oleh

Polman Harus Berbenah

-Opini-1.866 views

KABUPATEN Polewali Mandar (Polman) terus memperlihatkan progres positif dalam pembangunan. Beberapa indikator penting pembangunan memperlihatkan, Polman terus berusaha berbenah.

Oleh: Dwi Ardian, S.Tr.Stat, S.E., (Statistisi asal Polman)

Sayangnya, upaya itu terkesan berjalan di tempat dan sangat kesulitan mengejar ketertinggalan. Indikator terbaru yang bisa dilihat adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

IPM Polman masih setia dengan posisi paling buncit di Sulbar. Pertumbuhan IPM hanya mencapai 0,16 persen atau capaian hanya 63,84 pada tahun 2020. Kalah jauh dengan capaian Mamuju Tengah (65,71) sebagai kabupaten termuda.

Saat ini, IPM tertinggi di Sulbar adalah Mamuju (68,15), kemudian disusul Pasangkayu (67,79) dan Majene (66,91). Posisi terbawah setelah Polman adalah Mateng dan Mamasa (66,02).

Capaian IPM ini memperlihatkan, pemerintah telah melakukan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) pada sektor kesehatan, pendidikan, dan perekonomian.

Kesehatan diwakili oleh usia harapan hidup (UHH), pendidikan diwakili oeh rata-rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS), serta perekonomian diwakili oleh pengeluaran per kapita penduduk yang disesuaikan.

Penyebab Polman Terbawah

IPM Polman yang terendah di Sulbar disebabkan ketiga faktor di atas yang juga masih sangat rendah. UHH Polman hanya mencapai 62,36 pada tahun 2020, jauh di bawah Mamasa yang mencapai 70,87 tahun. Hal yang memperlihatkan bahwa setiap anak yang lahir di tahun 2020 hanya diharapkan hidup sampai usia 62 tahun. Penghitungan UHH diperoleh dari rata-rata usia penduduk berdasarkan jumlah penduduk hasil proyeksi. Semakin besar angka kematian usia muda maka nilainya semakin kecil. Kematian bayi masih sangat besar di Polman, mencapai 76 bayi pada 2019 saja.

UHH rendah mengindikasikan kondisi kesehatan yang kurang bagus di masyarakat. Kondisi kesehatan kurang baik, sangat dipengaruhi oleh fasilitas kesehatan yang tersedia serta sumber air minum masyarakat. Puskesmas pembantu saja yang diharapkan ada di setiap desa jumlahnya hanya mencapai 61 pada 2019, padahal jumlah desa mencapai 167. Kemudian sumber air minum pernah menempatkan Polman sebagai salah satu daerah dengan sumber air minum dengan kualitas terendah di Indonesia.

Penyebab selanjutnya adalah faktor pendidikan. RLS di Polman hanya mencapai 7,41 pada 2020, disalip oleh Mamasa (7,65) dan Mamuju Tengah (7,46) yang tahun lalu masih terendah (7,37 dan 7,24).
RLS mengindikasikan bahwa penduduk usia 25 tahun ke atas rata-rata hanya mampu sekolah sampai kelas 2 SMP saja.

Faktor lainnya adalah ekonomi. Pengeluaran masyarakat per kapita yang disesuaikan di Polman hanya mencapai 8,58 juta per tahun. Jauh di bawah Pasangkayu (11,11 juta) dan Majene (10,06 juta). Pengeluaran yang rendah berkaitan erat dengan pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah inilah yang membuat kemiskinan begitu tinggi di Polman.

Kemiskinan di Polman mencapai 15,60 persen atau setara dengan 68,86 ribu penduduk. Angka itu merupakan yang tertinggi di Sulbar, baik dari segi jumlah maupun dari sisi persentase. Kemiskinan terendah ada di Pasangkayu dan Mamuju Tengah dengan 4,28 persen atau 7,42 ribu orang dan 6,87 persen atau 9,16 ribu orang.

Memasuki usia 61 tahun Polman tahun ini, harus menjadi momen untuk kembali mengevaluasi dengan sungguh-sungguh, apa sebenarnya yang telah terjadi serta apa yang telah kita lakukan. Jangan sampai kita hanyut berpesta untuk sekedar perayaan. Terus perayaan untuk apa? Perayaan atas ketertinggalan kita?!

Polman dipenuhi dengan orang-orang pintar yang seharusnya menjadi potensi terbesar membangun daerah kita. Sumber daya alam juga tidak kalah dengan daerah lain, bahkan jauh lebih baik. Mari berbenah bersama! (***)

Komentar

News Feed