oleh

Angka Covid-19 Melandai, Tak Boleh Santai

DUA pekan pasca Idul Fitri, angka penderita positif Covid-19 di Sulbar tak alami peningkatan drastis.

Laporan: Sudirman Samual

Kekhawatiran sejumlah pihak, adanya peningkatan kasus Covid-19 pasca Idul Fitri, tak terjadi. Hingga Jumat 28 Mei, jumlah pasien Covid-19 di Sulbar yang dirawat dua orang. Pasien dimaksud, merupakan warga dari Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).

Sementara, jumlah pasien yang tengah menjalani perawatan isolasi mandiri, sebanyak 24 orang. Jumlah ini tersebar di beberapa daerah, diantaranya di Kabupaten Mamasa empat orang, di Polewali Mandar lima orang, di Majene satu orang dan Mateng tiga orang. Dan yang terbanyak di Mamuju, yakni 11 orang.

Ini tak lepas dari upaya sejumlah pihak, untuk terus menekan angka penyebaran Corona Virus Disease 19 (Covid-19) di provinsi ke-33 Indonesia ini. Mulai dari pengetatan perbatasan saat musim mudik, pelaksanaan protokol kesehatan, hingga peningkatan jumlah warga yang mengikuti vaksinasi.

“Kita terus mengejar pencapaian target vaksinasi. Dengan memenuhi target itu, kita berharap agar kekebalan komunitas terjadi dan angka penyebaran Covid-19 di Sulbar makin menurun,” terang juru bicara Covid-19 Sulbar, Saparuddin SDM, kepada Radar Sulbar beberapa waktu lalu.

Vaksinasi ini memang menjadi tumpuan harapan. Sebab, mendorong munculnya kekebalan atau imunitas tubuh. Sehingga, virus yang awal kemunculannya menghebohkan Kota Wuhan China itu tak menyebar secara massif.

Namun bukan itu saja. Pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) yang ketat pun harus tetap dipatuhi. Penggunaan masker, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin, hingga larangan berkerumun harus menjadi kebiasaan baru.

“Kita mengurangi rapat tatap muka, acara-acara seremoni dan upacara bagi ASN Pemprov Sulbar. Jika pun kegiatan-kegiatan itu harus digelar, maka jumlah peserta sangat dibatasi. Tentu ini semua sebagai upaya kita bersama dalam melawan penyebaran Covid-19,” terang Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulbar Muhammad Idris.

Menurunya perekonomian, menjadi salah satu hal yang paling dihindari. Teringat masa-masa awal virus ini menyerang Indonesia, perekonomian menjadi lumpuh.

Hal tersebut terjadi karena adanya kebijakan stay at home dan work from home. Hal tersebut tak terhindarkan, sebab virus itu menyebar dengan cepat.

Sementara pemerintah belum menemukan secara pasti cara menghindar darinya. Petugas medis pun kewalahan, dengan terus berdatangannya pasien penderita corona ke rumah sakit.

Namun dengan kebijakan ‘new normal’, dimana semua aktivitas warga dapat kembali seperti sedia kala, tetap diingatkan adanya kebiasaan baru. Yakni dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat, ditambah keikutsertaan dalam vaksinasi.

“Tentu kita tidak ingin pemerintah kembali memberlakukan kebijakan seperti di awal-awal Covid-19. Olehnya, kepatuhan masyarakat sangat penting, guna mencegah agar tidak terjadi lonjakan angka penderita positif Covid,” sambung Saparuddin.

Usai Lebaran, Pilih Liburan

H+2 idul Fitri, sejumlah warga memadati tempat-tempat wisata. Itu juga memantik kekhawatiran terjadinya lonjakan angka penderita Covid-19 di Sulbar.

Sejumlah spot wisata di provinsi ke-33 Indonesia ini ramai pengunjung. Utamanya wisata pantai. Spot-spot wisata pantai andalan di masing-masing kabupaten pun disesaki pengunjung.
Seperti di wisata Pantai Tanjung Ngalo, yang terletak di Desa Dungkait Kecamatan Tapalang Barat, Mamuju. Pasca lebaran ini, tempat wisata tersebut nampak lebih ramai dibanding hari biasanya.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang pengelola wisata Pantai Ngalo, Sulkifli. Ia mengatakan, tiga hari pasca lebaran, sekira 400 pengunjung datang berlibur di pantai berpasir putih itu.

“Biasanya kalau libur akhir pekan, cuma 50 sampai 70 pengunjung. Lebaran tahun ini sudah mulai ramai lagi,” kata Sulkifli saat ditemui di lokasi wisata, Minggu 16 Mei.

Pengunjung bukan hanya dari Mamuju. Ada beberapa pengunjung datang dari kabupaten lain seperti, Polman, Mateng dan Majene. “Mereka biasanya datang untuk berenang, berfoto dan makan-makan bersama keluarga,” ujar Sulkifli.

Untuk masuk ke area wisata, pengunjung hanya perlu membayar tiket Rp 2 ribu per orang dan parkir kendaraan Rp 2 sampai Rp 5 ribu. Di dalam wisata tersebut, terdapat gazebo, toilet, panggung hiburan dan beberapa warung makan milik warga sekitar.

“Tentunya kalau ramai seperti sekarang, ini membawa keuntungan juga untuk warga sekitar. Warga bisa mendapat penghasilan dari berjualan di area wisata,” ungkap Sulkifli.

Seorang pengunjung dari Majene, Haris mengaku baru pertama kali mengunjungi wisata Pantai Tanjung Ngalo. Menurutnya, wisata tersebut sangat menarik dikunjungi. Selain menawarkan panorama pantai dengan pasir putih, suasana di sekitar wisata juga sejuk karena banyak pepohonan rindang.

“Pantainya bersih, tempatnya juga nyaman untuk liburan keluarga, dan akses untuk ke lokasi wisata juga bagus,” ujar Haris.

Hanya saja, Haris menyarankan agar pengelola wisata bisa lebih aktif dalam penerapan protokol kesehatan. Mengingat kondisi pandemi yang belum berakhir dan banyaknya pengunjung yang berdatangan.

“Saya rasa potensi wisata ini sangat banyak, hanya perlu dikelola dan ditata dengan baik lagi,” tandasnya.
Beruntung saja, hari-hari pasca Idul Fitri, laporan data New All Record (NAR) Satgas Covid yang dibagikan di media sosial memperlihatkan sering zero corona.

“Tapi kita tidak boleh santai, harus tetap mawas diri dan menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Bukan berarti saat ini kita sudah bisa bebas, karena corona masih menghantui,” ucap Saparuddin yang kini menjabat kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sulbar. (***)

Komentar

News Feed