oleh

Penjarahan saat Bencana dan Kegagalan Komunikasi Kita

-Opini-1.845 views

DALAM setiap terjadinya bencana alam terutama di negara-negara yang warganya masih menyakini kebenaran agama, akan memandang bahwa bencana itu adalah bagian dari cara Tuhannya memberikan peringatan.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

Mereka yakin bahwa bencana itu tidak dapat dipandang sebagai azab semata, tetapi bisa menjadi sarana untuk introspeksi diri. Membaca atau meninjau kembali atas perilaku diri sendiri, perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan yang pernah dilakukan selama ini. Apakah yang selama ini dilakukan sudah benar, baik benar berdasarkan nilai-nilai agama, maupun atas dasar hukum yang berlaku.

Sejauh mana kita memahami dan mengamalkan agama? Adakah kita telah melenceng dari ajaran agama? Bagaimana kita menjadikan agama sebagai rule of law dalam segala sisi kehidupan ini? Atau bahkan memandang agama tidak perlu sama sekali, dalam konteks apapun dalam kehidupannya. Termasuk dalam konteks politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Tak jarang terdengar pandangan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, jika terjadi bencana alam, adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri. Perbuatan yang cenderung berpaling dari nilai-nilai keagamaan.

Bertobat Setelah Bencana

Bagi sebagian orang yang memandang bahwa bencana adalah ujian, akan berusaha untuk memperbaiki diri. Berusaha mewujudkan kehidupannya dengan mendasarkan segala bentuk tindakan atau perilaku tidak bertentangan lagi dengan nilai-nilai agama. Itulah sebabnya, jika ada musibah, pada umumnya seseorang atau warga masyarakat akan segera bertaubat. Misalnya ketika seseorang kehilangan orang tuanya, dia yang selama ini jarang salat, akan tiba-tiba salat. Bahkan akan pergi ke masjid salat berjamaah.

Yang selama ini suka bermain judi, miras atau maksiat lainnya, tiba-tiba akan berhenti, dan seterusnya. Dia sadar bahwa hidupnya di dunia ini tidak ada yang kekal, pada saatnya akan meninggalkan dunia ini pula. Bahwa tak lama setelah bencana itu berlalu, dia akan kembali “normal” seperti sedia kala, kembali kepada perilakunya semula sebelum terkena musibah adalah persoalan lingkungan dengan segala hal yang terkait di dalamnya. Beberapa kasus menunjukkan, mereka-mereka yang seperti ini, dapat dikategorikan sebagai taubat sambal. Berhenti saat pedis, minta lagi jika sudah merasa perlu.

Masyarakat Indonesia termasuk warga yang berada di kawasan yang terkena bencana alam, misalnya di Sulawesi Barat, Palu, Aceh dan lain-lain adalah masyarakat yang beragama. Mereka tahu bahwa musibah adalah peringatan Tuhan. Pada saat-saat seperti ini, keinginan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, itu sangat rendah, sebaliknya mereka ingin melaksanakan perintah-perintah agama dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada saat terjadi musibah, semua mengucapkan “innalillahi wainna ilaihi rajiun”. Semua ini adalah milik-Nya dan semua akan kembali kepada-Nya.

Tetapi mengapa dalam beberapa musibah yang melanda negeri ini, sering kali terdengar terjadinya perbuatan yang tidak baik dilakukan oleh warga yang terkena musibah tersebut? Katakanlah misalnya, mengapa mereka sering melakukan penjarahan barang-barang bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak yang sebenarnya ditujukan untuk membantu mereka? Tentu kita menyesalkan adanya kejadian seperti adanya warga yang memaksa merampas barang-barang bantuan, bahkan dengan mengancam jiwa para relawan? Bukan hanya yang terjadi di sini kemarin. Pada saat gempa bumi di Palu, Aceh dan daerah lainnya beberapa waktu lalu pun pernah terdengar ada pihak yang melakukan penjarahan.

Mengapa ini bisa terjadi? Harus juga dipahami bahwa mereka yang terkena musibah, cenderung panik dan tingkat emosinya lebih tinggi. Pada saat tertentu, terdapat orang yang kena musibah, mengalami ketidaktenangan jasmani dan rohani. Dalam kegalauan dan ketidaktenangan jiwa, Mereka bisa menjadi seperti rumput yang kering. Sekali disulut dengan api, bisa langsung menyala. Demikian pula tingkat keberanian mereka untuk melakukan sesuatu, pun meningkat. Hanya saja keberanian tersebut kadang bukan pada tempatnya. Bahkan cenderung masuk dalam kategori melanggar hukum. Di sinilah pentingnya pendampingan terhadap korban bencana. Bantuan kepada mereka tidak hanya sebatas barang-barang kebutuhan pokok, atau mengobati mereka yang menderita sakit, pun harus ada yang menjaga dan mencerahkan jiwa mereka.

Kegagalan Komunikasi

Dalam pandangan saya, kecenderungan masyarakat yang melakukan tindakan demikian itu, tidak berdiri sendiri. Kita semua, aparat pemerintah, politisi, cendekiawan, tokoh masyarakat, memiliki andil dalam hal ini. Pada saat tertentu, membiarkan mereka hidup tanpa pendampingan. Dibiarkan menderita tanpa pemimpin formal. Terutama tidak ada pihak yang dapat melakukan komunikasi yang efektif dengan mereka. Belum adanya saat itu pemimpin yang datang menjaga dan mencerahkan jiwa mereka.

Katakanlah misalnya tentang bantuan yang menumpuk di gudang atau rumah pejabat. Demikian pula iring-iringan mobil yang membawa berbagai bantuan yang melewati desa atau pemukiman mereka. Untuk siapa bantuan itu? Mengapa bantuan disimpan saja dalam gudang? Kapan mereka mendapat bantuan? Kemana mereka akan bertanya? Mengapa bantuan tidak merata dan terjadinya diskriminasi pada saat pembagian atas dasar jabatan atau status sosial, misalnya. Dan berbagai persoalan lainnya, mereka tidak mendapatkan jawaban yang membuat mereka paham. Belum lagi dengan adanya persyaratan-persyaratan yang harus disiapkan untuk mendapat bantuan.

Di sinilah letak kegagalan berkomunikasi dalam situasi bencana. Siapa yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka? Pemerintah? Pemerintah yang mana: Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informasi, Kepala Humas, Camat, atau siapa? Apakah masyarakat bisa berkomunikasi dengan mereka? Jika bisa, bagaimana respon para aparat tersebut? Langsung menanggapi dengan baik lalu menindaklanjutinya secara proporsional, ataukah bagaimana? Faktor lain yang mesti diperhatikan dalam berkomunikasi dengan masyarakat pada saat bencana adalah tingkat kredibilitas dan kompetensi aparat yang bersangkutan. Wallahu’alam.

Wassalam
Gwynneville, 20 Januari 2021
Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Komentar

News Feed