oleh

Abrasi Masih Jadi Soal di Balabalakang

MAMUJU – Abrasi di Kecamatan Kepulauan Balabalakang masih menjadi soal. Pemukiman warga terus terancam.

Kepala Desa Balabalakang Timur, Mahmud Idrus mengatakan, setiap tahun ada kenaikan permukaan air laut. Abrasi sudah menjadi pokok permasalahan di sana dan meresahkan warga.

Idrus mengaku, warga dan pemerintah desa tidak pernah bosan menyuarakan keresahan itu. Pemkab harus mencarikan solusi bagaimana menangani abrasi.

“Permintaan warga selalu adalah batu gajah untuk disusun di sepanjang pulau yang terkena abrasi. Kami selalu sampaikan ke provinsi dan kabupaten. Kami tidak minta tanggul yang biayanya sangat besar,” kata Idrus, saat dihubungi Jumat 24 Januari.

Idrus menyebut, tampaknya Pemkab Mamuju tahun mulai serius menyelesaikan permasalahan di Balabalakang. Tahun lalu, Idrus sudah melihat rencana pembangunan pencegahan abrasi di Balabalakang yang dirancang Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bappepan) Mamuju. “Sudah ada draft gambarnya. Mudah-mudaha itu bisa terwujud,”jelasnya.

Bupati Mamuju, Habsi Wahid menyatakan, draft ajuan pengusulan penanganan abrasi di Balabalakang tahun 2019 telah diekspose Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Mamuju di Pemprov Sulbar.

Pengusulan draft tersebut, kata Habsi, agar menjadi salah satu usulan prioritas yang dimasukkan dalam draf perencanaan dari provinsi ke pusat.

“Hasil kajian teknis bahwa pembuatan tanggul di tahun 2013 tidak bertahan lama. Dibutuhkan pemecah ombak dari batu gajah yang anggarannya sangat besar dan hanya dimungkinkan dibiayai dari APBN,” pungkas Habsi. (*m2/jsm)

Komentar

News Feed