oleh

Antara Rahmat Hasanuddin Dan Muhammad Hatta

-Kolom-1.810 views

BEBERAPA waktu lalu saya mendapatkan hadiah buku dari salah satu tutor UT Majene, Gazaly Zakariya.

Buku Serial Tokoh Perjuangan Sulbar yakni Rahmat Hasanuddin: Kisah Panglima Tanpa Bintang dan buku satunya lagi berjudul Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin, MA: Akademisi dan Diplomat Dalam Pusaran Perjuangan.
Kedua buku tersebut ditulis Abdul Samad, memaparkan bagaimana peran kedua tokoh yang merupakan kakak beradik tersebut dalam perjuangan pemekaran Sulawesi Barat (Sulbar) sebagai Provinsi.

Untuk sosok sang kakak, Prof Basri, sudah saya tahu sejak dulu, karena pernah menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Indonesia (Menko Kesra dan Taskin) di era Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur).
Namun sosok Rahmat Hasanuddin baru saya tahu setelah membaca buku biografinya.

Dari judul bukunya saja, Rahmat Hasanuddin: Panglima Tanpa Bintang, sudah membuat saya penasaran ingin segera membacanya. Kisahnya dalam perjuangan pemekaran Sulbar membuat saya begitu kagum akan sosok ini.

Walaupun menjadi penggagas sekaligus ketua KAPP Sulbar yang memainkan peran strategis dalam perjuangan pemekaran Sulbar, namun beliau tak ingin menonjolkan diri sebagai tokoh penting dalam pemekaran tersebut. Namun sebaliknya, menganggap keberhasilan perjuangan pemekaran Sulbar karena banyaknya dukungan tokoh Mandar lainnya, baik kalangan Birokrat, politisi hingga wartawan.

Membaca kisah ini saya jadi teringat sosok dan peran Muhammad Hatta (Bung Hatta) ketika menjadi Wakil Presiden, di awal kemerdekaan Indonesia. Perannya terhadap penyatuan NKRI begitu besar, namun lebih memilih berada di belakang Bung Karno, sebagai tokoh sentral kala itu yang juga merupakan Presiden.

Dalam salah satu diskusi dengan Direktur UT Ambon, Dr. Joko Rizkie Widokarti, beliau mengisahkan tentang sosok Bung Hatta yang juga menjadi idolanya. Selain doktor Manajemen Joko juga penggiat sejarah. Sehingga saya banyak mendapatkan kisah sejarah darinya. Antara lain tentang Bung Hatta.

Antara tanggal 29 Januari 1948 sampai 4 Agutus 1949 Bung Hatta memegang tiga jabatan strategis sekaligus, yaitu; Wakil Presiden; Perdana Menteri; dan merangkap Menteri Pertahanan. Jika ingin mementingkan kepentingan pribadinya, tiga jabatan tersebut bisa menjadi modal baginya untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. Kabinet dan Tentara dibawah kendalinya, tentu mudah dikerahkan sesuai keinginannya. Namun tidak terpikir sedikitpun di benak Bung Hatta.

Bung Hatta justru sangat resah dengan situasi politik yang sangat genting, dimana laskar-laskar bersenjata yang berafiliasi dengan berbagai ideologi lebih sering bentrok satu sama lain ketimbang bersiap menghadapi Belanda di garis demarkasi.

Di satu sisi Belanda sedang berupaya menjajah kembali Indonesia, di sisi lain banyak faksi dalam tubuh tentara yang selalu melakukan pemberontakan. Hatta tak ingin menghadapinya sekaligus. Risikonya sangat besar, karena berkaitan keutuhan dan persatuan Indonesia yang baru seumur jagung saat itu.

Akhirnya, berkat kepiawaian kepemimpinan Hatta melalui tiga jabatan rangkapnya dan didukung mobillitas, kecakapan, dan disiplin tinggi Pasukan Legendaris Divisi Siliwangi yang kelak juga mendapat julukan “Toekang Poekoel Hatta”, akhirnya Bung Hatta bisa melibas FDR terlebih dahulu (Peristiwa Madiun) sebelum akhirnya Belanda melancarkan agresi keduanya.
Itulah salah satu kisah Bung Hatta, tokoh pejuang bangsa yang selalu mementingkan keutuhan negara dibandingkan dengan ambisi pribadi.

Sama halnya saat saya membaca buku biografi Rahmat Hasanuddin, saya dapatkan sosok yang lebih mementingkan persatuan dalam berjuang bersama-sama untuk mewujudkan cita-cita masyarakat Mandar membentuk provinsi sendiri.
Maka benarlah julukan yang disandangnya, yakni Panglima Tanpa Bintang. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus di Bumi Mandar. (***)

Komentar

News Feed