mamuju, mengikuti kakaknya yang sudah menetap di Jazirah Manakarra.

Di Mamuju, Azis Mustamin kembali lanjut bersekolah dan duduk di bangku kelas tiga SMA Negeri 1 Mamuju. Seperti saat masih di Makassar, tak ada yang bisa menghalanginya untuk urusan sepakbola. Sepulang sekolah, ia kerap latihan di Lapangan Merdeka Mamuju bersama pemain Persimaju lainnya, hingga kemudian masuk diskuad inti tim kebanggaan masyarakat Mamuju itu.

Bupati Mamuju saat itu, Atiek Soetedja, ingin melihat daerahnya maju dalam cabang olahraga sepakbola. Tak tanggung-tanggung, beliau mendatangkan Ramang (legenda Pemain PSM dan PSSI) untuk melatih Persimaju Mamuju. Disini Azis Mustamin semakin terbentuk, berkat sentuhan tangan dingin Sang “Macan Bola” yang melegenda tersebut.

Persimaju saat itu dihuni beberapa pemain diantaranya Hanafi, Arifin, Yusuf, Sudirman, dll. Tidak sampai setahun, dibawa asuhan Ramang, Persimaju Mamuju menjadi tim yang disegani di wilayah Sulsel.

“Kami (Persimaju, red) sering mendapat undangan mengikuti beberapa turnamen di luar Kabupaten Mamuju, seperti di Bulukumba, Bantaeng, Parepare dan beberapa kabupaten lainnya,” terang Azis Mustamin.

Kembali ke Makassar

Azis, Legenda PSM dari Mamuju, Hasil Polesan Ramang
Susunan pemain PSM Makassar 1983

Awal tahun 1981, Turnamen “Toddopuli Cup” berlangsung di Kabupaten Majene. Kompetisi ini diikuti beberapa tim dari kabupaten lain.
Partai puncak dari turnamen tersebut mempertemukan kesebelasan PSM Makassar melawan Persimaju Mamuju.

Match ini menjadi ajang reuni buat Azis Mustamin yang datang bersama Persimaju, karena beberapa rekan setimnya di PS Budi Daya dan PSM Junior juga hadir bersama Tim PSM Makassar, seperti Mustafa Umarellah, Kardimin, Hanafing dll.

Laga final itu berkesudahan 2-1 untuk PSM Makassar, satu gol dari Persimaju dicetak oleh Azis Mustamin. Penampilan apik Azis Mustamin pada laga itu membuat pelatih PSM Makassar Suwardi Arland, langsung mendatangi Azis dan memintanya agar kembali ke Makassar untuk ikut seleksi di tim besutannya.

“Peluang itu akhirnya datang, selangkah lagi bisa masuk di PSM.
Bermain untuk PSM adalah impian saya sejak kecil. Kesempatan tidak akan datang dua kali, saya harus kembali ke Makassar,” urai bapak dari Zico dan Yeyen ini.

Selang beberapa hari usai berlaga di Toddopuli Cup, Azis Mustamin langsung berangkat menuju Makassar, memenuhi panggilan coach PSM Makassar, Suwardi Arland.

Bergabung di PSM Makassar

Azis, Legenda PSM dari Mamuju, Hasil Polesan Ramang
Azis Mustamin (jongkok, kedua dari kiri) bersama PSM Makassar, Divisi Utama PSSI 1985.

Sebelum seleksi tiba, Azis Mustamin kembali bergabung dengan klub asalnya PS Budi Daya, yang akan kembali mengikuti Kompetisi Divisi Utama PSM.
Dalam turnamen antar klub binaan PSM tersebut, PS Budi Daya berhasil keluar sebagai Juara 1, setelah di final menundukkan PS Bima Kencana, di Lapangan Karebosi Makassar.

Sebagai tim juara dan menampilkan performa yang cukup apik selama kompetisi, trio PS Budi Daya: Azis Mustamin, Kardimin dan Mustafa Umarellah, melenggang mulus ke tim PSM Makassar tanpa harus melalui proses seleksi lagi.

Jarang Bicara, Garang di Lapangan

Semasa memperkuat PSM Makassar, Azis Mustamin dikenal sebagai pemain keras.
karakter ini memang sudah menjadi ciri khas tim yang bermarkas di Stadion Mattoanging tersebut.

