oleh

Akankah Covid Berlalu?

-Opini-1.530 views

MENELISIK berbagai program pemerintah dalam penanganan kasus wabah Covid-19, nampaknya belum menunjukan tanda-tanda keberhasilan.

Oleh: Rima Septiani, S. Pd.
- Freelance Writer

Wabah semakin mengganas tiap hari. Korban jiwa terus saja bertambah, tidak ada hentinya. Data perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia, Jumat 9 Juli, kasus positif Covid-19 bertambah dari 38.124 menjadi 2.455.912 kasus. Pasien sembuh bertambah dari 28.975 menjadi 2.023.548 orang. Pasien meninggal bertambah dari 871 menjadi 64.631 orang.

Sementara pada bulan lalu, Rabu 30 Juni, kasus positif Covid-19 tercatat dari 21.807 menjadi 2.178.272 kasus. Pasien sembuh bertambah dari 10.807 menjadi 1.880.413 orang. Pasien meninggal bertambah dari 467 menjadi 58.491 orang.

Dari sajian data tersebut, kita bisa melihat bahwasanya kasus positif Covid-19 bulan ini terus mencetak rekor baru. Angka kematian makin tinggi. Begitu pula angka pasien meninggal. Jumlah pasien sembuh juga terus meningkat di antara tingginya kasus positif dan kematian.

Setelah kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dinilai tidak efektif, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru berupa PPKM Mikro selama dua pekan. Yaitu mulai dari 22 Juni sampai 5 Juli 2021. Dengan harapan, menekan laju penyebaran Covid -19.

Kebijakan ini diperbarui dengan PPKM Darurat yang berlaku mulai 3 Juli sampai 20 Juli 2021, khusus wilayah Jawa dan Bali. Kebijakan ini diambil akibat lonjakan corona yang makin cepat imbas varian baru, dan diklaim akan mampu menekan kasus corona di bawah 10.000 kasus.

Dikatakan, penetapan PPKM Darurat ini seyogyanya lebih ketat dibandingkan PPKM sebelumnya. Selain memperketat pengawasan, juga disertai pemberian sanksi oleh petugas kepolisian kepada masyarakat yang melanggar.

Tak dipungkiri, kasus Covid-19 memang benar-benar makin tak terkendali. Munculnya varian baru tak terduga, sebagai akibat kecolongan pemerintah mengontrol mobilitas masyarakat yang tak patuhi prokes dalam melakukan aktivitas di luar rumah. Hal ini diperparah dengan keluar masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) dan gerbong pariwisata masih saja dilonggarkan saat lonjakan pandemi kedua ini.

Komentar

News Feed