oleh

Adrian

ANAK itu hanya tergolek di pembaringan. Di atas sebuah balai-balai yang sekaligus menjadi tempat tidurnya. Di tenda darurat di lokasi pengungsian penyintas lindu. Kondisinya memprihatinkan.

Namanya Adrian. Usianya 16 tahun, sudah tergolong remaja.

Adrian

Namun, sejak setahun terakhir ia hanya tergolek di pembaringan lantaran sakit.

Sepintas seperti lumpuh layu. Sekujur tubuhnya seolah hanya tulang terbungkus kulit. Sedangkan perutnya membuncit.

Kedua orang tuanya, Talib-Surya, warga Desa Totolisi, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, mengatakan tidak mengetahui penyakit yang diderita Adrian.

Keduanya mengaku pasrah dengan kondisi anaknya itu.

Diduga lantaran banyak terlentang di pembaringan, di bagian punggung Adrian terjadi iritasi.

Mengurangi keluhan rasa pedis akibat iritatasi, Surya hanya mengandalkan salep. Dioleskan pada bagian yang iritasi. Sang ibu mengalasi juga pembaringan Adrian menggunakan daun pisang.

“Hanya itu yang bisa kami lakukan,” katanya, pasrah. Karena fisiknya yang lemah, untuk sekedar bergerak di pembaringan pun Adrian harus dibantu orang lain.

Adrian

Talib menuturkan kondisi yang diderita Adrian, pertama saat berusia enam tahun. “Mulanya setelah terjatuh saat bermain hujan-hujanan,” jelasnya, Ahad 21 Februari.

Katanya, seminggu setelah terjatuh, Adrian sakit sampai menderita lumpuh. Kondisi Adrian kembali membaik setelah dilakukan perawatan. Bahkan kembali bersekolah seperti anak-anak yang lainnya.

Namun, setelah tujuh tahun, tetiba sakit lagi. Hingga kondisinya seperti sekarang, sudah setahun.

Sejak menderita sakit kedua kalinya, Talib berpikir membawa Adrian ke dokter atau rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan.

Ia berdalih takut, jangan sampai anaknya divonis menderita korona. Apalagi, suhu badannya kerap panas. “Kami tidak punya uang juga untuk biaya rumah sakit,” tukas pria yang bekerja sebagai petani.

Pascagempa 6,2 magnitude di Majene dan Mamuju 15 Januari lalu, kedua orang tua Adrian dan belasan warga Desa Totolisi, masih bertahan di tenda pengungsian. Belum berani kembali ke rumahnya karena masih trauma gempa.

Talib sudah berpikir rencana kembali ke rumahnya jika kondisi pascagempa sudah lebih baik. Tapi, Adrian menolak karena trauma dan ketakutan.

“Sudah pernah kita mau kembali ke rumah, tapi anak ini tidak mau. Dia takut, tidak bisa tidur,” ungkapnya.

Semoga ada pihak yang peduli terhadap Adrian. Peduli juga terhadap warga yang tetap bertahan di tenda dengan alasan takut gempa masih akan terjadi.

Kepada mereka, perlu edukasi untuk meyakinkan sekaligus menyemangati.

Untuk kembali beraktifitas seperti sebelum gempa. Tentu juga, tidak melupakan pesan tetap waspada (***)

Komentar

News Feed