oleh

Aslan, Merumput Bersama Sepuluh Klub Profesional

SIAPA sangka kalau Aslan, striker yang menjadi duet Kurniawan Dwi Yulianto di PSM Makassar Ligina V dan Ligina VI ini, awalnya adalah pemain pinggir sungai.

Oleh: Yudi Sudirman (Pemerhati/Pengamat Sepakbola)

“Dari kecil saya sudah main bola, mainnya di tepi sungai Mandar yang letaknya tidak jauh dari rumah,” ucap Aslan membuka pembicaraan via telepon seluler dengan penulis.

Ia mengisahkan, setiap PS. Mandala Putra (sebuah klub yang ada di dusunnya di Desa Lembang-lembang, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polman) mau bermain dalam beberapa turnamen antar kampung (tarkam), dirinya selalu ikut menonton.

Aslan menceritakan, hal paling menyakitkan kalau ia sudah di mobil truk (kendaraan tim) lantas disuruh turun karena dianggap bikin sempit, padahal kakaknya ada di tim itu.

“Disitulah saya bertekad harus bisa main bola, masuk tim, dan dipanggil untuk main dimana saja,” kenang Aslan.

Gayung bersambut, ketika sudah duduk di bangku Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah, ia sudah mendapat tempat menjadi bagian dari PS. Mandala Putra Lemba-lembang. “Disini saya mulai ditempa sampai berlanjut ke SLTA,” ucapnya.

Sama seperti pendahulunya (Arief Kamaruddin), Aslan pun melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Majene. Sekolah favorit buat insan sepak bola di Majene dan Tinambung kala itu.

Selama bermain membawakan nama sekolah tersebut, sederet gelar juara berhasil dipersembahkan.

Menonjol di sekolah membuatnya dipanggil untuk memperkuat Kecamatan Limboro di Pekan olahraga antar Kecamatan, lanjut ke Porwil dan Porda bersama Kabupaten Polmas (sekarang Polman) dan terpilih untuk mengisi skuad PS. Sandeq Polmas.

Pada turnamen Habibie Cup 1998 yang dihelat di stadion S. Mengga Polewali, PS. Sandeq kala itu sebagai tuan rumah berhasil meraih trofi juara setelah dipartai final menaklukkan PS. Bosowa, wakil dari Makassar.

Di laga final inilah Aslan langsung mendapat panggilan dari M. Basri yang didatangkan khusus sebagai penasehat teknis PS. Sandeq kala itu untuk ikut bergabung dengan PSM Makassar.

Bergabung Dengan PSM Makassar

Di “Juku Eja” Aslan bermain dua musim. Ligina V 1998/1999, hanya mampu mengantar Pasukan Ramang sampai di delapan besar.

Ligina VI 1999/2000, PSM Makassar yang bertabur bintang seperti Hendro Kartiko, Ronny Ririn, Bima Sakti, Aji Santoso, Yuniarto Budi, Yusrifar Jafar, Kurniawan Dwi Yulianto dan Miro Baldo Bento, membuat Aslan harus bekerja keras agar mendapat tempat sebagai starter.

Namun petaka menimpanya pada babak penyisihan kala itu. Ia kena tekel brutal dari salah seorang pemain Gelora Dewata Bali hingga mengalami cedera serius dan memaksanya untuk istirahat sampai akhir liga, meski endingnya PSM jadi juara pada musim ini.

Hengkang dan Awal Petualangan

Lama berkutat dengan cidera, membuatnya terparkir beberapa bulan, hingga rasa jenuh itu datang dan memutuskan untuk mengembara di Bukit Tursina Bontang.

Sebulan beradaptasi di Bontang sampai manejemen PKT siap menampungnya. Meski demikian harapan untuk mengisi skuad “Laskar Bukit Tursina” tidak semulus yang dia bayangkan. Kontrak pun urung diteken karena ternyata masih terikat dengan Klub lamanya, PSM Makassar.

Bolak balik mengurus di sekretariat PSM Makassar tapi tak kunjung ada kejelasan, akhirnya Aslan memutuskan untuk pulang kampung.

Di kampung, Aslan kembali bergabung dengan PS. Sandeq Polmas untuk mengikuti Kompetisi Divisi Dua Zona Sulawesi tahun 2001.

Sayang pada laga final yang mempertemukan PS. Sandeq Polmas vs Persim Maros yang berlangsung di Stadion Lakidende Kendari, lagi-lagi Aslan terkendala tak bisa turun karena belum ada pemutusan kontrak dari manajemen PSM Makassar.

Musim 2001/2002 adalah masa bangkitnya kembali setelah lama dibekap cidera. Pada musim ini langsung bergabung dengan Persim Maros di kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia sampai musim 2003/2004.

Tiga musim bersama “Laskar Marusu”, Aslan mulai petualangan di berbagai klub, seperti Persibom Bolaan Mongondow di Divisi Utama. Berikutnya
Gaspa Palopo, Persisam Samarinda, PSP Padang, Persepar Palangkaraya, Persipur Purwodadi, PSPS Pekanbaru dan sempat bermain di LPI bersama Semarang United. Hingga akhirnya memutuskan untuk pensiun.

Saat ditanya apa pesan buat anak-anak khususnya di Mandar, Sulawesi Barat, yang ingin berkarir sebagai pesepak bola? “Kalau ingin memulai harus benar-benar fokus, kerja keras, disiplin. Kemudian paling penting jangan langsung cepat merasa puas dan tetap merendah,” ujarnya menutup perbincangan. (*)

Komentar

News Feed