oleh

Atasi Kekerasan Anak Dengan Menguatkan Pilar Pengokoh Negara

-Opini-1.059 views

ANAK adalah anugerah dan amanah dari Allah SWT. Dititipkan kepada orang tua dan diberi tanggung jawab dalam merawat, mengasuh dan mendidik.

Oleh: Desi Ratna Wulan Sari, SE.,M.,Si. (Pengamat Publik dan Pegiat Literasi Alumnus S2, FISIP Universitas Indonesia)

Orang tua diberi amanah itu, bukan hanya untuk kehidupan di dunia. Melainkan juga untuk kehidupan di akhirat.

Hari ini kita disuguhkan fakta sangat mengenaskan. Anak-anak menjadi korban kekerasan domestik dan publik. Kekerasan itu, dalam bentuk fisik ataupun verbal. Banyaknya kasus yang muncul di hampir seluruh media menandakan kekerasan pada anak masih terus terjadi.

Diantaranya, anak yang dilecehkan teman, tewas karena perlakuan ibu, bapak, paman, tetangga, bahkan lingkungan tempat tinggal yang tidak mampu melindungi anak dari tindak kekerasan.

Penyebab kekerasan berasal dari faktor luar atau sosial. Kemiskinan, masalah keluarga, sosial, gangguan jiwa pelaku, dan rendahnya pengetahuan pelaku akan efek tindakannya.

Tampak jelas, kemiskinan atau tekanan ekonomi merupakan faktor utama penyebab kekerasan pada anak. Terlebih, tingginya kekerasan pada anak meningkat selama pandemi karena faktor-faktor tersebut.

Di saat kita hidup dalam naungan sistem yang tidak memiliki aturan syariat di dalamnya, seperti layaknya sistem liberalis dan sekuleris yang kian menggurita mengancam anak-anak kita, akan membuat gaya hidup dan perkembangan mental spiritual mereka tumbuh dalam cengkraman gaya hidup yang merusak.

Kebebasan dalam bergaul, menentukan pilihan berdasar kesukaan, menggunakan teknologi tanpa menyaring batasan usia, konten dan manfaat menjadikan mereka semakin jauh dari hukum-hukum Allah.

Para pengusung liberalis sekuleris, menyuguhkan semua itu tanpa rasa bersalah. Mereka memang memiliki tujuan menjauhkan anak-anak dari agama. Akhlak dan akidah yang diajarkan agama tidak boleh melekat dalam pribadi anak-anak kita, karena khawatir akan menjadi penghalang lakunya ‘jualan’ mereka pada unsur 3F yang sudah dikenal yaitu food, fun dan fashion.

Para pengamat sosial dan pemerhati anak, melihat kerusakan sistemik pada anak saat ini dari waktu ke waktu semakin nyata. Sebelum pandemi banyak kasus kekerasan yang dialami anak, tetapi ketika di masa pandemi justru angka kekerasan pada anak semakin tinggi.

Problem sosial semakin kompleks. Keluarga pun kehilangan peran dalam mendidik dan memberi ilmu agama secara menyeluruh, karena ketidakmampuan menyampaikan ataupun tak memiliki ilmu yang cukup dalam mendidik seorang anak akibat penjajahan pemikiran yang terjadi tanpa disadari.

Kejahatan akibat kekerasan pada anak semestinya tidak perlu terjadi, jika negara berperan melindungi anak-anak dalam memperoleh pendidikan pengetahuan dan agama secara totalitas. Hilangnya peran negara, mengakibatkan kegagalan sistemik dalam perlindungan anak. Hingga pengamat sosial dan pendidik negeri ini merasa diperlukan perubahan mendasar dalam menangani masalah kekerasan anak ini.

Islam Menutup Pintu Kekerasan Pada Anak

Kegagalan sistem liberal dan sekuler dalam melindungi anak-anak dari kekerasan menjadi bukti sistem itu tidak mampu mengatasi masalah tersebut. Berbeda dengan sistem Islam yang telah membuktikan cara komprehensif dalam melindungi anak-anak dari kekerasan.

Tidak mungkin dalam menyelesaikan masalah kekerasan dan kejahatan anak jika yang melakukannya hanya individu atau keluarga saja. Negara memiliki beban sebagai pengayom, pelindung, dan benteng bagi keselamatan seluruh rakyat, demikian juga anak.

Nasib anak menjadi kewajiban negara untuk menjaminnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yagn memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)

Maka, perlunya mengokohkan kembali pilar penguat negara yang akan menutup pintu kemudaratan, kemaksiattan termasuk kekerasan pada anak, yaitu dengan mengetahui akar masalah yang perlu diperbaiki oleh negara.

Dan Islam telah memberi solusi terbaik, antara lain: Pertama, mengokohkan kekuatan ekonomi. Dengan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin kebutuhan rakyatnya. Sehingga ketika seorang ibu ingin menjalankan kewajibannya untuk mengasuh, menjaga dan mendidik anak tidak dibebani tanggung jawab mencari nafkah.

Kedua, mengokohkan sistem pendidikan. Pendidikan Islam adalah contoh terbaik yang pernah ada. Dimana peran Negara wajib menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang akan melahirkan individu bertakwa. Individu yang mampu melaksanakan seluruh kewajiban yang diberikan Allah dan terjaga dari kemaksiatan apapun yang dilarang Allah. Sehingga orang tua mampu mengantarkan sang anak pada gerbang kedewasaan.

Ketiga, mengokohkan sistem sosial yang menjamin tertutupnya pintu kemaksiatan. Negara dengan wewenangnya mampu mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan berlangsung dengan ketentuan syariat. Misalnya perempuan dan laki-laki diperintahkan untuk menutup aurat dan menjaga kesopanan, serta menjauhkan mereka dari eksploitasi seksual; larangan berkhalwat; larangan memperlihatkan dan menyebarkan perkataan serta perilaku yang mengandung erotisme dan kekerasan (pornografi dan pornoaksi) serta akan merangsang bergejolaknya naluri seksual. Keitka sistem social Islam diterapkan tidak akan muncul gejolak seksual yang liar memicu kasus pencabulan, perkosaan, serta kekerasan pada anak.

Keempat, mengokohkan media massa dengan pengaturan penyebaran informasi yang bermanfaat, konten yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Apapun yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hukum syara akan dilarang keras.

Kelima, melakukan sistem sanksi sesuai dengan hukum syariat yang Allah tetapkan. Termasuk kejahatan kekerasan pada anak dalam bentuk apapun akan menerima hukuman yang setimpal, sesuai hukum syariat yang berlaku. Yang memiliki efek jera dan menjerakan si pelaku. Wallahu a’lam bishawab. (***)

Komentar

News Feed