Hal itu dibenarkan oleh Josef Wijaya, pemain berdarah keturunan, yang merupakan tandem Azis Mustamin di lini belakang PSM Makassar. Dalam perbincangan singkat penulis via telepon seluler dengannya, Josef Wijaya mengatakan bahwa rekannya tersebut dikenal sebagai bek hebat dan tangguh. Dia menjadi salah satu bagian penting di skuad “Pasukan Ramang” kala itu.

“Beliau orang yang sangat baik, santun. Kalau di mess sukanya pakai sarung, sedikit bicara, tapi kalau di lapangan tidak kenal kompromi saat berduel dengan pemain lawan. Dan kerasnya bukan main,” kenang Josef Wijaya yang semasa merumputnya dikenal dengan sebutan “Tembok Putih”.

Juara Tanpa Mahkota

Selama di PSM Makassar, momen paling berkesan menurut Azis Mustamin adalah pada saat PSM Makassar lolos ke enam besar Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1985.

Enam klub yang lolos ke Stadion Utama Senayan Jakarta kala itu. Masing-masing, PSM Makassar, Persipura Jayapura, Perseman Manokwari, Persebaya Surabaya, Persib Bandung, dan PSMS Medan. Saat itu PSM Makassar, mengalahkan Persib Bandung 2-1, yang diperkuat oleh Robby Darwis, Ajat Sudrajat dan Sobur.

Sementara di laga berikutnya menundukkan PSMS Medan yang dihuni sederet bintang seperti M. Sidik, Sunardi dan kiper Timnas Indonesia Ponirin Meka, dengan skor 1-0.

“Namun uniknya justru Persib dan PSMS yang lolos ke Final. Kami kalah selisih gol dari Persib, padahal sama-sama mengoleksi enam poin. Sementara PSMS lolos ke final dengan mengantongi tujuh poin,” tutur Azis.

“Saat itu juaranya adalah PSMS Medan, melalui adu tendangan pinalti, setelah di waktu normal bermain imbang 2-2 dengan Persib. Sementara PSM Makassar hanya finis di urutan ketiga, dan pulang dengan istilah juara tanpa mahkota,” kenangnya.

Terpilih di Tim PON Sulsel

Selain memperkuat PSM Makassar, Azis Mustamin juga terpilih sebagai atlet untuk kontingen Sulsel pada cabor sepakbola yang berlaga pada PON XI Jakarta 1985.

Menariknya, pada tahap seleksi Pra PON yang dilakukan dua tahun sebelumnya, dia bersaing dengan Achmad Djauhari di posisi bek kiri.

Alm. Achmad Djauhari adalah pemain idola Azis Mustamin saat masih membela PSM Makassar. Dia senior juga berasal dari Mandar. Tentang Achmad Djauhari, masih penelusuran informasi untuk ulasan kami berikutnya.

Dalam seleksi itu, pelatih menempatkan Azis di bek kiri, padahal posisi aslinya adalah bek kanan. Sementara di posisi tersebut, dia harus bersaing dengan bek gaek Achmad Djauhari yang merupakan pemain yang sangat dihormatinya.

Karena ditunjang fisik dan stamina yang prima, Azis Mustamin terpilih dalam seleksi tersebut. “Saya hanya bilang, maaf senior. Dan beliau justru bangga dan memberikan motivasi kepada saya, karena yang menggesernya adalah saya, sama-sama berasal dari tanah Mandar,” kenangnya.

Pulang dan Mengabdi di Mamuju

Usai berlaga di Divisi Utama Perserikatan dan PON XI 1985, Azis Mustamin memilih untuk pulang kembali ke Mamuju. Awal masuk di PSM Makassar tahun 1981. Dan sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah Sulsel, dia diangkat menjadi PNS tahun 1983 dan SK penempatannya di Dinas Penerangan Kabupaten Mamuju.

Meskipun tercatat sebagai PNS, Azis Mustamin tak bisa melepas kecintaannya pada sepakbola. Setiap pulang dari kantor, ia kerap memanfaatkan waktu yang ada untuk melatih anak-anak di Lapangan Merdeka Mamuju.

Tahun 1995, ia didapuk untuk melatih Persimaju Mamuju pada kompetisi Liga Sulsel, setelah itu, baru memilih untuk pensiun dari aktifitas bola.

“Kunci sukses adalah fokus, berani mengambil sikap, dan kemajuan sepakbola suatu daerah pembinaannya tidak boleh setengah-setengah,” kata bapak yang tengah menikmati masa purna tugasnya sejak 2017 yang lalu ini. (*)

Komentar

News Feed