oleh

Awal 2021: Korona, Demokrasi dan Alif Ba Ta

-Kolom-2.092 views

DUA minggu sudah kita berada di tahun 2021. Ada yang bilang biasa saja. Liat saja saat perayaan malam tahun barupun, tak ada kembang api atau perayaan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan saat ini pandemi korona masih menghantui seluruh belahan bumi. Masih sama seperti tahun 2020. Bahkan pasca pilkda lalu disusul libur tahun baru, kasus tiba-tiba melonjak naik begitu signifikan.

Awal 2021: Korona, Demokrasi dan Alif Ba Ta

Di tanggal 3 Desember 2020 kasus virus Korona aktif di Indonesia mencapai 77.696 orang, maka per 8 januari 2021 jumlahnya menjadi 808.340 orang.

Beberapa daerah, pasca libur tahun baru kembali menerapkan PSBB. Sedangkan di beberapa daerah, instansi pemerintah ada yang menerapkan sistem kerja dibagi menjadi 75% WfH dan 25% WfO, guna meminimumkan terjadinya penularan baru pasca liburan.

Demikian juga dengan sekolah dan perguruan tinggi, sebagian besar masih belum berani menyelenggarkan belajar secara tatap muka. Siswa masih diminta belajar secara daring.

Kabar terakhir, pemerintah akan segera memberikan vaksinasi Korona, namun itupun masih terjadi pro dan kontra, baik di kalangan ahli maupun masyarakat. Namun terlepas dari itu, semoga vaksin yang disediakan terjamin keamanannya, sehingga dapat memutuskan matarantai korona.

Di awal tahun 2021, kita juga dikejutkan dengan kemunduran demokrasi yang ditandai dengan penyerbuan dan pendudukan gedung parlemen Amerika Serikat yang menyebabkan hilangnya empat nyawa manusia, sehingga memperburuk citra praktik demokrasi Negeri Paman Sam tersebut.

Hamid Awaludin dalam tulisannya di Kompas (9/1/2021) menyebutkan bahwa Amerika Serikat sekarang adalah gambaran buram praktik demokrasi yang selalu dibanggakannya. Fair play, chivalry, accountability, fairness, and sportifity yang menjadi elemen dasar praktik demokrasi kini terkubur di tanah Amerika Serikat. Kini Amerika Serikat menjadi tempat tersemainya anti-thesa demokrasi.

Bahkan Yusran Darmawan, seorang blogger ternama, dalam tulisannya di laman Facebook-nya mengemukakan bahwa kini kita yang berada di Dunia Ketiga malah senyam-senyum melihatnya. Tanpa kita sadari, pelan-pelan orang Amrik belajar sama kita. Saat Capres di Amerika Serikat menolak hasil pilpres, kita lebih dahulu menyaksikannya. Bedanya, bangsa kita punya mekanisme kompromi dan musyawarah mufakat. Capres dapat Menhan, cawapres dapat Menpar. Cerdas kan?
Lihat saja saat Pilkada Desember 2020 lalu, semuanya berjalan lancar, tak ada huru-hara. Rakyat dengan kesadaran tinggi akan hak dan tanggung jawabnya tetap mencoblos walaupun di tengah ancaman pandemi korona yang masih mengintai.

Musyawarah mufakat memang sejak dulu menjadi budaya demokrasi kita. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Baca saja dalam sejarah kerajaan-kerajaan nusantara, tiap ada suksesi Raja, pihak yang kalah pasti dirangkul. Anak sang rival dijadikan istri sang Raja, saudaranya diangkat menjadi Patih (Perdaman Menteri). Walaupun tujuan pragmatisnya agar Sang Raja terpilih dapat mengokohkan tahtanya, namun keluarga sang rival tetap diakomodir dalam pemerintahan, agar negara aman dan tentram. Seperti disebutkan dalam falsafah masyarakat Buton “bolimo karo soanamo lipu” yang artinya “mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan negara”.

Di awal tahun 2021, ada juga kabar menggembirakan, yakni dengan dianugerahkannya Alif Gustakhiyat atau yang lebih dikenal dengan nama Alip Ba Ta sebagai orang Indonesia terpopuler di dunia oleh ITS. Nama Alip Ba Ta yang asal Ponorogo itu menjadi sorotan warganet karena video bermain gitar ala fingerstyle yang ia lakukan sangat populer di Youtube. Sejak 2018, tiap mengunggah videonya bermain gitar, maka berjuta-juta orang menonton aksinya di Youtube.

Brian May, gitaris band legendaris Queen, bahkan pernah mengunggah video Alip Ba Ta yang meng-cover lagu Bohemian Rhapsody di akun Facebook miliknya. Selain itu, video Alif memainkan lagu Love of My Life juga pernah diunggah pada akun resmi Facebook Queen.

Musisi dunia lain yang juga terkesan dengan permainan Alip adalah Synyster Gates. Gitaris grup band Avenged Sevenfold ini mengunggah aksi Alip tersebut di Instagram Stories miliknya, lengkap dengan kata-kata pujian. Selain itu, Alip juga pernah mendapatkan pujian dari gitaris luar negeri lainnya seperti, Alexandr Misko, Fun Two, dan Igor Presnyakov.

Rupaya Indonesia tak pernah kehilangan talenta brilliant. Maka tidak heran Bung Karno pernah berkata “Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”.

Dan itu membuat saya tetap optimis untuk menjalani tahun 2021 yang lebih baik. Semoga. (***)

Komentar

News Feed