oleh

2019 Gizi Buruk Meningkat

MAJENE – Angka penderita gizi buruk di Kabupaten Majene mengalami meningkatan pesat dalam dua tahun terakhir.

Hal itu terungkap dari daftar penderIta yang tercatat di Dinas Kesehatan Majene. Di kota pendidikan ini tercatat 35 kasus pada 2018 lalu. Sedangkan 2019 mencapai 58 kasus gizi buruk. Hanya saja kategori penderitanya kebanyakan yang masih bisa beraktivitas. “Belum masuk kategori klinis,” ucap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Majene Wirdaningsih, kemarin.

Ia menjelaskan, penderita gizi buruk pada 2018, menyebar dibeberapa wilayah. Satu kasus ditangani Puskesmas Banggae I, dan masing-masing dua kasus di PKM Totoli, Lembang, dan PKM Sendana I. Kemudian tujuh kasus masing-masing di PKM Sendana II dan Tammerodo. Di Malunda delapan kasus, dan PKM Ulumanda lima kasus. “Total penderita 35 kasus,” urai Wirda.

Tahun berikut, daerah ini dilanda Gizi Buruk sebanyak 58 kasus. Yakni 17 kasus di Puskesmas Ulumanda, 16 di Salutambung, dan PKM Malunda dengan Sendana II masing-masing menangani tujuh kasus. Lalu PKM Tammerodo lima kasus, Banggae I tiga kasus, Sendana I dua kasus, dan Totoli satu kasus. “Tahun lalu (2019,red) wilayah Pamboang dan Banggae II tidak ada penderita,” terangnya.

Langkah yang dilakukan Puskesmas, penderita diberikan makanan tambahan untuk memulihkan gizi buruk dalam tiga bulan. Besaran anggaran untuk penangan gizi buruk disetiap PKM, menurut Wirda pariatif, karena bergantung jumlah penderita. “Kalau gizi buruknya banyak maka anggaran juga tinggi, begitu pula sebaliknya,” papar dia.

Gizi buruk, sesungguhnya bisa dicegah sedini mungkin. Tapi itu hanya bisa terjadi jika masyarakat rajin membawa anaknya ke Posyandu. Sebab PKM bisa memantau pertumbuhan anak. “Anak itu tidak langsung kena gizi buruk, tetapi dimulai gizi kurang. Kalau adami indikasi gizi kurang petugas akan melakukan pendampingan, tapi permasalahannya disini ada penduduk yang berpindah-pindah sehingga pengawasnya tidak maksimal. Nantipi berkasus baru pindah ke Majene,” ujar Kabid Kesmas.

Ia menyebut, beberapa penderita gizi buruk justru pergi ke Tappalang dan Kalimantan. Orangtuanya sering kesana sehingga petugas kesulitan lakukan pendampingan dengan baik. Selama diluar daerah mereka tidak melaporkan perkembangan sang anak. “Nanti dilaporkan setelah mereka masuk RSUD,” keluhnya. (r2/kdr)

Komentar

News Feed