oleh

Arief Kamaruddin, Juara dari SD Hingga Perserikatan

DALAM perbincangan singkat via telepon dengan pemain yang identik dengan nomor punggung 16 ini, ia mengisahkan perjalanannya hingga bisa menjadi pemain sepak bola profesional di Indonesia.

Catatan: Yudi Sudirman (Pemerhati/Pengamat Sepakbola)

“Sejak SD (Sekolah Dasar) saya sudah bermain bola. Pernah suatu ketika ada turnamen sepak bola antar SD se- Kecamatan Tinambung kala itu. Dari beberapa SD yang ikut menjadi peserta, akhirnya kami SD 2 (asal sekolahnya) yang keluar sebagai juara,” kenangnya.

Dan sejak saat itu dia giat bermain, ditunjang dengan dukungan orang tua yang kebetulan menjadi pelatih salah satu klub amatir di Kecamatan Tinambung.

Memasuki SMP, bakatnya semakin kelihatan sampai pengurus PS. Polmas langsung merekrutnya. Bermain di PS. Polmas di usia yang masih sangat muda tidaklah mudah, karena masih banyak senior yang lebih hebat dan ini berlanjut hingga Arief melanjutkan pendidikannya di tingkat SMA.

Bersekolah di SMA 2 Majene dengan status pemain PS. Polmas membuat kemampuannya semakin menonjol. Ini dibuktikan dengan membawa sekolahnya menjuarai beberapa turnamen di Majene, sampai SMA 2 menjadi sekolah primadona buat anak-anak yang hobinya main bola di Kabupaten Majene dan Kabupaten Polmas khususnya Tinambung.

Di Majene, nama Arief Kamaruddin mulai ramai dibicarakan, sampai pengurus Gasman Majene meminjamnya ke PS. Polmas kala mewakili wilayah satu (Polemaju) di turnamen Suratin Cup Zona Sulawesi Selatan yang dihelat di Stadion Lagaligo Palopo.

“Kami (Gasman, red) sampai naik mobil truk menempuh perjalanan sekitar 300 Km kesana,” tuturnya.

Setelah Suratin Cup di Palopo, giliran klub asalnya PS. Polmas juga mengikuti turnamen Suharto Cup di Kabupaten Sidrap, sebuah turnamen bergengsi yang diikuti semua kabupaten di Wilayah Sulawesi Selatan. Itu merupakan awal diliriknya pencari bakat dari Makassar Utama (Klub sepakbola Ujung Pandang yang ikut di Kompetisi Galatama).

Pada saat itu PS. Polmas hanya sampai diposisi Runner Up setelah di partai puncak dihentikan oleh PS. Semen Tonasa yang mewakili Kabupaten Pangkep.

Pasca Turnamen Suharto Cup, Ilyas Haddade dari Makassar Utama langsung mendatangi SMA 2 Majene setelah mendapat info dari pengurus PS. Polmas bahwa Arief Kamaruddin adalah siswa di sekolah tersebut.

Dia meminta kepada kepala sekolah agar diizinkan bergabung di Makassar Utama. Melihat prestasi Arief selama ini yang selalu mengharumkan nama sekolah akhirnya sang kepala sekolah mengizinkan dan Arief pun bersedia dengan syarat numpang belajar saja di Makassar tapi ujiannya nanti di Majene. Terjadilah kesepakatan, dan nama Arief Kamaruddin pun terdaftar sebagai siswa di SMA Nasional Makassar.

Bermain di Kompetisi Galatama saat masih duduk di bangku SMA merupakan prestasi yang luar biasa pada saat itu. Tidak mudah menembus klub profesional apalagi anak dari kampung yang tinggalnya jauh dari Kota Makassar. Dan itu yang sudah dialami oleh Arief Kamaruddin di era 1987-1988.

“Hari pertama di Kota Daeng langsung diantar ke salah satu toko olahraga di Jl. Sombo Opu. Disitu saya langsung dibelikan sepatu bola merek Lapplata,” kenangnya.

Sekitar dua minggu berlatih, tiba saatnya ke Pulau Sumatera untuk melakoni laga tandang melawan Lampung Putra. Saat berangkat dari Makassar, posisi saya masih cadangan, karena masih ada senior Karman Kamaluddin yang susah digeser posisinya.

“Di hotel tempat kami menginap, saya satu kamar dengan beliau (Karman Kamaluddin), dia senior yang baik, selalu berbagi pengalaman, saya menganggapnya dia sebagai guru,” ujar Arief. Entah kenapa malam itu Karman tidak enak badan dan dipastikan tidak bisa turun lapangan keesokan harinya.

“Akhirnya pelatih memanggil saya untuk dipersiapkan turun sebagai starter menggantikan Karman Kamaluddin. Disini saya tak habis pikir, ini adalah momen yang tepat mengeluarkan segala kemampuan, kesempatan ini tak akan datang dua kali, saya harus menunjukkan kepada mereka bahwa saya juga bisa ketika dikasi kepercayaan, sampai pagi saya tidak bisa tidur memikirkan laga yang menjadi debut saya di Kompetisi Galatama ini,” tuturnya.

Alhamdulillah, dalam laga melawan tuan rumah tersebut Arief an kawan-kawan menang 2-1. Satu gol yang tercipta adalah dari tendangan salto Arief Kamaruddin.

