oleh

Angka Kekerasan Perempuan-Anak Masih Tinggi

MAMUJU – Pemkab Mamuju masih harus bekerja keras untuk menciptakan kondisi aman dan nyaman bagi perempuan dan anak.

Terutama dalam kawasan kota Mamuju, angka kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak terbilang tinggi. Dari 23 kasus sepanjang tahun 2019, sebanyak 13 di antaranya terjadi di kota Mamuju, Kecamatan Mamuju.

Dari 13 kasus tersebut, empat kasus kekerasan terhadap perempuan. Satu pidana umum dan tiga kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sembilannya kasus anak.

Kecamatan Kalukku juga terbilang rawan, terdapat satu kasus perempuan dan lima kasus anak di kecamatan tersebut.

Sedangkan Kecamatan Simboro, Tapalang, Tapalang Barat dan Sampaga, masing-masing satu kasus kekerasan pada anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Mamuju, Sahari Bulan mengatakan, kasus-kasus tersebut sudah ada yang selesai dengan mediasi dan ada beberapa yang masih berproses di Pengadilan Negeri (PN) Mamuju.

Menurut Sahari, masalah rumah tangga yang melibatkan perempuan seperti hadirnya orang ketiga, biasanya masih bisa diselesaikan dengan mediasi. Namun, kasus kekerasan terhadap anak, mutlak diproses hukum.

“Tidak bisa dimediasi karena menyangkut pasal perlindungan anak dan kekerasan terhadap anak,” sebut Sahari Rabu (5/2).

Termasuk kasus-kasus pelecehan anak, juga terus berlanjut. “Kasus paling baru di Kecamatan Tapalang. Saat ini sedang berproses di Polresta Mamuju,” tambah Sahari.

Kepala Bidang Pencegahan KDRT DP3A Mamuju, Asmini, mengaku akan terus mensosialisasikan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Terutama di kecamatan Mamuju dan Kalukku yang merupakan kecamatan dengan angka tertinggi kasus kekerasan perempuan dan anak tahun 2019, dari 11 kecamatan di Mamuju.

Ditanya soal pemicu utama lahirnya kekerasan terhadap perempuan dan anak, Asmini menjawab, masih dominan pada persoalan ekonomi. (m2/jsm)

Komentar

News Feed