oleh

Sulbar bangkit bersama relawan, Prof Kartini “Ada Berkah Dibalik Bencana”

MAMUJU — 9 hari pasca gempa bumi di Sulbar yang bermagnitudo 6,2 SR, jumlah relawan  telah mencapai 112 lembaga dengan jumlah personil sekitar 1.928 orang.

Para relawan  menyasar berbagai sektor dalam penanganan gempa diantaranya pencarian/pertolongan, air bersih, sanitasi, komunikasi, dapur umum/logistic, pemetaan, shelter serta kesehatan.

Menurut koordinator relawan Sulbar, Prof Dr. Kartini Hanapi Idris, bahwa relawan telah melakukan  assesment  terkait dengan sasaran sektor yang akan mereka ekseskusi lalu kemudian bersama rekan-rekannya melaksanakan kerja sosial di lapangan sesuai dengan bidang keahlian para relawan.

“Saat ini kita punya relawan yang  berasal dari berbagai organisasi. Dengan jumlah personil  hampir dua ribu orang. Hari kedua pasca gempa, satu persatu organisasi relawan sudah merapat ke Sulawesi Barat. Mamuju  sebagai posko induk.  Sasaran mereka  variarif tergantung lembaganya. Misalnya Save the children mereka focus ke trauma healing untuk anak-anak. EMT IDI pusat yang langsung menyasar pelayanan kesehatan bagi warga terdampak dan masih banyak lagi. Pada dasarnya kita bersyukur ada relawan yang memiliki jiwa sosial untuk membantu penanganan gempa di Sulawesi Barat,” ujarnya

Setelah mendapatkan penunjukan dari Deputi Pencegahan BNPB sebagai koordinator relawan Sulbar, istri Sekprov ini,  langsung mengkoordinir para relawan serta menjadwalkan secara rutin pelaksanaan evaluasi giat relawan setiap hari, pukul 16.00 wita di tenda relawan yang bertempat di jalan depan rumah jabatan wakil ketua DPRD Sulawesi Barat.

Walaupun dengan kondisi yang sempat shock akibat gempa pada dini hari Jumat (15/1),  selaku koordinator, guru besar Unhas ini berkeyakinan bahwa Sulawesi Barat bisa bangkit segera bahkan menilai bahwa  ada keberkahan yang bisa diperoleh dengan kehadiran relawan   di Sulawesi Barat.

“Ketika kita mampu mengelola dan memanfaat sumber daya para relawan dengan maksimal maka sungguh ini sebuah keberkahan bagi Sulawesi Barat. Khususnya Mamuju dan Majene. Mengapa? karena, di beberapa posko pengungsian itu telah tersedia tenda sekolah. Nah disana nanti anak-anak tidak hanya sekedar bermain tapi mereka dapat memperoleh edukasi dari relawan yang profesional, khususnya pendidikan karakter. Anak-anak bisa diajar tentang tanggung jawab, kejujuran, bersosialisasi serta kerja tim. Edukasi seperti ini kecil kemungkinannya didapat oleh anak-anak di kondisi yang normal dan formal. Tapi ketika rehabilitasi dilakukan dan dibarengi dengan edukasi seperti ini, maka pastinya proses tersebut dapat mengembangkan karakter anak-anak untuk bisa cepat pulih dan bangkit lalu menjadi modal bagi masa depan mereka”, tambahnya. (ian)

Komentar

News Feed