“Mungkin secara kebetulan, begitu Mustafa (sayap kanan Makassar Utama) menggiring bola dari sisi kanan dan langsung mengumpan. Saya seperti digerakkan untuk salto sambil menendang. Dan bukk…. bola bersarang di jaring gawang Lampung Putra,” ujar Arief mengenang gol perdananya bersama Makassar Utama.

Penampilan perdana yang meyakinkan, membuatnya mendapat tempat sebagai line up dalam pertandingan selanjutnya. Sayang di penghujung 1980 pemilik klub Makassar Utama, Bapak Jusuf Kalla, membubarkan klub.

Berita Makassar Utama bubar, membuat pemilik klub lain di kompetisi Galatama merekrut beberapa eks pemainnya, salah satunya adalah PS. PUMA (Putra Mahakam), tim yang bermarkas di Samarinda yang belakangan berganti nama menjadi Putra Samarinda (Pusam).

“Saya direkomendasikan oleh Pak Syamsuddin Umar bersama Alm. Ali Baba, Syahril, Andi Boni Abdullah dan Andi Alfian. Kami berlima langsung mengisi skuad Putra Mahakam. Satu musim disana empat teman saya memutuskan untuk kembali ke Makassar. Saya masih bertahan karena ingin bekerja di perusahaan, entah kenapa meski ada tawaran dari Pupuk Kaltim Bontang dan PS. Perkesa 78, saya malah nekad pulang menyusul empat teman saya ke Makassar, hingga akhirnya saya berlabuh di tim “Juku Eja” PSM Makassar tahun 1991,” kenangnya.

Bermain di Perserikatan atmosfernya jauh lebih bergengsi dan panas dibanding Galatama. Meski Galatama terbilang keren dan profesional, namun animo masyarakat untuk datang menonton sangat kurang, karena kompetisi Perserikatan fanatisme kedaerahan sangat kental, bahkan PSM Makassar terasa mewakili daerah Sulawesi Selatan.

Setahun bersama PSM langsung mengukir prestasi dengan merengkuh trofi paling bergengsi, Juara Perserikatan 1992, setelah 26 tahun menunggu atau terakhir diraih 1966.

Musim 1993-1994, Arief Kamaruddin bersama PSM Makassar nyaris kembali juara. Sayang, langkah mereka terhenti di partai puncak dan tak berdaya menghadapi keganasan Persib “Maung Bandung” yang melumat dengan skor 2-0.

Musim 1994/1995 adalah momen bersejarah dengan digabungkannya Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia. Pada musim Ligina 1, PSM Makassar tak bisa berbuat banyak dan hanya bertengger di posisi 10 wilayah timur.

Nanti Ligina II, barulah laskar ‘Ayam Jantan dari Timur’ berkokok kembali, dengan melaju sampai ke Final. Di babak semifinal melawan tim “Mutiara Hitam” Persipura Jayapura adalah momen yang tidak bisa dilupakan oleh Arif Kamaruddin. Karena sampai menit ke-75, PSM tertinggal 1-3. Berkat kesabaran dan kepercayaan diri yang tinggi, Yeyen Tumena dkk akhirnya mampu membalikkan keadaan menjadi 4-3.

Dan diantara 4 gol yang tercipta salah satunya adalah tendangan jarak jauh Arief Kamaruddin yang membentur mistar gawang dan terpantul dipunggung Helconi Hermain (kiper Persipura), dan bola bersarang di gawang anak-anak Papua.

Sayang pada partai final di Stadion Utama Senayan, Jakarta, malam itu hujan mengguyur. Itu membuat permainan Luciano Leandro dan Jaksen F Tiago tidak bisa berkembang, Tim Juku Eja harus mengakui keperkasaan “Maung Totol” Bandung Raya yang dimotori Feri Sandria dkk, memaksa Ansar Abdullah memungut bola dalam jaringnya sebanyak dua kali. Bandung Raya Juara, PSM Makassar Runner Up.

Ligina lll PSM Makassar sampai semifinal. Kemudian, musim Ligina IV 1997/1998, putaran pertama PSM Makassar sudah diposisi puncak, namun liga ini terhenti akibat pergolakan politik dan krisis melanda bangsa Indonesia.

Dan di musim ini juga petaka menimpa Arief Kamaruddin setelah berbenturan dengan salah seorang pemain Persipura Jayapura yang mengakibatkan cedera lutut berkepanjangan. Hal itulah yang membuatnya langsung gantung sepatu.

1 kali Juara perserikatan, 2 kali Runner Up Liga Indonesia, 1 kali Juara Bangabandhu di Bangladesh, dan ikut di Piala Champion Asia, merupakan prestasi Arief Kamaruddin, Pesepakbola dari Mandar yang dimasa pensiunnya sempat melatih MFS (Mandar Football School) dan membawa PDAM Kabupaten Polman (tempat beliau bekerja) menjadi Runner Up Liga Pekerja Indonesia yang berlangsung di Jakarta 2018.

“Buat adik-adik yang ingin menjadi pemain profesional, salah satu kunci keberhasilan adalah kerja keras dan disiplin, dan begitu dikasi kesempatan pergunakan sebaik-baiknya karena kesempatan itu tidak akan datang dua kali,” tutupnya. (***)

Komentar

News Feed