oleh

Arti 0,01

NAMANYA Ibrahim Waly, biasa kami memanggilnya Ebeng. Pertama kali mengenalnya saat kami sama-sama kuliah di Ambon tahun 1995. Berkulit putih, berambut pirang mirip bule, padahal ia asli Ambon keturunan Buton.

Walau berasal dari keluarga kurang mampu, Ebeng tergolong cerdas. Prinsipnya, kita boleh kalah secara ekonomi, tapi harus menang dalam akademik.

Karena kerusuhan di Ambon 1999, kami terpisah. Tahun 2000, saya pindah kuliah ke Surabaya. Ia bersama teman-teman eks FTP Unpatti lainnya berkuliah di ITS. Namun karena saya melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), maka kami sangat jarang bertemu.

Hingga akhirnya beberapa minggu lalu kami dipertemukan melalui _WhatsApp Group_ (WAG) Alumni FTP Unpatti’95. Saat berbagi kisah di WAG, barulah saya tahu alasannya dulu ketika kuliah di Surabaya jarang kumpul bareng dengan teman-teman.

Sesuai penuturan semua teman yang lanjut di ITS, tekanan melanjutkan kuliah di ITS sangat berat. Mereka dituntut harus memiliki “kemampuan akademik lebih” dibandingkan “mahasiswa asli ITS”. Itupun harus mulai dari semester awal lagi dan wajib mengikuti martikulasi selama dua semester.

Semua dibuatkan kontrak perjanjian di atas materai untuk dipatuhi. Jika IPK mencapai minimal 2,50, barulah pihak fakultas mengakui mereka sebagai “mahasiswa sah” ITS. Jika tidak maka _Drop Out_ (DO).

Saat martikulasi, semester satu IPK Ebeng hanya 1,80 sehingga menambah bebannya untuk berjuang lebih keras lagi di semester dua. Namun saat itu Ia masih percaya diri. Cita-citanya untuk bisa lulus di ITS memberikan suntikan semangat untuk belajar lebih giat.

Ebeng sadar akan kemampuannya menggambar, maka pada semester dua Ia mengambil matakuliah yang ada tugas gambar. Rancangan kapal 1 sampai 5 diambilnya.

Singkat cerita, pengumuman nilai semester dua pun tiba. Saat mengambil Lembar Kemajuan Akademik (LKA) IPKnya hanya 2,48. Hatinya hancur saat Kajur menyatakan tidak bisa lagi lanjut di ITS. Namun untungnya nilai matakuliah Rancangan Kapal 3 sampai 5 belum keluar. Maka Ia pun meminta waktu kepada Kajurnya untuk mengurus nilai ke dosen matakuliah tersebut.

Kebetulan Dosen Rancangan Kapal 3 sedang mengajar, Ia menunggu di depan ruang kelas dengan penuh cemas. Setelah selesai mengajar, sang Dosen pun memeriksa tugas gambar 3 milik Ebeng dan memberikan nilai BC. Bergegaslah Ia ke lantai dua fakultas bertemu Kajur untuk menghitung kembali IPK-nya. Namun rupanya hanya mencapai 2,49. Masih kurang 0,01. Kajur kekeh tetap tidak memberikan toleransi bagi Ebeng melanjutkan kuliah di ITS. Karena sesuai kontrak perjanjian IPK minimum harus 2,50.

Maka kembali ia meminta izin mengurus nilai Rancangan Kapal 4 ke dosen lainnya. Saat itu sudah jam 5 sore. Ebeng diberi kesempatan sebelum magrib, nilainya sudah harus diserahkan ke Kajur. Secepatnya ia mencari dosen Rancangan Kapal 4.

Sambil mencari dosen di LAB, ia bergumam dalam hati “mungkin _Beta seng_ bisa kuliah lagi karena IPK masih kurang 0,01”. Saat itu belum ada handphone seperti sekarang, yang memudahkan menghubungi dosen.

Karena tidak menemukan dosen yang dicari, sementara hari semakin sore, maka Ia pun memilih hendak pulang ke kos-kosan. “Biarkan saja di-DO” kesalnya.

Sewaktu keluar pintu kampus, Ia bertemu salah satu mahasiswa yang sama-sama mengambil matakuliah Rancangan Kapal 4. Sang teman memberi tahu jika dosen yang dicari sedang mengajar di ITATs.

Jarak kampus ITS dengan kampus ITATs sangat jauh, 5,3 Kilometer. sementara uang di kantong tak cukup untuk naik angkot ke sana. Maka ia pun nekat berlari menuju ITATs. Semuanya demi mendapatkan tambahan 0,01 untuk memenuhi IPK-nya.

Saat tiba di depan kelas tempat dosen mengajar, sekujur tubuhnya basah dengan keringat. Dadanya sesak, nafasnya ngos-ngosan.

Ia menengok di dalam kelas, dosen sedang mengajar. Ia tak sabar menanti, karena waktu semakin dekat jam 6 petang, waktunya sholat magrib. Batas akhir yang diberikan oleh Kajur.

Bersyukur dosen tersebut tak lama keluar ruangan. Ebeng bergegas menyerahkan gambarnya. Sang dosen memberikan nilai A.

Melihat nilainya, wajah Ebeng berbinar. Seketika itu juga sinar asa menerangi hatinya. Ia kembali berlari sejauh 5,3 Kilometer menuju kampus ITS menemui Kajur.

Setibanya, ia langsung menerobos masuk ruangan. Tak ada lagi salam. “Sorry Pak, ini nilai saya” katanya sambil melirik jam di dinding. Lima menit lagi jam 6 sore.

Setelah dihitung kembali IPK-nya naik menjadi 2,75. Bahagialah dia. Tak sia-sia berlari bolak balik mencari dosen ke ITATs hanya untuk mencari tambahan 0,01.

Mendengar kisahnya, kami semua di WAG salut.

Masa perjuangan itu telah berlalu. Ia sudah menjadi sarjana _naval architect_ dan sekarang _Owner Rep_ pada _Project Floating Production Storage and Offloading_, yang menyediakan kapal jenis _drilling_ untuk perusahaan migas milik India.

Semoga menjadi inspirasi bagi mahasiswa masa kini, bahwa saat itu 0,01 begitu berartinya dalam menggapai cita-cita. (***)

Komentar

News Feed